DI PAPUA, JOKOWI KEMBALI BUKTIKAN KECINTAANNYA PADA RAKYAT

Oleh: Ade Armando

Saya semakin kagum dengan Jokowi. Saya nggak peduli orang mau bilang apa. Saya mau dibilang cebong, Jokower, buzzer, penjilat Jokowi, apalah. Go ahead. Atau kata orang Amerika: Frankly my dear, I don’t give a damn.

Karena, terus terang saja saya merasa harus kembali mengungkapkan kebahagiaan, kekaguman dan rasa syukur saya terhadap Jokowi.

Lihat saja kehadirannya di Papua. Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua yang dihadiri Jokowi itu sendiri istimewa, karena untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, acara ini diselenggarakan di Papua.

Stadion Lukas Enembe yang dibangun untuk PON terlihat megah. Acara pembukaannya membuka kembali mata kita tentang kehebatan bangsa ini.

Memang tak semeriah pembukaan Asian Games 2018. Tapi ini kan bisa sangat dipahami. Asian Games itu acara berskala internasional bahkan global, sementara PON berskala nasional.

Lagipula saat ini, sehebat-hebatnya acara itu hendak dipersiapkan, tetap saja harus mengikuti segenap protokol kesehatan karena wabah Covid.

Yang hadir di stadion Lukas Enembe mungkin tak sampai 50 persen kapasitas sebenarnya. Tapi toh, setelah mengatakan itu, pembukaan PON di Papua itu tetap extravaganza. Pertunjukan kembang api di acara itu tak ada duanya.

Para atlet juga nampak hadir berparade dan menari dengan penuh rasa kebahagiaan dan persaudaraan. Keindahan Indonesia juga terpancar dari kumandang lagu-lagu yang dinyanyikan seniman papan atas kita, termasuk penyanyi idola saya, Tulus, Ruth Sahanaya dan Lea Simanjuntak.

Presiden Jokowi pun sempat meninggalkan kursi VIP-nya untuk bermain bola bersama anak-anak Papua.

Pidato sambutan Jokowi sendiri sangat menggetarkan.

“PON ini punya makna besar bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Presiden.

“PON ini adalah panggung persatuan, panggung kebersamaan, panggung persaudaraan,” katanya.

“PON ini adalah panggung kesetaraan dan panggung keadilan untuk maju bersama, sejahtera bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Jokowi dengan penuh kehangatan.

Selama di Papua, Jokowi bukan cuma menghadiri pembukaan PON. Presiden juga meresmikan rumah sakit, meresmikan bandara di wilayah ujung paling timur Indonesia, menyaksikan panen jagung, vaksinasi di Papua dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya tidak mungkin tidak bahagia menyaksikan ini semua. Bagi yang nyinyir, panggung PON mungkin akan disebut sebagai sekadar show. Tapi kalau ini sekadar show, show untuk apa?

Jokowi kan tidak lagi perlu membangun pencitraan dirinya. Dia toh tidak akan maju lagi dalam Pilpres 2024. Lagipula secara politik, seberapa signifikan sih rakyat Papua?

Selama ini rakyat Papua dianggap sebagai non-faktor dalam konstalasi politik Indonesia. Jadi kalaulah pemerintah saat ini serius menyelenggarakan acara PON sehebat ini, saya yakin ini karena Jokowi memang mencintai Papua.

Dan inilah yang membedakan Jokowi dari presiden-presiden sebelumnya. Jokowi itu peduli dengan ketertinggalan Papua dan ia berusaha menarik saudara-saudaranya yang masih berada di belakang ini untuk maju ke depan menyongsong kejayaan Indonesia.

Untuk berpuluh tahun Papua diabaikan oleh pemerintah Pusat. Data-data statistik menempatkan Provinsi Papua dan Papua Barat di urutan utama provinsi termiskin di Indonesia.

Papua kaya raya sebenarnya, tapi kekayaannya dikeruk untuk kepentingan bukan rakyat di sana. Kekayaan Papua dinikmati oleh wilayah-wilayah lain, terutama Jawa, atau bahkan Amerika Serikat. Rakyat Papua dibiarkan terbelakang.

Bahkan rasanyanya masih ada perasaan arogan di sebagian bangsa Indonesia yang menganggap rakyat Papua sebagai bukan kalangan yang berdiri sejajar dengan ras dan etnik yang lain.

Presiden Jokowi adalah pemimpin pertama yang mendobrak ini. Dalam dua periode kepemimpinannya, Jokowi memberi perhatian besar bagi Papua.

Sekadar ilustrasi sederhana adalah kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga.

Ini memang tidak hanya diterapkan di Papua. Kebijakan ini berlaku di seluruh Indonesia. Tapi Papua jalas adalah salah satu provinsi yang merasakan langsung manfaatnya.

Di masa lalu, harga satu liter BBM di Papua bisa mencapai Rp60 ribu atau bahkan Rp100 ribu di saat hujan, sementara di Jawa harganya bisa sepuluh kali lipat lebih rendah.

Kesenjangan harga ini sudah berlangsung lama. Dan Jokowi mengakhiri tragedi ini dengan membangun infrastruktur distribusi BBM yang memungkinkan harga ditekan.

Di masa Jokowi, berbagai program pembangunan infrastruktur dilakukan untuk mensejahterakan rakyat Papua.

Salah satu yang terbesar adalah proyek jalan trans Papua sepanjang lebih dari 4 ribu kilometer yang menghubungkan Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua

Pembangunan infrastruktur ini menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Papua, mengurangi kesenjangan pendapatan, serta mengurangi tingginya harga di masing-masing wilayah.

Pemerintah juga membangun jembatan Panjang Hamdani-Holtekamp, membangun bandara, membangun jalan perbatasan dengan Papua Nugini

Jokowi tahu bahwa di daerah seperti Papua dibutuhkan pembangunan infrastruktur penghubung yang mempermudah manusia dan barang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ini semua akan memangkas waktu tempuh dan diharapkan dapat menumbuhkan titik-titik perekonomian baru.

Pemerintah juga membangun infrastruktur kelistrikan di Papua dan Papua Barat, sehingga listrik tidak akan lagi dianggap sebagai kemewahan bagi rakyat Papua.

Tentu saja perjuangan membangun kesejahteraan Papua masih Panjang. Yang dilakukan Jokowi saat ini barulah membangun infrastruktur fisik. Yang belum sempat dilakukan adalah membangun infrastruktur sosial.

Luka lama yang tercipta akibat trauma penindasan dan eksploitasi selama berpuluh tahun belumlah sembuh. Kekerasan negara melalui operasi militer selama masa Orde Baru belum bisa sungguh-sungguh dilupakan.

Sampai saat ini masyarakat papua masih merasa dimarjinalisasikan. Setelah berpuluh tahun diabaikan, daya saing masyarakat Papua memang relatif rendah ketika harus berhadapan dengan kedatangan kaum migran dari wilayah-wilayah yang lebih maju.

Pembangunan infrastruktur kesehatan dan pendidikan pun masih tertinggal. Pembangunan SDM Papua ke depan adalah salah satu tantangan terbesar. Dan ini semua harus dilakukan di bawah ancaman yang datang dari kelompok-kelompok pemberontak yang ingin agar Papua melepaskan diri dari Indonesia.

Hambatan terbesar lain adalah penyakit korupsi yang berurat-berakar yang dilakukan bahkan oleh putra-putra Papua sendiri.

Triliunan dana otonomi khusus yang setiap tahun dikucurkan tak sampai ke tangan rakyat Papua yang miskin. Uang itu dirampok para pejabat yang sama sekali tak peduli dengan kesejahteraan saudara-saudaranya.

Pembangunan Papua memang masih butuh proses Panjang. Tapi Jokowi sudah menunjukkan komitmen dan kecintaannya yang sungguh-sungguh. Jokowi sudah memulai dengan pembangunan infrastruktur yang luar biasa.

Di panggung PON dia sudah mengumandangkan semangat persatuan, kebersamaan, persaudaraan, kesetaraan, keadilan dan kesejahteraan bersama. Ini adalah pesan dari seorang negarawan yang harus kita gaungkan bersama ke seluruh negeri.

Papua adalah saudara kita dan mereka harus menikmati kesejahteraan yang sama dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

Mari kita terus dukung pembangunan Papua.

Komentar