MAU TAHU KENAPA PANCASILA ITU SAKTI?

Oleh: Denny Siregar

Pertanyaan yang sama di benak kita semua, sejak kapan isu PKI di era reformasi ini terus keluar setiap bulan September?

Ya, benar. Sesudah Jokowi terpilih jadi presiden di 2014. Mulailah gorengan-gorengan kalau Jokowi dan orang-orang di Istana adalah PKI. Bahkan keluarga Jokowi dan orangtuanya juga diisukan PKI. Jahat banget ya. Lucunya, isu itu tidak pernah keluar waktu SBY menjadi presiden selama 10 tahun.

Dulu tuh tenang-tenang aja, gak ada tuh yang ribut, semuanya kenyang pesta pora, bagi-bagi harta rampasan perang sesudah menang pemilihan. PKS masuk di kabinet selama 10 tahun, mereka sibuk beranak pinak di dalam BUMN dan menguasai posisi-posisi penting dari Pertamina sampai di Telkom.

Tidak ada yang sadar bahaya ini, kalau kelompok-kelompok radikal sengaja dipelihara dan dibiarkan berkembang untuk menguasai negara ini pelan-pelan dengan menguasai sistem negara. Sampai akhirnya Jokowi terpilih dan mulai melawan arus negatif yang selama ini menjadi budaya. Perhatikan aja, sejak Pemilu 2014 lalu, kita sebagai pemilih tidak lagi apatis dengan Pemilu. Bahkan kita banyak yang militan dan turun ke jalan untuk memenangkan pertarungan melawan kelompok yang membodohi masyarakat dengan slogan. “Katakan tidak!” padahal korupsi gila-gilaan.

Sesudah Pemilu 2014, negara kita diguncang terus menerus supaya terbakar. Tiba-tiba Jakarta, sebagai ibukota negara, dipenuhi banyak laki-laki yang berdaster, dan teriak-teriak penistaan agama. Dari mana mereka? Siapa mereka? Di mana mereka selama ini? Itu pertanyaan di kepala orang-orang yang kaget dan tidak siap untuk menghadapi situasi munculnya lautan massa yang mencampurkan politik dan agama, yang tiba-tiba mengepung Indonesia.

Harus saya katakan dengan jujur, ada kelompok-kelompok yang ingin kudeta, karena kenyamanan mereka selama ini pesta uang negara itu diganggu. Freeport dikembalikan, kartel pangan dihajar, Petral dibubarkan. Siapa yang gak marah coba? Lebih baik keluarkan uang sekian ratus miliar rupiah untuk gerakkan orang-orang bodoh yang berbaju agama, daripada mereka kehilangan periuk nasi senilai triliunan rupiah setiap bulannya.

Mungkin baru kali ini kita merasa benar-benar punya Presiden yang kita dukung total. Bukan karena sosoknya, tetapi karena visinya untuk Indonesia yang lebih maju. Saya sendiri merasa baru kali inilah saya benar-benar turun ke jalan untuk tujuan politik, hal yang selama puluhan tahun saya hindari karena politik itu, menurut saya, penuh dengan orang-orang munafik. Mungkin baru sejak 2014-lah saya bangga memamerkan kelingking saya yang biru kena tinta Pemilu, menandakan saya sudah memilih dan berharap pilihan saya itu benar dan menentukan nasib bangsa ini ke depan.

Saya sendiri ngeri membayangkan, apa yang terjadi di tahun sebelum tahun 1965 dulu, waktu politik itu begitu mengerikan. Salah dukung, bisa kena bantai. Itulah yang terjadi pada banyak orang lugu dan polos yang awalnya membela Partai Komunis Indonesia dengan harapan hidup mereka ke depan lebih baik. Kenapa banyak orang yang memilih PKI pada waktu itu?

Ya karena janjinya PKI itu yang akan mengubah hidup mereka, orang-orang susah, kalau ekonomi mereka akan meningkat kalau memilih Partai Komunis Indonesia. Orang-orang ini, yang banyak dari mereka itu adalah para petani, tidak sadar kalau komunisme itu adalah ideologi. Dan para petani polos dan lugu itu terjebak dalam pertarungan ideologi, perang global pada waktu itu antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Kalian sadar gak, ada kemiripan antara para petani yang dulu memilih menjadi bagian dari PKI dengan orang-orang polos yang sekarang yang dibodohi oleh para kelompok radikalis? Mereka sama-sama dijanjikan SURGA.

Cuma kalau dulu PKI menjanjikan hidup yang lebih sejahtera, kalau sekarang orang-orang itu dijanjikan kehidupan wah di alam sana yang penuh dengan selangkangan. Janji-janji manis mirip bisnis MLM inilah yang merusak pikiran banyak orang yang lugu dan polos, kalau hidup mereka pasti akan jauh lebih enak tanpa harus kerja keras, tanpa harus berkeringat, cukup memilih “kelompok saya” maka semua masalah akan tuntas. Kalau para pendukung Khilafah selalu slogan begini. “Khilafah adalah solusinya!”

Untung kita punya Pancasila. Sebuah pondasi negara yang membuat kita bisa menghargai banyak hal. Pancasila sudah menjabarkan bagaimana seharusnya sistem negara ini terbentuk, supaya kita gak terlalu ke kiri atau jadi komunis atau terlalu ke kanan menjadi negara agama. Pancasila adalah ideologi sendiri, tercipta sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa ini yang beragam, mulai dari suku, ras, dan agama, supaya kita bisa hidup berdampingan bersama-sama.

Bayangkan kalau tidak ada Pancasila, negeri ini bisa terombang-ambing ke kiri dan ke kanan, dan kita ada di tengah-tengah pertikaian seperti tahun 1965 lalu, di mana sesama anak bangsa akhirnya saling membunuh. Pancasila itulah tameng bernegara kita, sehingga kita masih bisa selamat sampai sekarang ini dibandingkan dengan banyak negara di Afrika dan Timur Tengah yang saling bertikai karena perebutan kekuasaan dan perebutan ideologi antar klan.

Karena itulah disebut bahwa Pancasila itu sakti. Karena yang mengusung ideologi ini adalah orang-orang sakti pada masanya, orang-orang visioner pada zamannya, yang mereka tidak punya misi lain selain bagaimana menyelamatkan anak cucunya kelak, yaitu kita, supaya bisa hidup lebih damai, aman dan, sentosa.

Tugas kita gampang, cuma menjaga warisan ini dari mereka yang ingin mengubahnya menjadi komunis, menjadi agamis, dan isme-isme lainnya. Karena kita sudah punya satu ideologi yang tidak boleh ditawar lagi.

Kalau setuju, kita seruput kopinya wahai kawan-kawan seperjuangan. Demi NKRI, demi anak cucu kita nanti. Pancasila sakti.

Komentar