MENJELANG 30 SEPTEMBER, GATOT NURMANTYO DAN “KAMI” KEMBALI BERAKSI

Oleh: Ade Armando

Seperti biasa, Gatot Nurmantyo dan kawan-kawan muncul kembali menjelang 30 September. Seperti biasa, Gatot mengingatkan soal ancaman kebangkitan kembali komunisme. Seperti biasa, isinya mengada-ada.

Tapi kan masalahnya, pernyataan dari seorang Gatot Nurmantyo tidak pernah boleh dianggap tak ada. Apa yang dilontarkannya didengar sebagian masyarakat Indonesia yang mendambakan tumbangnya pemerintahan Jokowi.

Ucapan Gatot didengar karena ia diimpikan pendukungnya sebagai panglima pasukan Islam yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis Syariah.

Kali ini Gatot bersama sohibnya, antara lain Din Syamsudin, dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), pada 22 September, berkirim surat kepada Presiden Jokowi. Di dalam suratnya Gatot menyatakan bahwa KAMI setiap September menyandang suasana kebatinan penuh keprihatinan dan trauma akan peristiwa-peristiwa makar PKI yang terjadi pada bulan ini.

Gatot meminta Presiden mengingat tentang kekejaman PKI pada Pemberontakan Madiun 18 September 1948 dan 30 September 1965. Pada 1948, kata Gatot, kaum Komunis membunuh para ulama, santri, dan rakyat yang tidak berdosa, hanya karena mereka tidak bersetuju dengan ideologi komunisme.

Kemudian pada 1965, PKI kembali melakukan makar dan kekejaman, dengan membunuh tujuh Jenderal TNI Angkatan Darat secara biadab.

Peristiwa makar dan kekejaman PKI pada 1948 dan 1965, lanjut Gatot, menoreh sejarah kelam, bahkan hitam dalam sejarah kebangsaan dan kenegaraan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Adalah jelas, kata Gatot, PKI dan Kaum Komunis ingin selalu merongrong Negara Pancasila, baik dengan upaya menggantikan Pancasila, maupun dengan memperjuangkan penafsiran dan pemerasan terhadap Pancasila, sehingga Pancasila kehilangan esensinya.

Setelah membangkitkan kenangan terhadap sejarah silam itu, Gatot membangun narasi tentang kebangkitan kembali PKI saat ini.

Menurut Gatot, KAMI merasa prihatin dengan gejala dan gelagat kebangkitan neo komunisme dan PKI Gaya Baru. Dengan yakin Gatot menyatakan: gejala kebangkitan neo komunisme itu bukan merupakan mitos atau fiksi, tapi sudah menjadi bukti.

Anak-cucu Kaum Komunis, kata Gatot, ternyata sudah menyelusup ke dalam lingkaran-lingkaran legislatif maupun eksekutif.

Kata Gatot, sebagian mereka sudah berani memutarbalikkan sejarah, dengan menyatakan bahwa PKI adalah korban, sementara umat Islam adalah pelaku pelanggaran HAM berat terhadap orang-orang PKI. Mereka, kata Gatot, juga ingin mengingkari fakta sejarah bahwa kaum Komunislah yang membantai para Jenderal TNI.

Bahkan, kata Gatot, sebagian dari anak-cucu PKI itu sudah berani secara demonstratif meneriakkan kebanggaan menjadi Anak PKI.

Setelah itu Gatot tiba-tiba menyatakan bahwa saat ini terjadi upaya adu domba sesama warga masyarakat, khususnya sesama Umat Islam dan antar-umat beragama, penyandungan (bullying) hingga pembunuhan karakter (character assasination) terhadap lawan politik yang pada dasarnya merupakan cara-cara kaum Komunis, yang juga pernah dilakukan pada masa lampau menjelang makar atau pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965.

Gatot kemudian juga menyatakan bahwa adanya RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila/RUU HIP, dan usulan baru RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila/RUU BPIP adalah upaya merendahkan, meremehkan, menyelewengkan, dan menyalahgunakan Pancasila.

Berdasarkan semua itu, Gatot meminta Presiden Jokowi melakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Presiden Jokowi dan pemerintahan yang dipimpinnya untuk bertindak serius terhadap gejala, gelagat, dan fakta kebangkitan neokomunisme dan/atau PKI Gaya Baru yang sudah nyata dan tidak perlu lagi ditanya, di mana?

Kedua, Presiden Jokowi dengan kewenangannya sebagai Presiden meminta DPR untuk tidak melanjutkan pembahasan tentang RUU Haluan Ideologi Pancasila dan RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, bahkan agar menarik RUU HIP dari Prolegnas dan tidak memproses RUU tentang BPIP.

Ketiga, Presiden Jokowi sesuai kewenangan yang dimilikinya menyerukan lembaga-lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga penyiaran publik, khususnya TVRI, untuk menayangkan Film Pengkhianatan G 30-S/PKI dan/atau film serupa, agar rakyat Indonesia memahami noda hitam dalam sejarah kebangkitan Indonesia.

Begitu pula, Gatot meminta agar pelajaran sejarah yang menjelaskan noda hitam tersebut diajarkan kepada segenap peserta didik, tidak dikurangi apalagi dihilangkan.

Di akhir surat Gatot menyatakan bahwa ia yakin tuntutan-tuntutan di atas adalah konstitusional dan rasional.

Dia mengultimatum bahwa jawaban Presiden terhadap tuntutan-tuntutan itu akan menunjukkan derajat kenegarawanan, komitmen terhadap Pancasila, dan sikap penolakan terhadap komunisme atau PKI dalam berbagai bentuk dan penjelmaannya.

“Kepada Jejaring KAMI di daerah-daerah dan manca negara agar mengawalnya,” kata Gatot memberi instruksi kepada para anggota KAMI.

Apa yang dilakukan Gatot ini bisa dibaca dengan sederhana. Walau mengada-ada, tapi narasi bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman kebangkitan komunisme adalah hal yang dibutuhkan agar gerakan seperti KAMI mendapat dukungan masyarakat.

Orang seperti Gatot dan KAMI hanya akan nampak berarti bila ada perasaan bahwa Indonesia terancam. Dan ancaman yang mudah sekali digoreng adalah komunisme.

Gatot dan kawan-kawan akan terus mengulang kisah yang sama sehingga hantu neokomunisme akan melekat di sebagian kepala rakyat Indonesia yang kemudian akan bergerak untuk menyelamatkan Indonesia dengan mendukung KAMI.

Isi narasi neokomunisme ini ke mana-mana. Kalaulah Gatot percaya bahwa gerakan ini sudah menyelusup ke eksekutif dan legislatif, ya berilah informasi pada Presiden, siapa orang-orang yang dimaksud.

Kalau yang dijadikan bukti adalah lahirnya RUU HIP dan RUU BPIP, itu meracau namanya.

Kita baca saja isi RUU tersebut. Itu justru adalah RUU yang akan mendorong pemerintah mengimplementasikan Pancasila dalam semua langkah kebijakannya.

Saya sendiri sih termasuk orang yang menganggap RUU itu tidak perlu ada, karena tidak ada urgensinya dengan Indonesia saat ini, tapi menuduh RUU itu berbau komunis sih sama sekali tidak masuk akal.

Kemudian juga tuduhan Gatot bahwa saat ini terjadi upaya adu domba umat Islam, bullying dan character assassination yang merupakan gaya khas PKI, itu maksudnya yang mana?

Gatot nampaknya ingin menunjukkan bahwa ada upaya untuk menzalimi umat Islam, tanpa merasa perlu menjelaskan apa yang dia maksud, karena pada dasarnya ia memang tak punya landasan untuk menuduh itu.

Begitu juga ketika ia bicara soal upaya untuk mengaburkan sejarah. Dia tidak memberi penjelasan apa-apa. Dalam pandangan saya, memang harus diakui buku pelajaran sejarah di Indonesia memang buruk.

Cerita tentang apa yang terjadi pada sejarah kelam 30 September memang hanya disebut secara singkat, tidak mendalam, tidak terinci.

Tapi kan buku pelajaran sejarah kita juga tidak bicara secara mendalam tentang kejahatan Orde Baru, tentang penindasan HAM, korupsi Soeharto, penyerangan terhadap kaum Tionghoa, gerakan teroris Islam, tragedi 98, tragedi Ambon, Poso, dan seterusnya, dan seterusnya.

Jadi buku pelajaran sejarah kita memang harus ditulis ulang, bukan saja dalam bab tentang Orde Lama dan PKI, tapi juga di banyak bagian lainnya. Begitu pula, tuduhan bahwa seolah ada narasi untuk menyalahkan Islam dan membela PKI.

Itu kesimpulan dari mana?

Bahwa sekarang diungkap bahwa di masa lalu terjadi pembantaian terhadap lebih dari satu juta warga yang dituduh terkait dengan PKI secara biadab dan tanpa proses hukum tentu saja tidak bisa dianggap sebagai pembelaan terhadap PKI. Pembantaian itu memang terjadi dan harus diakui sebagai sejarah hitam bangsa ini.

Itu Cuma soal kejujuran sejarah, agar di masa depan hal serupa tak lagi terjadi. Begitu juga pernyataan Gatot tentang keturunan PKI yang demonstratif menyatakan mereka bangga menjadi anak PKI.

Tentu saja itu ada. Tapi berapa sih jumlahnya?

Dan kalau ada beberapa orang warga yang kini merasa punya keberanian dan kebebasan untuk menyatakan diri mereka sebagai keturunan PKI, itu sama sekali tidak bisa disalahkan dan sama sekali tidak bisa ditafsirkan bahwa mereka ingin mendirikan kembali PKI.

Tuduhan tentang neokomunisme ini memang mengada-ada. Gatot sendiri barangkali tahu itu.

Tapi narasi semacam ini akan terus dia dan kawan-kawannya kembangkan agar mereka bisa menarik simpati dari sebagian masyarakat Indonesia yang memang tidak berakal sehat.

Komentar