KELOMPOK-KELOMPOK ITU MENGIDOLAKAN NAPOLEON BONAPARTE

Oleh: Ade Armando

Kasus pemukulan Muhammad Kece atau Kace oleh Napoleon Bonaparte mengungkapkan sisi hitam kelompok-kelompok yang mengklaim diri mereka sebagai kaum pembela Islam.

Pertama, mereka pengecut. Kedua, mereka tidak peduli dengan penegakan hukum, supremasi hukum. Ketiga, mereka memang tidak punya akal sehat.

Kece dianiaya di tahanan. Penganiayaannya dilakukan dengan cara pengecut luar biasa. Napoleon adalah petinggi polisi yang ditakuti oleh para sipir. Tidak ada yang berani mencegah kekejaman yang dilakukannya terhadap Kece.

Dan bahkan yang terjadi bukanlah perkelahian satu lawan satu. Napoleon mengajak tiga orang lainnya untuk mengeroyok Kece yang sama sekali tidak berani melawan. Salah satu anggota pengeroyok adalah mantan anggota laskar FPI yang ditahan karena kasus kerumunan terkait Riziq Shihab.

Tak hanya dipukuli, wajah dan tubuh Kece juga dilumuri kotoran. Napoleon sudah menyatakan bahwa dia bertanggung jawab atas tindakannya itu.

Setelah menyiksa Kece, Napoleon menulis sebuah surat yang nampak sangat heroik. Tulisnya: “Siapapun bisa menghina saya, tapi tidak terhadap Allahku, Alquran, Rasulullah dan akidah Islamku, karenanya saya bersumpah akan melakukan tindakan terukur apapun kepada siapa saja yang berani melakukannya.”

Napoleon bisa bicara apapun, namun itu tentu saja tidak membatalkan kenyataan bahwa tindakannya itu adalah aksi pengecut dan kriminal. POLRI sendiri marah dengan kelakuan Napoleon. Tindakan Napoleon berpotensi merusak image positif POLRI yang dalam tahun-tahun terakhir sudah sangat membaik.

Namun kepengecutan ternyata tak berhenti di situ. Tindakan Napoleon didukung oleh orang-orang yang sama pengecutnya. Novel Bamukmin, Wakil Sekjen Persaudaraan Alumni (PA) 212, dan salah seorang anak buah Rizieq, juga menyerukan potensi ancaman kepada orang-orang yang disebut sebagai penista agama, seperti saya dan Abu Janda.

Dia bilang, saat ini, penghakiman jalanan terhadap para penista agama yang tidak diproses seperti Sukmawati, Abu Janda dan saya, sangat mungkin terjadi.

“Mereka bisa saja dieksekusi di jalanan,” katanya. Di sel saja bisa ada penganiayaan, apalagi di jalanan”.

Novel jelas bukan sedang khawatir dengan nasib saya dan Abu Janda dan Sukamawati. Dengan mengatakan itu, ia sebenarnya sedang menyuarakan ancaman terhadap kami. Dalam hal Napoleon, Novel juga menyatakan Kece pantas mendapat ganjaran sangat berat baik di tengah masyarakat maupun di sisi hukum.

Menurut Novel, dalam hukum Islam, hukuman bagi penista agama sangat berat.

“Tidak ada tebusannya kecuali hukuman mati. Muhammad Kece beruntung masih hidup,” katanya.

Dukungan terhadap Napoleon bahkan disuarakan nama-nama besar.

Yusuf Martak, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama yang dulu dikenal sebagai gerombolan manusia yang ingin memenjarakan Ahok, juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Napoleon.

Menurut Yusuf Martak, jika merunut dari peristiwa yang terjadi, Napoleon adalah manusia pilihan Tuhan. Yusuf melihat Napoleon sebagai manusia yang ditakdirkan untuk bertemu dengan Muhammad Kece di tahanan polisi.

“Napoleon bukanlah petinggi ormas yang berjuang bersama umat Islam,” kata Yusuf. Dia masuk penjara untuk perkara lain. Namun itu semua adalah bagian dari rencana Allah, karena Napoleon adalah manusia pilihan Allah yang sudah dipersiapkan dan menanti Kece di tahanan.

Yusuf kemudian menyatakan Napoleon adalah orang yang beruntung karena telah menjadi manusia pilihan Tuhan.

“Subhanallah,” katanya. “Beruntung sekali Napoleon Bonaparte menjadi orang pilihan Tuhan.”

Selain Yusuf, juga ada pengacara Muhammad Rizieq, Aziz Yanuar, yang menyatakan mendukung pengeroyokan oleh Napoleon. Aziz bahkan menyatakan muslim yang waras harus bersikap seperti Napoleon.

Ingat ya, Aziz bilang, muslim yang waras harusnya mendukung pengeroyokan oleh Napoleon. Kemudian ada pula Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Haris Pertama yang secara publik berterima kasih kepada Napoleon.

Dia menulis: “Terimakasih Jenderal, kau telah menghukum sang penista agama!”.

Terimakasih juga disampaikan anggota Komisi XI DPR RI dari PKS Refrizal misalnya.

“Terima kasih pak Napoleon,” tulisnya di Twitter.

Tak hanya itu. Dukungan juga datang dari Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas, yang ikut angkat bicara soal pemukulan oleh Napoleon.

Anwar Abbas menggambarkan bahwa Napoleon bukan orang sembarangan bukan saja karena karena pernah menjabat petinggi Polri, tapi juga karena ketika keimanannya direndahkan, ia langsung bertindak.

“Ketika agamanya dan keimanannya dihina, diremehkan dan direndahkan maka sebagai manusia yang beriman tentu ada batas kesabarannya,” kata Anwar

Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar, yang sering mengklaim dirinya sebagai sosiolog mengatakan, tindakan Napoleon mungkin tak perlu ditiru, tapi harus dihargai karena ia berani bertanggungjawab atas perbuatannya.

Yang agak parah mantan petinggi Polri Brigjen (Purn) Anton Tabah Digdoyo. Dia membela Napoleon, tapi dengan cara meracau ke mana-mana.

Menurutnya, kasus pemukulan Kece ini terjadi karena di era Presiden Jokowi memang banyak kasus penistaan agama, terutama terhadap agama Islam, yang tidak diproses hukum.

Mantan Jenderal Anton yang juga Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini menyebut saya, Abu janda, Joseph Paul Zhang sebagai para penista agama yang tidak pernah diproses hukum.

“Kondisinya mirip tahun 60-an ketika PKI berkuasa,” ujar Anton .

Padahal menurutnya, penistaan agama harus dikategorikan sebagai kejahatan serius, karena sangat berpotensi menimbulkan konflik sosial luas.

Jadi anda bisa lihat betapa memprihatinkannya narasi yang dibangun. Apa yang dilakukan Napoleon adalah kejahatan dan kepengecutan. Dia bisa saja marah terhadap Kece, tapi sebagai hamba hukum seharusnya dia sadar bahwa supremasi hukum harus ditegakkan demi kebenaran dan keadilan.

Kece sudah ditahan. Dia akan diadili dan dia mungkin sekali akan masuk penjara.
Jadi apa hak Napoleon untuk menghukumnya dengan tangan sendiri? Dan Napoleon melakukannya dengan cara keroyokan.

Jadi apa yang bisa memberi pembenaran atas apa yang dilakukan Napoleon, di mata para tokoh Islam dan tokoh masyarakat itu?

Sekarang saya balik misalnya.

Kalau Kece boleh dipukuli oleh Napoleon, bolehkah Rizieq dipukuli dan wajahnya dilumuri kotoran karena ia sangat menghina agama lain sementara penodaan agama adalah kejahatan yang luar biasa?

Jawabannya tentu saja tidak boleh. Dan itulah yang seharusnya diterapkan dalam kasus Kece.

Bagaimana mungkin para tokoh masyarakat itu sedemikian sempit cara berpikirnya sehingga mengelu-elukan Napoleon?

Seperti saya katakan kasus Napoleon ini membuka mata kita terhadap sisi hitam kelompok-kelompok Islam. Mereka pengecut, mereka tidak peduli dengan supremasi hukum, mereka tidak memiliki akal sehat.

 

Komentar