GORENGAN PKI, BASI DAN BERMINYAK

Oleh: Denny Siregar

Sejak Jokowi menang Pemilu pertama di tahun 2014, ada agenda tahunan yang terus menerus dibangun oleh kubu oposisi, yaitu nonton bareng film pemberontakan G30S/PKI.

Saya paham sejak awal, konsep nobar tahunan ini memang sengaja dibuat oleh kubu oposisi untuk membangun ketakutan di masyarakat bahwa di sekeliling kita ini sekarang komunis sedang berkeliaran. Dan ini adalah strategi politik mereka, bukan karena mereka menghormati pahlawan bangsa. Buat para oposisi yang bolak-balik kalah itu, narasi menakut-nakuti lebih afdol dipakai daripada menyumbang ide atau strategi untuk membangun negeri. Lagian, mereka juga gak punya ide atau strategi apapun untuk membangun negeri, karena semua sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Oke, kita bedah dulu kenapa program tahunan nobar itu harus mereka lakukan dan mereka goreng setiap tahun?

Pertama, untuk membangun narasi kekuatan Islam melawan komunis. Jadi selama ini, mereka selalu mengklaim bahwa kelompok mereka ini lebih “Islam” daripada yang lainnya, bahkan dari NU dan Muhammadiyah, organisasi Islam besar yang sudah lahir sejak zaman sebelum kemerdekaan. Dengan klaim sebagai kelompok yang paling “Islam” inilah mereka kemudian membangun narasi bahwa musuh terbesar Islam adalah komunis, dengan merunut jejak sejarah ketegangan besar antara Partai Komunis Indonesia dan beberapa ormas Islam di Indonesia.

Di sini lucu sebenarnya, karena kalau pengen klaim kemenangan “Islam” terhadap komunisme, yang berhak mengklaim itu seharusnya NU dan Muhammadiyah, yang jelas-jelas pada waktu itu berhadapan langsung dan menjadi korban dari kekejaman PKI di beberapa daerah. Tetapi NU dan Muhammadiyah gak pernah tuh mengklaim tragedi itu sebagai keberhasilan, malah banyak di antara mereka yang melihat itu sebagai tragedi kemanusiaan, di mana saudara sebangsa saling membunuh atas nama ideologi.

Tapi kok yang sering teriak “Islam menang atas PKI” itu PKS dan FPI ya? Mereka itu organisasi yang lahir tahun berapa? Lha organisasi masih piyik kok sibuk klam-klaim kayak mereka dulu berjuang melawan komunis aja. Malah saya rasa, kalau melihat sifat pengecut kelompok-kelompok itu, bisa jadi saat pemberontakan PKI mereka itu sembunyi karena takut atau malah jadi pengkhianat itu sendiri. Baru ketika menang, mereka koar-koar seolah ikut berjuang dan ada di garis depan. Karakter pecundang memang begitu, koarnya paling depan, tapi ketika dihadapkan masalah, kabur paling duluan.

Oke, yang kedua, narasi PKI itu selalu dihantamkan ke lawan politik mereka. Jokowi dan keluarganya adalah contoh bagaimana mereka difitnah habis-habisan dengan tudingan PKI supaya masyarakat takut dan curiga kepada mereka. Ini yang disebut dengan post truth, atau kebohongan yang disamarkan dan dipropagandakan berulang-ulang supaya akhirnya diyakini orang sebagai kebenaran.

Fitnah bahwa Jokowi dan pendukungnya adalah komunis ini sebenarnya gak pernah berhasil, karena strategi licik ini diketahui oleh banyak orang pendukung Jokowi di media sosial. Nah, daripada terus menerus dituding sebagai PKI, kan capek, akhirnya para pendukung Jokowi balik menuding mereka sebagai kadrun. Strategi post truth yang dibalikkan ini berhasil, dan mereka gelagepan karena stigma kadrun lebih deras hantamannya daripada PKI. Malah ada yang mengaku “ustaz” bilang kalau stigma kadrun itu muncul sejak sebelum tahun 1965, dan diprogandakan oleh PKI untuk menyerang “umat Islam”. Halu banget gak sih, wong istilah kadrun atau kadal gurun itu baru muncul sejak sebelum Pilpres 2019, kok tiba-tiba dibilang istilah lama?

Dan sekarang sudah bulan September, sekali lagi, kita lihat gorengan PKI mulai dibangun kembali meski sudah basi. Tapi ya lucunya ada aja orang yang suka makanan basi dan itu target untuk dikapitalisasi.

Yang pertama kali suka sekali mainan PKI adalah PKS. Partai yang sok paling Islam ini kembali meluncurkan isu PKI dan menganggap nonton bareng film lama G30S/PKI ini wajib kembali diputar oleh pemerintah. Dan yang tidak memutarnya adalah bagian dari PKI. Kocak, kan? Balikin lagi aja ke PKS. Emang, hei PKS, kalian di mana waktu PKI berontak? Wong lahir aja belum sok-sokan nuding orang PKI.

Yang kedua ya kelompok garis keras seperti FPI, yang sekarang berubah menjadi Neo FPI. Mereka sibuk sekarang bikin Garda Bangsa, untuk menyelamatkan Indonesia dari PKI. Please deh, Garda Bangsa? Sejak kapan kalian FPI punya ideologi kebangsaan? Wong ideologi mereka adalah pembentukan negara agama, jauh dari cita-cita pendiri bangsa ini yang ingin Indonesia berdiri di atas semua suku, ras, dan agama.

Lagian, cara-cara yang dipakai FPI dan kelompoknya ini sebenarnya mirip-mirip sama PKI. PKI suka maenin post-truth, FPI juga suka. PKI ingin seragamkan Indonesia menjadi berpaham komunis, FPI ingin negara ini berpaham satu agama. Apa bedanya? Bedanya cuma bajunya doang, cita-cita mereka sama, menempatkan ideologi identitas sebagai ideologi negara. Jadi maaf, kalau saya bilang, FPI inilah sebenarnya Neo PKI. Caranya sama, bajunya doang yang beda.

Dan ada lagi mantan Panglima TNI yang suka sekali dengan nonton bareng film G30S/PKI, bahkan ketika ia masih menjabat. Saya gak perlu jelaskanlah tentang beliau, kita tonton saja video wawancaranya yang lumayan lucu ini.

Lucu, kan? Ayo kita seruput kopi dulu. Kopi itu sehat, gorengan itu bahaya buat jantung karena berminyak. PKI itu sudah gak ada. Sudah basi. Sudah jadi hantu. Yang perlu diwaspadai justru kelompok baru yang ingin menjadikan negara ini menjadi negara satu agama. Dan mereka sama kejamnya dengan Partai Komunis Indonesia, kalau diberi kesempatan berkuasa.

Markibong, mari kita bongkar semua yang berbau gorengan isu halu untuk kepentingan politik mereka belaka.

Komentar