JOKOWI DIPUJI, JOKOWI DIMAKI

Oleh: Denny Siregar

Kalian merasa nggak? Beberapa minggu ini jarang sekali kita lihat timeline di media sosial kita berita duka seseorang meninggal karena Covid-19. Jarang sekali juga ada ucapan sedih orang yang ditinggalkan keluarganya karena Covid-19. Bahkan di tempat saya sudah hampir tidak ada lagi orang yang posting dirinya sedang ada di rumah sakit karena kena Covid-19.

Beda dengan sebelumnya, ketika gelombang kedua Covid-19 dari India seperti tsunami menghajar Indonesia. Orang-orang bertumbangan, rumah sakit penuh sampai pasien terlantar di halaman, ambulans meraung-raung di jalanan, dan berita duka cita terus muncul di timeline. Dulu itu suasana hati seperti mendung hitam. Pembatasan darurat bikin kita tegang. Di kota besar, jalanan yang biasanya ramai kendaraan lalu lalang mendadak sepi. Warung tutup karena gak ada yang beli. Driver online terus mengeluh karena penumpang juga jarang.

Sekarang, bahkan meski PPKM diperpanjang lagi, tapi namanya sudah tidak begitu menakutkan. Ekonomi sudah dibuka setahap demi setahap. Mal dan bioskop juga sudah mulai dibuka meski dengan syarat ketat. Di beberapa daerah sekolah tatap muka mulai berjalan. Kita pelan-pelan kembali menuju ke kehidupan normal.

Apakah karena sebaran virusnya sudah selesai? Atau karena wabahnya sudah hilang? Nggak. Salah besar. Wabah virus masih tetap menyebar dengan ganas, tetapi kita sudah jauh lebih siap untuk menghadapi mereka.

Saya jadi ingat awal-awal waktu pandemi muncul di Indonesia, banyak pejabat yang gagap menghadapi virus ini. Mereka memang pernah membaca teori berdasarkan wabah flu Spanyol dulu, dan cara menghadapi penyebaran. Tapi antara teori sama praktik ternyata berbeda. Ketika virus akhirnya benar-benar menyerang, semuanya gelagepan.

Miriplah sama orang yang hafal teori renang karena baca buka sampai habis halamannya, pas didorong ke air, langsung hilang tuh semua teori di kepala, dan mulai timbul tenggelam. Lalu kenapa akhirnya kita bisa selamat? Karena kita beradaptasi dengan situasi dan mulai mengerti bagaimana cara tetap mengambang di air. Begitulah analogi sederhananya.

Semua negara di seluruh dunia, di awal-awal Covid-19 menyerang, langsung gagap karena tidak paham situasinya. Ada yang ketakutan, ada yang kepedean, ada juga yang kebingungan. Indonesia termasuk negara yang bingung waktu itu, karena belum ada contoh yang baik bagaimana menangani wabah sebesar itu.

Ada juga partai yang dipimpin oleh anak kecil teriak-teriak lockdown-lockdown, seolah-olah lockdown adalah solusi. Indonesia dibandingkannya dengan Singapura, padahal dua negara itu sistemnya saja sudah sangat berbeda. Banyak juga yang tiba-tiba muncul jadi ahli virus di media sosial, padahal background pendidikannya cuma aktif di medsos doang.

Jokowi juga sama bingungnya. Dia bongkar pasang menteri untuk hadapi wabah ini. Di satu sisi, dia terus dicaci maki karena dianggap lemah dan tidak mengambil tindakan apapun, padahal Jokowi sedang memikirkan strategi yang terbaik untuk atasi pandemi ini.

Dan untunglah, Jokowi tidak berlakukan lockdwon karena negara sudah pasti bisa hancur. Dia hanya memberlakukan buka tutup, atau PSBB, untuk menyeimbangkan situasi sekaligus belajar dari pandemi ini. Jokowi itu tampak tenang, ciri khas pemimpin yang lahir dari banyaknya tekanan. Meski begitu saya yakin otaknya terus bekerja mencari cara yang terbaik dalam situasi yang tidak bisa diperkirakan.

Dan sekarang terbukti, situasi pun sudah terkendali. Bukan virusnya tidak ada, tetapi pertahanan diri kita sudah mulai kuat. Wabah dianggap musuh atau alien yang menyerang dari luar angkasa, harus diperangi dengan sekuat tenaga. Dengan menggerakkan polisi dan TNI, Jokowi menyuntikkan vaksin lebih dari 100 juta dosis. Itu membuat konsep herd immunity mulai pelan-pelan terbentuk.

Dan cara Jokowi memimpin perang ini, diakui oleh banyak pakar kesehatan dunia, WHO bahkan World Bank. Yang mereka heran itu, bagaimanasih Indonesia kok bisa membangun sistem yang baik sehingga bisa mengamankan pasokan dosis vaksin? Padahal masalah ketersediaan vaksin ini sekarang jadi masalah global. Bahkan di antara para pakar kesehatan dunia itu, mereka curiga, jangan-jangan Indonesia ini punya pabrik vaksin sendiri.

Memang dalam masalah apapun, sesulit apapun, manajemen adalah hal yang utama. Tidak semua orang mampu membangun manajemen yang solid, apalagi dalam tekanan yang kuat seperti serangan wabah. Seorang dokter yang biasa nangani ribuan pasien, belum tentu punya kemampuan manajemen untuk mengorganisasikan pasukan besar.

Kemampuan manajemen seperti itu biasanya dipunyai oleh CEO perusahaan multinasional dan juga institusi keamanan seperti polisi dan tentara. Karena itu, tepat sekali ketika akhirnya Jokowi memilih Luhut Binsar Pandjaitan untuk memimpin perang skala besar ini.

Meski situasi sudah terkendali, kita juga jangan lupa diri. Tetap prokes, pakai masker, dan jaga jarak. Tapi juga gak perlu ketakutan yang berlebihan, keluarlah dan lihat dunia sudah mulai bergerak kembali. Musim rebahan sudah selesai, teman. Sekarang saatnya kita cari duit lagi.

Komentar