WUSSSS, KERETA PELURU UNTUK INDONESIAKU

Oleh: Denny Siregar

Gak sadar ya pembangunan kereta cepat di Indonesia sudah hampir 80 persen selesai. Kereta cepat ini awalnya akan beroperasi dulu di Jakarta ke Bandung, dengan waktu tempuh sekitar 36 menit saja atau setengah jam tanpa berhenti. Bandingkan coba dengan Kereta Argo Parahyangan yang dari Jakarta ke Bandung harus menempuh waktu sampai 3,5 jam.

Trayek Jakarta ke Bandung ini baru awalnya saja, karena rencananya pembangunan kereta cepat ini akan diteruskan sampai Surabaya. Coba, berapa waktu tempuh dari Jakarta ke Surabaya kalau pakai kereta cepat? Ternyata, cuma 5 jam saja. Kereta cepat ini bisa melaju sampai 350 km/jam. Jadi, coba bayangkan Anda punya mobil Ferrari terus digeber selama 5 jam pada kecepatan puncaknya, maka akan sampai pada waktu yang sama dari Jakarta ke Surabaya. Gila, kan?

Cuma ya itu tadi, seperti beli mobil Ferrari, untuk pembangunan kereta cepat ini juga gak murah. Waktu awal perkiraan saja, nilai pembangunan kereta cepat ini sudah di angka Rp86 triliun. Sekarang bengkak sampai total Rp113 triliun. Persoalan bengkaknya kereta cepat ini jadi bahan gibah di kalangan oposisi. Dan seperti biasa, disambung-sambungkanlah dengan utang pemerintah.

Padahal kalau mau teliti, bengkaknya biaya kereta cepat ini paling besar itu ada di bagian pembebasan lahan. Sejak Jokowi menerapkan konsep ganti untung, bukan ganti rugi, kepada masyarakat yang lahannya kena proyek pemerintah, maka biaya pembebasan lahan itu selalu angkanya besar di proyek-proyek infrastruktur. Tapi Jokowi juga gak peduli, toh yang dibeli adalah tanahnya rakyat dan rakyat juga senang kok tanahnya dibeli mahal sama pemerintah. Mereka jadi kaya raya. Semakin banyak proyek infrastruktur pemerintah, rakyatnya malah semakin sejahtera.

Coba, bandingkan dengan pembangunan kereta cepat di India, yang akhirnya gagal karena ribut masalah pembebasan lahan.

Lihat aja coba, sejak Jokowi memimpin Indonesia, jarang sekali kedengaran ada demo masyarakat karena lahannya digusur oleh pemerintah. Mereka malah menawar-nawarkan tanahnya supaya dipakai oleh pemerintah. Dan itu memang sikap Jokowi sejak awal. Tidak masalah proyek dananya besar, asal kembalinya ke rakyat juga. Rakyatnya kaya, pemerintahnya pun bisa kerja. Jadi asyik, kan?

Nah, kalau nilai proyek bengkak karena harus beli tanah rakyat dengan harga mahal, kenapa tidak? Jangan irilah, rakyat lagi senang dan jangan direbut kegembiraan mereka.

Yang ribut bahwa kereta cepat ini biayanya sampai Rp113 triliun dan harus berapa puluh tahun modal kembali dengan cuma jual tiket kereta juga banyak.

Ini jujur, saya ketawa kalau baca pandangan ekonom yang sangat konvensional ini. Masa bikin kereta cepat, pendapatannya cuma dari tiket doang. Jadul amat sih, Mas. Contoh deh yang sederhana, nonton bioskop di XXI. Dengan investasi yang sangat besar dan sewa ruangan di mal yang juga besar, kan gak mungkin XXI bisa bertahan hanya dari jualan tiket film aja. XXI malah pendapatan besarnya dari penjualan makanan dan minuman di sana. Itu namanya pendapatan dari dampak ekonomi.

Lalu, darimana nanti keuntungan terbesar pembangunan kereta cepat dengan biaya Rp113 triliun itu kalau bukan dari penjualan tiket aja? Ya dari keuntungan ekonomi di wilayah sekitar yang dilewati kereta cepat inilah.

Sebagai catatan ya, kereta cepat Jakarta – Bandung ini akan melewati lima stasiun untuk berhenti sebentar, yaitu Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Walini, Stasiun Tegalluar, dan satu lagi Stasiun Padalarang. Nah, area-area di sekitar stasiun ini akan tumbuh ekonominya dengan dibangun kompleks perumahan besar di sana.

Jadi, orang yang kerja di Jakarta, tidak perlu lagi tinggal di Jakarta. Cukup naik kereta cepat, 10 menit saja dari Karawang, mereka sudah sampai Jakarta. Dan pembangunan kompleks perumahan itu potensinya bisa puluhan triliun rupiah. Belum lagi, berapa ratus ribu tenaga kerja yang terserap untuk pembangunan-pembangunan itu? Inilah yang disebut dampak ekonomi yang luas atau multiplier effect dari pembangunan kereta cepat ini.

Itu baru dampak ekonomi kecil. Lho, apasih dampak ekonomi yang paling besar? Jelas dong, masuknya investasi asing. Kalau kereta cepat ini jadi, maka Indonesia akan dilirik dunia internasional sebagai negara yang beradaptasi dengan teknologi tinggi.

Sebagai catatan kita ya, Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang punya kereta cepat. Dan kemajuan Indonesia ini akan dilirik investor asing sebagai bentuk keamanan mereka berinvestasi di sini. Ibaratnya, kalau Indonesia berhasil bangun kereta cepat dengan sangat smooth, tanpa keributan, maka investasi di Indonesia akan juga aman. Ini memang masalah citra, yang harus dibangun supaya negeri ini tampak cantik dan orang luar mau investasi.

Dan untuk membangun kereta cepat ini dibutuhkan keberanian tingkat tinggi. Kita yang harus bersyukur, Jokowi adalah Presiden yang berani mengambil risiko super tinggi untuk menarik minat investasi asing. Buat Jokowi, semakin cepat infrastruktur dibangun, maka biaya operasional juga akan semakin murah. Coba bayangkan, kereta cepat ini juga akan membawa barang. Dengan waktu tempuh Jakarta – Bandung hanya setengah jam, maka lalu lintas barang juga akan semakin cepat dan pastinya semakin murah. Kereta cepat bukan hanya bawa penumpang, tetapi juga barang-barang jualan.

Nah, kalau sudah begini, negara mana sih yang tidak tertarik dengan Indonesia yang semakin seksi? Pada akhirnya, ketika kita menghitung banyak pendapatan di luar penjualan tiket saja, maka investasi senilai Rp113 triliun itu akan jadi semakin kecil, ketika potensi pendapatannya bisa sampai ribuan triliun rupiah. Itu baru Jakarta ke Bandung, bayangkan kalau kereta cepat ini tersambung ke Surabaya. Multiplier effect-nya bisa luar biasa dan banyak kota-kota baru tumbuh di sekitar stasiun pemberhentian kereta.

Nah, ada lagi yang ribut kenapa kok Indonesia lebih memilih Cina daripada Jepang untuk teknologi kereta cepatnya? Apa karena Indonesia sudah dikuasai Komunis?

Bukan. Ini sebenarnya hanyalah masalah proposal aja. Jepang, meskipun harganya lebih murah, tapi dia minta jaminan pemerintah. Jokowi gak mau, pemerintah Indonesia gak mau jamin apa-apa. Istilah sederhananya begini, kalau mau invest, ya invest aja. Kalau nanti rugi, ya tanggung sendiri, jangan salahkan pemerintah. Karena itulah awalnya, Jokowi meminta proyek kereta cepat ini konsepnya B to B, atau business to business. Bukan B to G, atau business to goverment.

Selain itu, Jepang juga gak mau transfer teknologi kereta cepatnya. Mereka maunya, Indonesia tinggal pakai aja. Nah, ini yang Indonesia gak mau. Indonesia ingin Jepang transfer teknologi mereka. Indonesia gak mau dijajah Jepang dalam teknologi kereta cepat, karena kelak negeri ini ingin bisa membuat kereta cepat sendiri dengan kecepatan yang lebih gila. Orang kita itu pintar-pintar kok, masa cuma disuruh jadi pekerja kasar doang. Sorry, ya.

Nah, Cina melihat kesempatan ini kalau Indonesia ingin menentukan nasibnya sendiri. Maka mereka memberikan proposal kalau kereta cepat akan dibangun dengan konsep bisnis. Selain itu mereka akan transfer teknologi mereka. Buat Cina transfer teknologi gak ada masalah, toh teknologi di negara mereka terus diperbaharui. Bukan seperti Jepang yang teknologi kereta cepatnya masih seperti itu-itu aja sejak tahun 1994.

Jadi ketika Indonesia milih Cina, ini bukan masalah Komunis atau bukan. Toh Jepang juga mantan penjajah kita, jangan lagi kita mau dijajah secara teknologi sama mereka. Sekarang ini eranya bisnis, siapa proposal yang paling bagus, dia yang diterima. Kalau misalnya ada proposal lain dari Afghanistan misalnya dan proposal itu bagus, pasti juga diterima. Cuma Afghanistan gak bangun kereta cepat, mungkin nanti mereka akan bikin onta cepat.

Oke, saya mendukung banget adanya kereta cepat di Indonesia ini. Dan kabarnya sih, kereta cepat ini akan mulai beroperasi bulan November tahun 2022. Dan saya berharap, peresmiannya ada di bulan Agustus 2022, hari Kemerdekaan kita dengan peresmian yang sifatnya show off, ada band, ada kembang api yang membuat berita kereta cepat ini semakin heboh di masyarakat dan mereka berlomba-lomba ingin mencoba kereta cepat ini.

Jadi gak sabar nunggunya, untuk membuktikan ke negara tetangga kalau Indonesia yang dulu mereka pandang rendah, sekarang sedang melaju cepat menjadi mercusuar dunia.

Komentar