PANGLIMA KOSTRAD DIMAKI KARENA MENYATAKAN ‘DI MATA TUHAN SEMUA AGAMA BENAR’

Oleh: Ade Armando

Kita perlu berbahagia bahwa Indonesia punya Panglima Kostrad Letjen Dudung Abdurrahman. Pekan lalu, Dudung mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan keluasan wawasan keagamaan dan kebangsaannya.

Saat mengunjungi Batalyon Zeni Tempur di Bandung, 13 September, Dudung meminta prajurit TNI agar tidak fanatik berlebihan terhadap satu agama, karena semua agama itu benar di mata Tuhan.

Buat saya, ucapan panglima Kostrad semacam itu tentu melegakan mengingat ancaman radikalisme agama di negara ini.

Namun tentu tanpa dapat dihindari penggalan ucapannya bahwa “semua agama itu benar di mata Tuhan” melahirkan beragam reaksi, termasuk digoreng kaum kadrun anti NKRI.

Ini telah menimbulkan respons yang beragam. Di berbagai WAG beredar hashtag #WaspadaiNeoPKIBangkit dan semacamnya yang dikaitkan dengan pernyataan Dudung.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia, Anwar Abbas, menyatakan pernyataan Dudung salah karena agama yang berbeda-beda tidaklah sama.

Kata Anwar, masing-masing agama itu punya tuhan, kitab suci, orang suci dan tempat-tempat suci serta cara-cara beribadah sendiri-sendiri yang memang sangat-sangat berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Kemudian beredar pula cuplikan video berisi pernyataan Gus Dur pada 2004 lalu bahwa agama tidak sama.

Dalam video itu, Gus Dur menyatakan bahwa setiap agama memiliki kitab suci yang berbeda-beda sehingga pendapat yang menyatakan bahwa semua agama sama adalah pendapat yang ‘ngawur’.

Yang paling keras serangannya terhadap Dudung adalah Refly Harun. Refly menuduh pernyataan Dudung itu bersifat murni politik, dalam rangka menyenangkan hati pemerintah Jokowi yang memang anti Islam.

Refly menuduh, Dudung mengeluarkan pernyataan itu karena Dudung tahu pernyataan semacam itulah yang ingin didengarkan pemerintah. Menurutnya, Dudung adalah sosok jenderal yang lihai dalam mengambil sikap sesuai dengan yang dibutuhkan pihak istana.

Dudung, menurut Refly tahu benar bahwa Jokowi selama ini berseberangan dengan kelompok-kelompok Islam, seperti 212, FPI, GNPF Ulama atau kelompok lainnya.

Dudung selama ini pun sudah menunjukkan indikasi dukungannya terhadap sikap keras pemerintah terhadap kelompok Islam, misalnya dengan melakukan penurunan baliho Rizieq Shihab atau hadir dalam rilis kasus pembunuhan 6 laskar FPI.

Menurut Refly, selama ini Dudung tidak memiliki prestasi apa-apa, sehingga untuk menunjukkan bahwa dia adalah jenderal yang loyal dan merah putih, tidak fanatik, pro Pancasila, maka dia harus mendekati pemerintah dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan kesetiaannya.

Dudung sendiri sih kalem-kalem saja mengomentari respons tersebut.
Dan klarifikasinya kemudian semakin menunjukkan dia itu memang bijaksana dan berwibawa.

Dalam penjelasannya, kata dia, ucapan soal semua agama benar di mata Tuhan itu ia keluarkan sebagai Panglima Kostrad, bukan ulama. Dia mengucapkan itu semata-mata untuk menjaga toleransi umat beragama, sekaligus menciptakan kerukunan antar umat beragama demi soliditas anggota Kostrad.

“Masing-masing pemeluk agama pasti meyakini agamanya benar dan diterima Tuhan”, katanya.

Oleh karena itulah, bisa disimpulkan dari sudut pandang masing-masing agama bahwa di hadapan Tuhan semua agama benar. Ia menyatakan dia memiliki banyak anggota dari banyak pemeluk agama berbeda.

“Saya ingin anak buah saya jangan sampai terpengaruh dengan pihak luar di dalam beribadah,” ujarnya.

Jangan sampai ada fanatisme berlebihan dan kemudian menganggap agama tertentu saja yang benar, sementara agama yang lain salah. Sikap Dudung ini sangat perlu didukung karena sikap pimpinan semacam inilah yang diperlukan Indonesia.

Para pengeritik Dudung nampaknya salah menangkap apa yang dikatakan Dudung. Yang dikatakannya bukanlah semua agama sama, melainkan di mata Tuhan semua agama benar.

Karena itu penggunaan video Gus Dur yang seolah menunjukkan kesalahan cara pandang Dudung tidaklah relevan.

Saya yakin sekali bila Gus Dur masih hidup dan mendengarkan penjelasan Dudung, ia akan setuju. Pernyataan Dudung harus dibaca dengan mengaitkan konteks ancaman radikalisme yang dihadapi Indonesia dan bahkan dihadapi dunia saat ini.

Pandangan Dudung mencerminkan sebuah sikap beragama yang sangat inklusif dan tidak ingin menang sendiri. Selama ini kan ada pandangan sebagian pihak bahwa agama adalah sumber masalah.

Ini misalnya dikaitkan dengan begitu banyaknya perang atau tindak kekerasan yang dilakukan atas dasar agama. Kelompok seperti ISIS secara jelas membunuhi kalangan yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka atas nama Islam.

Namun, bentuk-bentuk kekerasan atas nama agama ini bukan hanya ditemukan di kalangan Islam.

Kaum radikal ada di semua agama. Namun buat saya, yang menjadi sumber masalah bukanlah agama.

Pangkal masalah ada di cara beragama yang datang dari cara penafsiran agama. Pada titik inilah pernyataan Dudung penting.

Penafsiran bahwa di mata Tuhan ada agama yang benar dan ada agama yang salah, itu punya implikasi yang serius dan membahayakan keselamatan umat manusia.

Kesediaan untuk memusuhi, membasmi, atau membunuhi mereka yang tidak seagama datang dari keyakinan bahwa di mata Tuhan, ada agama yang benar dan agama yang salah, yang menyimpang, yang sesat.

Ini kemudian dilanjutkan dengan anggapan bahwa kewajiban seorang beriman adalah memperjuangkan kebenaran dan melawan kesesatan.

Dalam hal ini, seorang muslim yang saleh seharusnya mencegah jangan sampai misalnya agama Kristen dan umat Kristen berkembang karena kaum Kristen adalah kumpulan orang-orang tersesat yang ingin mengajak umat manusia mengikuti jalan kesesatan.

Seorang muslim yang diam saja ketika Kristen hadir dan berkembang, menurut logika ini, justru adalah seorang muslim yang kurang beriman.

Karena itulah, dalam pandangan ini, sesama umat Islam berkewajiban menguatkan tali persaudaraan dengan sesama umat Islam melawan kaum non-Islam, karena dunia ini pada dasarnya adalah ladang pertarungan antara kebenaran melawan kejahatan, dengan Islam sebagai kebenaran dan non-Islam sebagai kejahatan.

Sekarang bayangkan, kalau TNI kita sampai diisi oleh orang-orang yang berpikiran semacam itu.

Dalam kondisi normal dan damai, para tentara itu mungkin saja bisa bersikap penuh toleran terhadap sesama tentara lain yang beragama non-Islam.

Tapi begitu terjadi peperangan antar kelompok beragama, seperti yang sudah pernah terjadi di Maluku, Poso dan daerah lainnya; Apakah komitmen persaudaraan kebangsaan akan tetap mengemuka?

Kalau sampai aparat militer dan kepolisian harus berhadapan dengan kaum teroris beragama sama, apakah mereka akan tetap bersedia bertindak tegas?

Atau bahkan kita bisa mengaitkannya dengan proses karier di dalam TNI. Apakah karier seorang anggota TNI akan dipengaruhi oleh agama yang dipeluknya? Apakah para atasan yang mengambil keputusan akan mempertimbangkan agama anggota?

Ini bukan pertanyaan mengada-ada. Ini pertanyaan riil yang semakin relevan dengan kondisi saat ini.

Apalagi kita juga sudah sering mendengar bahwa saat ini kalangan penyebar gagasan Islamisme, persaudaraan muslim atau bahkan pro Khilafah secara aktif bergerak bukan saja di masyarakat umum, namun juga di lembaga-lembaga strategis, termasuk TNI dan POLRI.

Dalam kaitan itulah, pernyataan Dudung merupakan cerminan sikap yang bukan saja seharusnya didukung bersama, namun juga kita harapkan bisa menyebar di seluruh jajaran TNI-POLRI.

Orang seperti Refly Harun dan para kadrun lainnya bisa saja mencaci Dudung sebagai anti-Islam atau bahkan neo-PKI dan sebagainya.

Namun orang seperti mereka pada dasarnya memang akan memanfaatkan setiap peluang sekecil apapun untuk melakukan delegitimasi pemerintah saat ini, termasuk menghabisi Panglima Kostrad.

Orang-orang semacam itu tidak layak didengar, karena apa yang mereka ucapkan hanyalah merefleksikan keputusasaan mereka.
Mari kita dukung Letjen Dudung Abdurrahman.

Komentar