TIPU-TIPU FRONT PERSAUDARAAN ISLAM

Oleh: Ade Armando

FPI sudah lahir kembali. Kini nama mereka sudah diubah menjadi Front Persaudaraan Islam.

Dengan cepat sudah terbentuk cabang-cabang FPI baru ini di banyak daerah: DKI, Surabaya, Tebing Tinggi (Sumatra Utara), Ciamis, Bangka Belitung, Serang Banten, Jawa Tengah, Madura dan seterusnya.

Nama mereka sih boleh baru, tapi kita semua tidak boleh lengah dengan kehadirannya. Gerakan-gerakan Islam radikal semacam ini adalah ancaman serius bagi Indonesia.

Kemenangan Taliban di Afghanistan sudah harus membangunkan kita bahwa ancaman dari luar masih belum berhenti. Dan di dalam negeri, kini kita tahu, FPI masih ada.

Kita memang tidak perlu panik berlebihan, namun kita juga tak boleh terperdaya. FPI baru ini jelas-jelas ingin menghidupkan kembali FPI lama. Mereka ingin mengingatkan publik bahwa mereka tetap ada.

Kalau mereka memang ingin membangun sebuah organisasi baru, dengan roh baru, dengan semangat baru, tentu mereka tidak akan begitu saja menggunakan kembali nama FPI yang sebetulnya melekat dengan nama organisasi terlarang yang sudah dibubarkan.

Mereka tetap menggunakan FPI karena mereka percaya dengan perjuangan FPI, dan mereka percaya bahwa penutupan FPI adalah bentuk kezaliman rezim Jokowi.

Mereka menggunakan nama FPI karena mereka percaya bahwa FPI harus hidup kembali. Mereka tetap menggunakan nama FPI karena mereka tahu FPI adalah sebuah brand yang sudah jadi, sudah terkenal, sudah gampang dijual, sudah tertanam kuat di kepala banyak orang.

Namun pada saat yang sama, mereka tahu juga bahwa mereka harus mengubah singkatan huruf P agar mereka diizinkan hidup kembali. Dengan kata lain FPI ini adalah FPI berjubah baru untuk menutup jati diri mereka sebenarnya, dan jubah itu akan mereka buka begitu kondisinya memungkinkan.

Pilihan istilah ‘Persaudaraan’ sebagai pengganti ‘Pembela’ adalah sebuah cara cari aman tapi sekaligus juga untuk memperluas basis mereka. Mereka ingin menghilangkan asosiasi kekerasan mengingat pembela bisa membawa konotasi berperang melawan musuh Islam.

Sebagai catatan ketika gagasan FPI reborn pertama kali diudarakan pada akhir Desember 2020, nama yang digunakan adalah Front Persatuan Islam, bukan Persaudaraan Islam. Ketika itu yang menjadi Ketua Umum Front Persatuan Islam adalah tokoh yang dikenal suka menyebarkan ujaran kebencian, Shabri Lubis, yang kini sudah berada dalam tahanan.

Sementara sekretaris umumnya adalah adalah Munarman yang kini sudah dinyatakan sebagai tersangka dalam kaitan dengan dugaan terorisme. Begitu juga dalam siaran pers Front Persatuan Islam saat itu masih terbaca kalimat seperti: ‘menghadapi rezim yang dzolim’ dan semacamnya.

Pendek kata, watak garang Front Pembela Islam masih melekat kuat dalam Front Persatuan Islam. Kini image ‘kekerasan ‘itu yang berusaha dibersihkan.

Perubahan nama menjadi Front Persaudaraan Islam mungkin sekali digunakan agar publik bisa mengasosiasikan FPI dengan konsep yang sangat dikenal umat Islam: Ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mengandung arti persatuan antar sesama pemeluk Islam. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap muslim adalah saudara bagi sesama muslim lainnya. Seorang muslim harus menganggap muslim lainnya sebagai saudara tanpa memandang latar belakang keturunan, kebangsaan, etnik, ras atau yang lainnya.

Dengan kata lain, FPI ingin melepaskan diri dari image bahwa perjuangan utama mereka adalah terlibat dalam perang atas nama Islam. Mereka saat ini seolah menitikberatkan perjuangan pada membangun persaudaraan muslim.

Tapi, pimpinan FPI baru ini adalah adalah orang-orang lama. Ketuanya adalah mantan Imam FPI Banten, Ahmad Qurthubi Jaelani. Dan nama Ahmad Shabri Lubis tetap ada menduduki jabatan sebagai penasihat Front Persaudaraan Islam.

Upaya mengelabui publik ini juga terlihat dalam perubahan asas organisasi FPI baru ini. FPI lama dibubarkan terutama karena di dalam AD/ART mereka secara spesifik dinyatakan organisasi ini akan menegakkan Syariah Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah.

Dengan menyatakan itu, FPI lama pada dasarnya menempatkan Syariah di atas hukum Indonesia. Dan dengan menyatakan itu, FPI tidak tunduk pada pemerintahan sah NKRI melainkan pada Khilafah.

Sampai saat terakhir sebelum dibubarkan, FPI berkeras tak mau mengubahnya. Kini mereka mengakalinya dengan mengubah redaksi asas organisasi. FPI baru menyatakan bahwa asas organisasi FPI adalah Islam.

Sementara asas kebangsaan organisasi adalah Pancasila. Kemudian mereka menyatakan FPI memiliki paradigma perjuangan yang seolah menunjukkan bahwa mereka bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang lebih inklusif.

Lima paradigma juang mereka adalah Bela Agama dan Bela Negara, Dakwah dan Pendidikan Islam, Penegakan Hukum dan HAM, Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana, serta Pengembangan Media yang Jujur dan Amanah.

Bahkan mereka memiliki tiga program juang unggulan, yaitu deliberalisasi, deradikalisasi dan aswajaisasi.

Deliberalisasi merujuk pada penolakan terhadap ideologi liberal yang melahirkan ateisme, komunisme dan kapitalisme. Deradikalisasi merujuk pada penolakan terhadap ideologi radikal yang melahirkan ekstremisme, terorisme serta separatisme.

Dan terakhir aswajaisasi yang adalah penyebaran ajaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah yaitu ajaran yang mengikuti perilaku nabi Muhammad dan para sahabatnya di satu abad pertama sejarah Islam.

Nah, dengan perubahan itu, apakah FPI kini bisa dipercaya sebagai organisasi baru yang mentransformasi diri menjadi kelompok yang terbuka, toleran, inklusif, cinta damai, pro NKRI?

Saya sih meragukannya.

Seperti saya katakan, kalau mereka memang ingin membangun sebuah gerakan yang membawa semangat visi, cita-cita berbeda, kenapa mereka tetap bertahan dengan nama FPI?

Kedua, orang-orang yang menduduki jabatan tinggi di dalamnya juga berkarakter serupa dengan FPI di era Rizieq.

Tadi saya sudah menyebut nama Shobri Lubis. Dia dikenal sebagai pemuka FPI bermulut kotor dan suka sekali menggunakan kata-kata penuh kebencian terhadap orang-orang yang berseberangan dengan keyakinannya.

Misalnya saja, salah satu video terkenal tentang Shobri adalah saat ia dengan gegap gempita menyemangati jemaahnya untuk membunuhi para pengikut Ahmadiyah. ‘Ahmadiyah halal darahnya,’ teriak dia di panggung, ‘bunuh, bunuh, bunuh!’ Dia adalah muslim radikal sesungguhnya.

Sementara sang Ketua Umum baru, Ahmad Qurtubi Jaelani, adalah tokoh yang sering disebut turut bertanggungjawab atas pembantaian jemaah Ahmadiyah di Ciekusik, Banten, 2011.

Pada saat itu gerombolan warga masyarakat dengan beringas menyerang sebuah rumah yang dihuni jemaah Ahmadiyah, dan membunuh setidaknya tiga korban di rumah itu dengan biadab.

FPI Banten disebut sebagai salah satu penggerak dan pelakunya, dan Ahmad Qurtubi adalah Ketua FPI Banten. Baik Sabri maupun Ahmad Qurtubi selama ini tidak dikenal sebagai ulama berwawasan luas, berpengetahuan Islam mendalam, dan memperjuangan kedamaian.

Jadi, kalau pimpinannya saja seperti ini, layakkah kita berharap FPI baru ini akan meninggalkan pola-pola FPI lama?

Kita juga layak meragukan kesungguhan perubahan landasan organisasi FPI. Mereka menyatakan asas organisasi mereka adalah Islam.

Pertanyaannya: Apakah dengan demikian, FPI sudah meninggalkan komitmen untuk menegakkan syariat secara kaffah di bawah Khilafah?

Apakah kepatuhan mereka ditujukan pada hukum Indonesia atau pada syariat Islam Apakah mereka menganggap prinsip persaudaraan Islam adalah lebih tinggi dari persaudaraan kebangsaan nasional? Apakah mereka menganggap Khilafah lebih tinggi dari NKRI?

Itu semua harus bisa dijelaskan oleh Front Persaudaraan Islam. Saya duga mereka tak akan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, karena Front Persaudaraan Islam pada dasarnya adalah Front Pembela Islam dengan jubah baru. Mereka saat ini memang tidak lagi dipimpin Rizieq Shihab dan Munarman.

Tapi mereka akan terus membina basis massa yang sudah terbangun selama bertahun-tahun untuk mewujudkan misi lama mereka. Jangan percaya Front Persaudaraan Islam.

Komentar