BERITA BODONG 1000%: MEGAWATI KOMA

Oleh: Ade Armando

Benarkah Megawati koma? Pertanyaan ini menggema di tengah masyarakat sepekan terakhir ini. Dan gara-gara ini Dewan Pimpinan Daerah PDIP DKI Rabu kemarin resmi melaporkan jurnalis senior sekaligus aktivis media sosial Hersubeno Arief ke Polda Metro Jaya.

Hersu, begitu panggilannya, dilaporkan karena dianggap menyebarkan berita bohong soal Megawati dalam kondisi koma dalam kanal YouTubenya tertanggal 9 September.

Soal sakitnya Mega sendiri sudah terbantah dengan hadirnya sang Ibu dalam acara pembukaan pelatihan kader madya PDIP. Ibu Mega juga menyatakan bahwa dia sehat walafiat. Memang sih wartawan tidak melihat langsung Mega. Dia hanya tampil secara online dan membantah hoax bahwa dia sakit.

Tapi paling tidak kalaupun sebenarnya Bu Mega sakit, kita semua bisa menyaksikan bahwa dia tidak sedang koma.

Karena itu sekarang yang ramai adalah soal Hersu. Apakah kalau sekarang terbukti Megawati tidak koma, artinya Hersu memang menyebarkan kabar bohong?

Dalam hal ini, saya akan katakan, rasanya sih Hersu tidak akan terjerat hukum. Ketika dia berbicara di kanal YouTubenya, dia berbicara dengan cara cukup berhati-hati sehingga rasanya dia tidak akan bisa diperkarakan secara hukum.

Walau setelah mengatakan begitu, saya tetap akan mengatakan apa yang dilakukan Hersu sama sekali tidak pantas, tidak professional, dan mencederai prinsip dasar jurnalisme. Dengan kata lain, Hersu mungkin bukan pelanggar hukum, tapi dia adalah wartawan yang buruk.

Sebenarnya Hersu bukan orang yang pertama kali menyebarkan kabar Megawati koma. Video Hersu berjudul ‘KETUM PDIP MEGAWATI DIKABARKAN KOMA DAN DIRAWAT DI RSPP’, pada intinya adalah soal simpang siurnya pemberitaan mengenai Megawati.

Di awal video berdurasi 12 menit itu, Hersu membacakan sejumlah postingan berita tentang kondisi kesehatan Megawati. Menurutnya, rumor soal kondisi Megawati itu bahkan mengalahkan berita kebakaran Lapas Kelas I Tangerang.

Kemudian Hersu menegaskan belum ada kepastian soal rumor sakitnya Mega ini. Masalahnya, para fungsionaris PDIP terkesan ragu-ragu memberikan jawaban ketika ditanya wartawan.

Menurut Hersu, sikap ragu-ragu fungsionaris PDIP itu membuat rumor semakin kencang. Ia lalu mengaku menerima WhatsApp dari temannya, yaitu seorang dokter yang mengabarinya soal kondisi Megawati.

Kata Hersu: Seorang teman dokter bahkan sempat mengirimkan WA ke saya yang bunyinya begini: Megawati koma. Di ICU RSPP. Valid 1.000 persen.”

Kemudian tambah Hersu: “Nah, kalau ada seorang teman dokter yang mengirim berita seperti ini, saya jadi rada-rada yakin, walaupun sebagai media saya harus melakukan verifikasi.”

Hersu kini dilaporkan atas dasar dugaan pelanggaran Pasal 28 ayat 2 UU ITE serta pelanggaran Pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Pasal 28 ayat 2 UU ITE itu adalah pasal yang melarang orang menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian atau permusuhan individu atau kelompok berdasarkan SARA.

Sementara pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 adalah pasal yang melarang orang dengan sengaja menyebarluaskan informasi yang belum pasti atau berlebihan yang diduganya akan bisa menimbulkan keonaran.

Saya memang bukan ahli hukum, namun dengan membaca isi pasal-pasal tersebut, sulit rasanya Hersu akan diperkarakan secara hukum.

Video Hersu jelas tidak ditujukan untuk menimbulkan kebencian antarindividu atau kelompok berdasarkan SARA. Hersu juga tidak bisa dikatakan dengan sengaja menyebarkan informasi yang diduga bisa menimbulkan keonaran.

Hersu terlihat berhati-hati melindungi dirinya agar tidak bisa dituduh melanggar hukum. Dia menulis “Megawati dikabarkan sakit”, jadi bukan “Megawati sakit”. Dia menyatakan berita sakitnya Mega belum pasti, dan hal ini harus diverifikasi. Karena itu saya duga, pelaporan ini tidak akan membawa Hersu ke pengadilan.

Tapi, seperti saya katakan tadi, apa yang dilakukan Hersu menunjukkan dia tidak mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik yang baik. Salah satu prinsip paling dasar yang harus dipatuhi jurnalis adalah komitmen pada kebenaran.

Seorang jurnalis yang baik tidak akan dengan sengaja menyesatkan pembacanya. Kebebasan pers itu tidak pernah berarti bebas untuk menulis seenak hati. Dalam demokrasi, kebebasan harus dimiliki seorang jurnalis dengan asumsi jurnalis tersebut jujur.

Kalau jurnalis bekerja tanpa landasan etik, kebebasan pers akan menghasilkan kekacauan.

Dalam hal ini, menurut saya kesalahan Hersu adalah dengan sengaja berusaha membuat orang percaya Megawati sakit padahal dia sebenarnya belum cukup punya informasi dan belum cukup yakin bahwa Megawati memang sakit, apalagi koma.

Sebagai seorang jurnalis yang anti PDIP, anti Jokowi, Hersu boleh-boleh saja berharap Megawati sakit atau bahkan meninggal. Tapi sebagai seorang jurnalis dia harus menjaga integritasnya dengan hanya menyampaikan kebenaran pada publik.

Ketika dia mengatakan Megawati dikabarkan koma, dia masih berada di jalur yang benar. Ketika dia memaparkan bahwa diamnya sejumlah fungsionaris PDIP tentang kondisi Mega justru memperkuat kecurigaan, dia masih berada di jalan yang benar. Tapi sayangnya Hersu rupanya tidak puas kalau hanya mengatakan itu.

Saya rasa karena kebenciannya pada Megawati, dia merasa harus menambahkan sebuah kutipan yang datang dari seorang dokter yang dia sembunyikan identitasnya. Saya ulang ya kalimat Hersu.

Dia mengatakan bahwa seorang teman dokter mengirimkan WA berbunyi: Megawati koma. Di ICU RSPP. Valid 1.000 persen. Kemudian tambah Hersubeno: “Nah, kalau ada teman seorang dokter yang mengirim berita seperti ini, saya jadi rada-rada yakin…”

Sebagai jurnalis, Hersu tidak bisa mengutip begitu saja kiriman WA seorang dokter yang tidak jelas kredibilitasnya, dan kemudian menyerahkan kepada penonton untuk menilainya.

Apalagi dia mengatakan ‘kalau ada dokter mengirim berita seperti ini, saya jadi rada-rada yakin”. Jurnalis tidak bisa bekerja dengan cara serampangan semacam itu.

Dia harus bertanya kepada si dokter: apa sumber informasi yang dikatakan 1000 persen valid itu? Apakah si dokter menyaksikan langsung? Apakah temannya yang bercerita? Apakah si teman itu menangani langsung Mega? Apa penyebab koma Mega? Di ruangan manakah Mega dirawat? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan standar yang harus diajukan seorang jurnalis kepada si pengirim berita. Jurnalis harus memiliki skeptisisme terhadap informasi yang dia terima.

Akan lain halnya kalau Hersubeno menjelaskan bahwa dia memperoleh informasi ini dari berbagai sumber yang dia percaya. Kalau dia memang percaya akan validitas informasi, dia tentu saja boleh menyampaikannya kepada publik kalaupun ini bukan informasi resmi.

Tapi seorang jurnalis harus menverifikasi kebenaran informasi itu terlabih dulu sampai optimal, baru kemudian menyampaikannya kepada publik.

Kembali saya katakan, jurnalis memiliki serangkaian prinsip yang harus dipatuhi. Hersu itu bukan wartawan kemarin sore. Saya pernah bekerja bersama dengannya pada tahun 1990an di harian Republika. Karena itu saya tahu kualitasnya.

Dia tentu tahu persis bahwa cara menyajikan informasi bahwa Megawati koma seperti yang disajikannya sama sekali tidak layak.

Saya percaya bahwa Hersu tidak layak dipidanakan. Tapi saya juga percaya, videonya itu tidak layak untuk ditayangkan.

Komentar