TONTON SEBELUM DI TAKEDOWN, BANGKITNYA NEO FPI

Oleh: Denny Siregar

Harus saya katakan di awal, gak mudah melawan kelompok garis keras berbaju agama ini. Mereka sudah terlanjur menyebar dan berakar sejak Reformasi 1998. Itu kesalahan negara juga sih, ketika negara dulu membentuk pasukan Pam Swakarsa untuk menghadapi rakyat yang sedang marah. Dan akhirnya, tumbuhlah ormas-ormas yang merasa mendapat perlindungan dari aparat dan mereka kemudian masuk ke sendi-sendi kehidupan kita dengan motto munafiknya, yaitu memberantas kebatilan. Padahal tujuannya kalau gak uang, ya kekuasaan.

Salah satu ormas berbaju agama yang tumbuh di masa reformasi dan mendapat banyak fasilitas untuk berkembang adalah FPI atau Front Pembela Islam. FPI yang dikomandani Rizieq Shihab ini kemudian membesar dan berkembang di daerah-daerah. Mereka ini mirip preman, tetapi berbaju agama. Kader-kadernya juga bukan para santri yang paham agama, tetapi preman pasar, anak-anak genk motor, pengangguran, dan orang-orang yang suka dengan kekerasan. Di antara mereka juga ada yang suka mabuk-mabukan, ada bandar narkoba, dan biasanya mendapat jatah keamanan dari pub-pub yang menjual minuman keras. Hanya karena mereka suka pakai baju agama, orang menganggap apa yang mereka perbuat itu selalu benar.

Salah satu perekrut yang handal di dalam FPI adalah Munarman. Munarman ini pengacara dan dulu aktivis YLBHI. Dia masuk ke FPI dengan tujuan membesarkan kelompok ini dari sekadar ormas jalanan untuk masuk ke percaturan politik Indonesia. Bagaimana caranya? Ya dengan menjadikan FPI bukan lagi sebagai ormas lokal Jakarta, tetapi menjadi ormas dengan skala nasional. Dengan besarnya massa FPI ini, maka mereka akan diperhitungkan untuk dipakai sebagai alat politik untuk memenangkan kandidat politik di daerah dan juga nasional. Salah satu karya terbesar FPI menurut mereka adalah dengan mengumpulkan ratusan ribu massa di Monas lewat agenda menggulingkan Ahok atau dikenal dengan nama Aksi 212.

Kekuatan FPI itu ada di aksi massa. Mereka berharap dengan melakukan aksi tekanan massa atau trial by mass, maka FPI bisa menekan aparat kepolisian juga keputusan pengadilan. Ancaman mereka biasanya adalah, kalau keinginan mereka tidak dipenuhi, maka negara akan mereka bikin chaos. Dan ini sudah berkali-kali mereka lakukan di daerah, dan puncaknya adalah ketika mereka berhasil menekan pemerintah dengan ancaman chaos untuk memasukkan Ahok ke penjara.

Jujur harus saya bilang, pada waktu tahun 2016-2017 itu, pemerintah masih gagap dalam memperkirakan besarnya kekuatan mereka, sehingga harus mundur sejenak supaya tidak terjadi kerusakan yang lebih besar dengan terbakarnya Indonesia. Ahok adalah martir supaya negara ini tetap tenang. Tetapi sesudah itu, negara melawan dengan kekuatan penuh untuk membubarkan organisasi ini dan memenjarakan para elitnya yang sudah sangat mengganggu.

Nah, kalau kita melihat apa yang terjadi di negara luar, seperti di Nigeria misalnya, di sana ada kelompok teroris yang kejam bernama Boko Haram. Boko Haram ini dulu sama seperti FPI, mereka ormas yang dibangun untuk kekuatan politik di daerah saja. Tetapi ketika Boko Haram akhirnya bersentuhan dengan ISIS, maka dia menjelma menjadi monster besar dengan pendanaan yang tidak terbatas untuk melawan pemerintahan Nigeria dan berusaha menguasai negara. Begitu juga di Afghanistan, Taliban awalnya hanyalah ormas kecil di sebuah daerah di Afghanistan. Mereka menjadi besar ketika bersentuhan dengan jaringan Al-Qaeda dan mendapat pasokan dana yang sangat besar untuk perang dan menguasai negara.

FPI juga begitu. Di tangan Munarman, FPI mulai bersentuhan dengan ISIS, dengan harapan bisa memperbesar pasukannya seperti Boko Haram dan Taliban. Munarman, tahun 2015, terlihat hadir di acara pembaiatan ISIS di Makassar. Dan menurut sebuah laporan, Munarman memang ingin mengambil alih FPI dan menjadikannya sebagai organisasi teroris internasional. Rizieq Shihab hanyalah simbol saja buat mereka yang harus dipelihara, sedangkan Munarman lah otak di balik semua besarnya kekuatan FPI.

Ingat peristiwa pertempuran polisi dan FPI di KM 50? Itu sebuah momen yang menyadarkan kita, bahwa pasukan Munarman sudah mendapatkan latihan dasar militer dengan memakai senjata api untuk melawan polisi. Untungnya polisi kita sigap sehingga merekalah yang tewas duluan. Makanya saya ini heran ketika petugas di sana mau diajukan ke pengadilan, karena dalam situasi berbahaya yang ada cuma konsep kill or be killed. Siapa yang tumbang duluan. Cuma karena FPI ini jago framing di media sosial, dan mereka didukung oleh kelompok garis keras berbaju agama lainnya, mereka membangun narasi seolah-olah di KM 50 itu terjadi pembantaian oleh polisi.

Dan sejak peristiwa itu, FPI dibubarkan oleh pemerintah. Alasan pemerintah, FPI adalah organisasi yang tidak berazaskan Pancasila tetapi punya niat untuk membangun negara agama dengan konsep khilafah. Dan itu memang tercantum dalam AD/ART FPI. Apalagi Rizieq Shihab dalam disertasinya ingin mengembalikan konsep Piagam Jakarta di tahun 1945 yang ingin menjadikan negara Indonesia adalah negara satu agama.

Dan sesudah dibubarkan, Rizieq dan Munarman juga ditangkap aparat, FPI sempat tiarap. Tetapi kemudian mereka muncul lagi dengan nama sama tapi singkatan berbeda, yaitu Front Persaudaraan Islam. Siapa sih mereka? Ya, orang-orang FPI lama yang seperti ular, cuma ganti kulitnya doang. Buktinya di sana ada Sobri Lubis, yang dulu menjadi Ketua Umum FPI, dan sekarang menjadi Dewan Pembina. Sobri Lubis juga sekarang ada di penjara bersama Rizieq Shibab.

Mereka bisa saya bilang Neo FPI. Tujuannya sama, yaitu mengembangkan organisasi yang sempat tiarap karena Rizieq dan Munarman ditangkap, juga anggota mereka ditembak polisi. Mereka melakukan deklarasi di mana-mana, untuk kembali merapatkan barisan. Ghirah atau semangat mereka terinspirasi dari menangnya ormas Taliban di Afghanistan dan sekarang memimpin negara.

Nah, siapa yang membiayai Neo FPI ini, karena tidak mungkin mereka bisa besar kalau gak ada logistik yang kuat? Saya tahu sih orang-orangnya, tapi gak mungkinlah saya sebutkan di sini. Yang bisa saya sampaikan adalah, Neo FPI ini akan bergerak mengumpulkan massa waktu sidang KM 50 juga sidang Munarman. Mereka akan kumpulkan massa dari daerah-daerah, terutama dari Jawa Barat, untuk datang ke Jakarta hadiri persidangan dan membuat kekacauan di sana.

Penting untuk Neo FPI ini bikin kumpulan massa di persidangan, karena itu bagian dari strategi marketing mereka untuk merekrut anggota baru dan mendapatkan sponsor baru. Banyaknya massa yang datang nanti akan mendatangkan sponsor yang akan menggunakan kekuatan mereka kelak di Pilpres 2024. Neo FPI ini sedang menggalang kekuatan dalam diam, untuk mencari keuntungan ke depan. Mereka haus kekuasaan dan sudah merasakan manisnya uang. Jadi mereka harus bangkit kembali supaya kerinduan masa lalu ketika mereka jaya, bisa dituntaskan.

Saya siap melawan Neo FPI itu meskipun cuma di media sosial. Buat saya, tidak boleh ada seorangpun atau komunitas apapun, yang merasa dirinya berada di atas negara. Siapa yang mau ikutan? Silakan angkat cangkir kopinya.

Komentar