NGAWUR! MANA ADA RIBUAN PENDERITA COVID JALAN-JALAN DI MALL?

Oleh: Ade Armando

Kalau Anda baca judul-judul berita seperti yang akan saya kutip ini, harap paham ini adalah judul-judul yang menyesatkan.

Ada satu media menulis: “Terungkap! 3 Ribu Orang Positif Covid-19 Nekat Masuk Mal” Media lain menulis: “Cuma di RI, Ribuan Orang Positif Covid Jalan-jalan di Mal”

Judul dramatis ini berlebihan dan menyesatkan. Penulis beritanya mungkin dulu penulis judul sinetron Rahasia Ilahi. Pokoknya makin dramatis makin bisa menarik pembaca.

Kalau Anda baca judul-judul itu, mungkin Anda membayangkan di mal yang sering Anda kunjungi kini berkeliaran para pengidap Covid-19.

Yang terjadi sama sekali bukan begitu. Berita di atas sebenarnya merujuk pada penjelasan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dia itu sedang bicara soal manfaat aplikasi PeduliLindungi.

Pada awal September, pemerintah mulai mewajibkan bahwa warga harus menggunakan aplikasi ini bila masuk ke tempat keramaian.

Ternyata, kata Pak Budi, terungkap bahwa dalam waktu singkat saja tercatat ada 3.830 orang yang masuk kategori hitam masih nekat jalan-jalan ke tempat umum seperti mal, melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat maupun kereta api.

Kategori hitam dalam PeduliLindungi berarti positif Covid-19. Merah berarti belum memiliki sertifikasi vaksin Covid-19. Kuning berarti baru satu kali divaksin atau adalah penyintas Covid-19. Sedangkan hijau berarti sudah dua kali divaksin.

Yang masuk kategori hitam, yaitu orang yang mengidap Covid-19, pasti akan ditolak masuk mal.

Nah, menurut data Menkes tercatat tadi itu, hampir 4.000 orang berkategori hitam terdeteksi ketika mau masuk mal, 43 mau masuk bandara, 63 mau naik kereta, dan mau masuk restoran 55 orang.

Ini menjadi informasi penting karena seharusnya masyarakat yang terdeteksi positif Covid-19 tidak boleh keluar rumah. Mereka seharusnya wajib melakukan isolasi mandiri atau dirawat di tempat isoloasi terpusat.

Menurut Menkes, ke depannya, pemerintah akan menindak tegas para pasien Covid-19 yang ketahuan jalan-jalan di tempat umum. Mereka akan segera dibawa ke tempat isolasi terpusat untuk mencegah penularan di tengah masyarakat.

Jadi sama sekali tidak benar kalau dikatakan bahwa ada ribuan orang positif Covid-19 masuk dan jalan-jalan di mal. Yang ingin ditekankan Menkes adalah dia itu heran kok banyak sih orang yang positif Covid-19 masih berkeliaran di jalan-jalan termasuk ingin masuk ke mal.

Untungnya, gara-gara ada prosedur cek melalui PeduliLindungi, mereka ini bisa dicegah berbaur. Gaya jurnalistik yang dramatis seperti tadi itu memang sudah menjadi kebiasaan terutama wartawan online.

Isinya apa, judulnya ke mana. Tapi berita semacam ini bisa punya implikasi serius.

Penerapan PeduliLindungi itu kan dilakukan agar masyarakat bisa kembali bermobilitas sesudah PPKM. Ekonomi harus kembali bergerak.

Orang harus kembali berkunjung ke tempat-tempat perbelanjaan supaya ada transaksi perdagangan. Selama ini yang dikhawatirkan adalah kalau orang keluar rumah dan berkumpul dengan para pengidap Covid-19, tidakkah itu akan mendorong kembali penularan?

Karena itu banyak orang tidak suka jalan-jalan ke tempat-tempat di mana banyak orang berkumpul. Kehadiran PeduliLindungi bisa mengurangi kekhawatiran kita. Walau ketika ke mal semua protokol kesehatan sudah dan tetap harus dijalankan, paling tidak kita tahu kita berada bersama mereka yang sudah tervaksin.

Ini akan membuat kita lebih pede. Tapi kalau sekarang media mengabarkan bahwa di mal itu ada ribuan orang pengidap Covid-19 berjalan-jalan, apa itu tidak akan menciutkan nyali kita?

Karena itu marilah kita berharap media jangan malah menimbulkan mispersepsi. Saat ini pemerintah sudah mati-matian mencegah agar segenap skenario kiamat tentang Covid-19 tidak terwujud di Indonesia.

Dan hasilnya sudah terlihat. Banyak negara memuji keberhasilan Indonesia memerangi Covid-19. Negara tetangga kita, Malaysia, dikabarkan menyatakan merasa perlu belajar pada Indonesia.

Dan buat saya, salah satu terobosan penting yang diterapkan di sini adalah PeduliLindungi. Memang ada saja suara sumbang terdengar.

Peter Gontha misalnya menulis dengan yakin di Instagramnya bahwa aplikasi PeduliLindungi berbahaya karena akan memungkinkan data penggunanya dicuri Singapura.

Dia menulis begini di Instagramnya:

“Ternyata aplikasi PeduliLindungi itu aplikasi bikinan Singapura. Gila… Seluruh data kita direkam Singapura, dan kedaulatan data Indonesia sudah ada di tangan mereka, meski ini aplikasi Telkom. Mereka tahu alamat kita, tanggal lahir kita, email kita, kita makan apa, kita ke mana aja, semua mereka tahu.”

Belakangan terbukti bahwa tuduhan Peter itu ngawur. PeduliLindungi adalah aplikasi anak bangsa sepenuhnya, dikembangkan Telkom, walau dengan meniru apa yang sudah dikembangkan di Singapura. Dan sama sekali tidak benar bahwa melalui aplikasi itu, data orang Indonesia bisa mengalir ke Singapura.

Postingan dari Peter Gontha itu sekarang sudah dihapus. Yang juga mengkritik penggunaan PeduliLindungi adalah Ketua DPR Puan Maharani.

Menurutnya, aplikasi tersebut cenderung diskriminatif karena tidak semua masyarakat memiliki smartphone, padahal aplikasi PeduiLindungi hanya bisa diunduh melalui smartphone.

Puan khawatir ada hak rakyat yang hilang hanya karena yang bersangkutan tidak memiliki telepon seluler pintar. Menurut Puan, pemerintah harus memikirkan mekanisme lain bagi seratus juta lebih penduduk yang tidak punya smartphone.

“Mereka tidak boleh berkurang haknya karena tidak memiliki smartphone,” kata Puan.

Kekhawatiran Puan sangat beralasan. Namun ini bukan tidak ada jalan keluarnya. Pemerintah sendiri sudah menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu, masyarakat bisa menunjukkan bukti sertifikasi vaksinnya secara manual.

Jadi mereka yang tidak memiliki smartphone, sebaiknya mencetak dan membawa sertifikat vaksinya ke manapun mereka pergi. Ini memang terasa mempersulit mereka yang tidak punya smartphone.

Namun nampaknya memang tidak ada jalan lain yang lebih efisien mengingat kewajiban untuk menunjukkan sertifikat vaksin adalah sebuah pilihan yang terbaik untuk mengendalikan peluang penyebaran virus di tempat umum.

Sejauh ini, manfaat PeduliLindungi sudah terlihat jelas. Sejak diluncurkan hingga saat ini sudah ada 50 juta pengguna aplikasi PediliLindungi. Aplikasi ini penting bukan hanya untuk mecegah membaurnya mereka yang terkena Covid-19 dengan yang sehat, namun juga untuk melacak pasien.

Dengan menggunakan PeduliLindungi, orang-orang yang terinfeksi Covid-19 atau sempat melakukan kontak dengan pasien bisa terdeteksi riwayat perjalanannya. Dalam hal ini, PeduliLindungi ini juga bisa berfungsi sebagai tracing.

Begitu seorang pengidap Covid-19 datang ke sebuah tempat, dengan segera terekam datanya sehingga bisa diketahui siapa saja yang mungkin berinteraksi dengannya di lokasi itu.

Aplikasi PeduliLindungi memang layak didukung sebagai alat untuk melindungi masyarakat.

Komentar