ANIES, HANGUSNYA UANG RAKYAT Rp 2,4 T, DAN KONEKSI JUSUF KALLA

Oleh: Ade Armando

Ajang Formula E adalah cara semesta menghukum Anies Baswedan. Tanpa dibayangkan semula, ajang balapan berskala dunia ini akan menjadi salah satu warisan terburuk Anies.

Sekarang sudah semakin terungkap bahwa proyek mercusuar Anies di Jakarta ini berpotensi merugikan negara setidaknya Rp 2,4 T. Itu uang semua, nggak ada pasirnya.

Kerugian ini harus ditanggung rakyat Indonesia karena Pemprov DKI rupanya sudah menandatangani kontrak untuk menyelenggarakan acara Formula E selama lima tahun berturut-turut, dari 2020-2024, dan Pemrov sudah menyetujui untuk membayar commitment fee untuk penyelenggaraan selama lima tahun itu.

Celakanya, commitment fee kepada FEO (Formula E Operations) itu tidak dapat dibatalkan. Pemprov DKI sudah membayar dua kewajiban untuk tahun 2020 dan 2021, kepada FEO, sebesar kurang lebih Rp 860 Miliar.

Uang itu sudah hangus, meski balap Formula E batal dilaksanakan. Tapi masih ada tiga kali lagi kewajiban yang masih harus dibayarkan, sebesar kurang lebih Rp 1,5 Triliun.

Nah, itu juga akan hangus kalau balap formula E tidak akan diselenggarakan tahun 2022, 2023 dan 2024. Anies memang sudah menginstruksikan agar pada Juni 2022 di Jakarta tetap berlangsung ajang balap mobil elektrik itu.

Namun dengan kondisi pandemi yang masih belum menentu, kita layak pesimistis bahwa itu akan jadi diwujudkan.

Apalagi pada 2023 dan 2024, Anies sudah turun dan diganti oleh pejabat gubernur yang ditunjuk Mendagri. Sangat mungkin, acara itu pun akan dibatalkan.

Jadi, gara-gara kedunguan Anies, uang rakyat sebesar Rp 2,4 T akan lenyap begitu saja. Potensi kerugian sebesar ini seharusnya sudah bisa diketahui secara resmi oleh rakyat melalui penjelasan Anies.

Tapi Anies terus berusaha menutupinya. Sampai-sampai PSI dan PDIP harus berusaha menggalang suara sesama wakil rakyat di DPRD untuk mengajukan hak interpelasi kepada Anies untuk menjelaskan persoalan Formula E.

Tapi itu nampaknya akan gagal karena kekompakan fraksi-fraksi yang – entah kenapa – sudah bersepakat untuk tidak mengganggu kenyamanan Anies.

Ndilalahnya, tiba-tiba saja kini beredar sebuah surat internal Pemprov DKI yang menunjukkan berapa besar uang yang harus dibayar negara ini sebagai komitmen fee penyelenggaraan Formula E.

Surat ini dibocorkan entah siapa. Surat yang dikeluarkan Dinas Pemuda dan Olahraga DKI kepada Anies ini ditulis pada 15 Agustus 2019, alias dua tahun yang lalu.

Jadi rupanya ada pihak yang semakin eneg dengan kebisuan Anies, dia membocorkan surat lama itu kepada wartawan agar publik tahu tentang blunder fatal Anies.

Dalam surat itu dikatakan, Pemprov DKI WAJIB – saya ulang ya: WAJIB – membayar commitment fee penyelenggaraan ajang balap Formula E selama lima tahun.

Perincian bayaran per-tahunnya tertera secara jelas. Jumlah Commitment Fee yang harus dibayarkan setiap tahun terus meningkat.

20 juta poundsterling untuk event pada 2020, lantas naik jadi 22 juta pound pada 2021, naik lagi menjadi 24 juta pada 2022, lantas jadi 26 juta pada 2023, dan 29 juta pada 2024.

Seperti dikatakan di awal, totalnya, selama 5 tahun itu Pemprov harus membayar sekitar 122 juta poundsterling alias Rp 2,4 T. Yang menarik dari isi surat itu, termuat juga keterangan bahwa pembayaran commitment fee selama lima tahun itu harus dilakukan oleh Anies dalam masa jabatannya.

Jadi walaupun arena balap itu dijadwalkan sampai 2024, sementara Anies sudah harus turun pada 2022, dia tetap harus melunasi commitment fee sampai 2024. Kalau Anies tidak mau membayarnya, Pemprov berpotensi untuk digugat di arbitrase internasional di Singapura

Wagub DKI, Ahmad Riza Patria menganggap enteng masalah pembayaran commitment fee itu. Kepada media, Riza mengatakan bahwa tidak akan ada gugatan karena Pemprov DKI akan memenuhi semua kewjibannya terkait commitment fee.

Nampaknya Anies sedang dihukum Tuhan karena kebodohannya. Marilah kita membayangkan apa yang sebenarnya ada di kepalanya dan di kepala timnya ketika memutuskan untuk menyelenggarakan balap Formula E selama lima tahun berturut-turut.

Kalau saya menyebut tim Anies, saya bukan cuma bicara tentang TGUPP, kelompok orang yang dibayar mahal namun tak melakukan apa-apa. Kalau soal Formula E, yang harus secara khusus disebut adalah jaringan orang-orang Jusuf Kalla, sang mantan wapres.

Sejumlah orang JK berperan besar dalam acara Formula E ini. Sadikin Aksa, putra Aksa Mahmud yang adalah kakak ipar JK, dalam acara ini berperan besar dalam Racing Committee dan Organizing Committe

Kemudian ada Husain Abdullah, juru bicara JK semasa di kantor wapres ditunjuk sebagai penasihat panitia Formula E di bidang komunikasi.

Yang menjadi Managing Director Formula E di Indonesia adalah Francis Wanandi, yang adalah keponakan Sofjan Wanandi, konglomerat yang juga mantan anggota staf khusus Jusuf Kalla di kantor wakil presiden.

Orang-orang JK ini nampaknya tidak hanya dilibatkan sebagai orang-orang berpengalaman mengelola acara internasional ini.

Saya sih menduga mereka terlibat karena melihat potensi menjadikan ajang tahunan ini untuk mengangkat popularitas Anies menuju Pilpres 2024.

Mereka mungkin membayangkan Jakarta akan menjadi pusat perhatian dunia, dielu-elukan, dikagumi seperti capaian keberhasilan Indonesia ketika menyelenggarakan Asian Games 2018.

Dan kalau benar acara tersebut sedemikian sukses, nama Anies akan terus disebut dengan nada penuh kekaguman.

Mereka bahkan berani memutuskan bahwa acara itu harus berlanjut sampai sesudah Anies turun karena diduga pejabat gubernur baru tidak akan berani membatalkan acara tersebut, mengingat sudah dibayarnya commitment fee dan sudah terbangunnya infrastruktur dan arena internasional yang dibangun untuk acara tersebut pada 2020 sampai 2022.

Mungkin Anies membayangkan balap Formula E ini akan menjadi tiket utama yang membawanya menuju pertarungan kepresidenan yang akan dimenangkannya pada 2024.

Mungkin dia melihat bagaimana popularitas Jokowi menguat setelah sukses dengan Asian Games, dan itu mempengaruhi keberhasilannya dalam Pilpres 2019.

Namun walau manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan. Wabah Covid terjadi di seluruh dunia, termasuk di Jakarta. Dan semua mimpi indah mereka hancur berantakan.

Seperti saya katakan, ini mungkin cara Tuhan membuka mata kita tentang di manapun Anies berada, Anies membawa bencana.

Banyak pihak sudah mengingatkan sejak awal bahwa penyelenggaraan Formula E adalah pemborosan dan merugikan. Di berbagai belahan dunia, acara ini tidak membawa keuntungan buat penyelenggaranya.

Namun Anies yang memang rupanya hanya membayangkan pencitraan dirinya, mengabaikan begitu saja peringatan-peringatan itu. Bayangkan, dia meneken kontrak untuk lima tahun!

Anies sadar bahwa APBD Jakarta akan mampu menutupi biaya itu. APBD DKI memang fantastis. APBD DKI tahun 2020 saja mencapai Rp 87 T.

Jadi buat pemimpin tidak bertanggungjawab seperti Anies, kerugian 2 triliunan rupiah akibat Formula E bukanlah hal yang harus dipikirkan serius. Karena itu walaupun untuk penyelenggaraannya Pemprov DKI melibatkan Jakpro, perusahaan itu sama sekali tidak diwajibkan mencari dana di luar APBD.

Semua biaya ditanggung uang rakyat. Kalau berhasil, nama Anies akan menjulang; kalau merugi, toh yang dipakai adalah uang rakyat. Tapi kini cerita menjadi lain.

Mengingat kondisi yang ada, balap formula E nampaknya tidak akan pernah diselenggarakan di Jakarta. Pada akhirnya, Formula E akan kembali menjadi contoh berikutnya tentang betapa buruknya kepemimpinan Anies Baswedan.

Komentar