MUNARMAN AKAN DIADILI, RIZIEQ BILANG ADA JENDERAL PANIK

Oleh: Ade Armando

Rizieq Shihab mengeluarkan sumpah serapah. Kata dia, ‘Ada jenderal kencing di celana!’ Dia rupanya panik karena Munarman nampaknya akan segera diadili.

Kubu Rizieq berusaha membangun tuduhan keji bahwa Munarman diadili karena pemerintah ketakutan. Karena sedang dipenjara, Rizieq tidak bisa bicara langsung pada publik. Karena itu dia menggunakan kuasa hukumnya Aziz Yanuar.

Rizieq membual bahwa kasus Munarman ini sebenarnya cuma kasus yang dibuat-buat untuk menutupi tewasnya para pengawal Rizieq oleh polisi di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. Kata Rizieq, ada jenderal kencing di celana gara-gara kasus ditembaknya enam anggota Laskar FPI.

“Ada jenderal kencing di celana, dibuatlah drama terorisme Munarman dan kawan-kawan agar pembantaian KM 50 aman dan nyaman,” begitu kata Rizieq seperti dikutip Aziz (4 September).

Rizieq menganggap tuduhan bahwa Munarman ditahan karena terlibat terorisme adalah alasan yang diada-adakan agar mantan sekretaris FPI itu bisa dtahan. Menurut Rizieq, alasan penahanan Munarman sebenarnya adalah karena Munarman dan kawan-kawan tegas soal tragedi KM 50.

Munarman lah yang mengawal proses hukum kematian para pengawalnya, kata Rizieq. Rizieq tidak menyebut siapa yang dimaksud sebagai jenderal yang kencing di celananya itu.

Namun itu kan memang kebiasaan Rizieq dari dulu. Meski menyebut dirinya imam besar umat Islam, dia senang sekali bicara sembarangan, senang menyebarkan kebohongan, dan senang menyebarkan kebencian.

Dengan menggunakan istilah kotor semacam itu, Rizieq dengan sengaja hendak menghina aparat kepolisian dan pemerintah di depan publik. Ia memang sengaja memprovokasi.

Bukan saja kata-katanya kotor, argumennya juga tak melandaskan diri pada akal sehat. Namun demikian, penyataan Rizieq ini tentu langsung disambut para pecintanya.

Salah satunya adalah Refly Harun. Dia memuji pernyataan Rizieq soal ‘ada jenderal kencing di celana’.

“Luar biasa ya pernyataan-pernyataan Rizieq ini,” kata Refly di kanal YouTubenya.

“Kadang memang membuat merah telinga yang tidak menyukainya,” kata Refly, “tapi pihak yang merasa pernyataan ‘jenderal kencing di celana itu’ mewakili keadilan maka mereka tentu akan merasa senang.”

Buat saya, pembelaan Refly ini terkesan menghina intelektualitasnya sendiri. Mari kita pahami dengan akal sehat. Dalam pernyataan ini ada dua kasus terpisah: penembakan Laskar FPI dan penahanan Munarman.

Penembakan Laskar FPI sudah banyak terekspos ke publik.

Menurut versi polisi, keenam Laskar FPI itu terpaksa ditembak sampai mati karena mereka menyerang tim polisi yang sebenarnya sedang mengikuti perjalanan rombongan mobil yang membawa Rizieq.

Komnas HAM sendiri menyimpulkan bahwa tim FPI itu dengan sengaja menyergap polisi, menabrakkan mobi,l dan menembak dengan sejata api. Dalam proses baku tembak dan penahanan itulah, para polisi menembak mati Laskar FPI.

Namun, Komnas HAM juga menyatakan diduga terjadi ‘unlawful killing’ karena polisi menembak sebagian anggota Laskar yang berusaha memberontak ketika sudah berada dalam penahanan polisi.

Polisi secara terbuka menyampaikan segenap proses itu. Polisi juga kooperatif ketika dua anggota polisi yang diketahui menembak harus menjalani proses penyidikan dan penyelidikan.

Pengadilannya pun akan dijalankan. Media memberitakan bahwa berkas kasus ini sudah lengkap sehingga akan segera diadili.

Jadi kenapa pula, Rizieq harus berceloteh bahwa ada jenderal yang kencing di celana?

Kasus kedua adalah Munarman. Munarman memang ditangkap karena tuduhan terkait dengan terorisme. Munarman sampai saat ini memang belum diadili. Selama beberapa bulan, penyidik masih bolak-balik memperbaiki berkas perkara ke kejaksaan.

Media memberitakan sampai Agustus lalu, Jaksa masih meminta agar penyilidik Densus melengkapi berkas dengan menyertakan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah mantan pimpinan FPI, seperti Rizieq Shihab, Shabri Lubis, dan Haris Ubaidillah.

Dan kini, begitu di September polisi sudah melengkapi berkas perkara yang diminta, pengadilan sangat mungkin akan segera dimulai.

Dan inilah yang mungkin sekarang membuat panik kubu Rizieq. Mereka merasa segera harus menggiring opini publik bahwa Munarman sebenarnya orang baik yang menjadi korban permainan kekuasaan.

Pengacara Munarman, Juju Purwanto mengatakan bahwa kliennya tak pantas untuk ditahan dan diperkarakan dalam kasus terorisme. Menurut dia, Munarman merupakan sosok yang jauh dari aksi terorisme selama ini.

Selain itu terbentuk pula koalisi masyarakat yang terdiri dari mereka yang mengaku-aku sebagai aktivis, ulama, hingga habib, dan pengacara untuk mendukung pembebasan Munarman.

Dalam pernyataan sikapnya, Koalisi Sahabat Munarman itu menyebut penahanan Munarman sebagai bentuk kriminalisasi agama.

Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri di kediamannya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa 27 April 2021. Ia ditangkap setelah dinyatakan sebagai tersangka tindak pidana terorisme.

Munarman diduga menggerakkan orang lain serta melakukan mufakat jahat untuk melakukan tindakan terorisme.

Dia diduga hadir dalam pembaitan sejumlah anggota FPI menjadi anggota organisasi teroris ISIS di Makassar, Jakarta, dan Medan.

Dalam acara itu, Munarman dikabarkan bukan hanya hadir namun juga memberi pernyataan dan pengarahan.

Jadi penahanan ini terkait dengan upaya polisi membongkar jaringan terorisme. Yang menjadi alasan utama dugaan keterlibatan Munarman memang adalah kehadirannya dalam acara di tiga kota itu.

Namun sebenarnya, ada konteks yang lebih luas. Dalam beberapa kasus penggerebekan kelompok teroris, polisi menemukan adanya kaitan antara FPI dan terorisme.

Saat tim Densus 88 menangkap sejumlah terduga pelaku teror di beberapa wilayah di Indonesia, sebagian dari terduga teroris tersebut mengaku sebagai anggota FPI.

Begitu pula, dalam penggeledahan, Densus 88 beberapa kali menemukan barang bukti yang diasosiasikan dengan FPI seperti buku, poster, hingga atribut organisasi tersebut. Dalam penggeledehan rumah Munarman sendiri, tim Densus 88 juga menemukan beberapa botol berisi zat kimia yang lazim digunakan dalam pembuatan bahan peledak.

Karena itu, bagi polisi penting untuk menyelidiki seberapa sentral posisi Munarman dalam pelibatan FPI dalam aksi terorisme ini. Suara masyarakat yang meminta pemerintah untuk menindak Munarman sudah lama terdengar.

Namun polisi tentu saja harus sangat berhati-hati agar jangan salah melangkah. Selama tidak ada cukup bukti, polisi tidak boleh menahan seseorang hanya karena alasan yang mengada-ada.

Karena itu, bila April lalu akhirnya polisi menyatakan Munarman sebagai tersangka, tentu itu dilandasi oleh alasan yang cukup kuat.

Kita tentu masih harus menunggu pengadilan untuk menyaksikan apa pembuktian yang akan dihadirkan sebagai bukti gugatan. Namun, bagi saya, nampaknya memang ada banyak cukup indikasi untuk menduga Munarman memang bersalah.

Salah satu kasus yang menarik adalah terbongkarnya jaringan terorisme di Makassar. Pada awal 2021, polisi menangkap 22 orang terduga teroris di Villa Mutiara, Makassar.

Mereka tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah, salah satu jaringan teroris, yang berkedok pengajian.

Ternyata kemudian diketahui bahwa ada banyak irisan keanggotaan JAD dengan FPI. Dari 22 yang tertangkap, 18 orang di antaranya adalah eks FPI.

Mereka mengaku mendapat pelatihan teror di sebuah kompleks perumahan Villa Mutiara di Makassar. Nah di Villa Mutiara inilah, pernah berlangsung pembaitan anggota ISIS pada 2015.

Dan di acara pembaitan anggota ISIS tersebut, Munarman hadir. Terbongkarnya jaringan teoris JAD ini kemudian membawa Densus 88 melacak titik-titik simpul lainnya di sejumlah daerah di pulau Jawa, misalnya di Condet, Bekasi, Tangerang.

Dari penelusuran itulah, polisi berhasil mencegah rencana aksi teror di titik-titik strategis: kantor polisi, TNI, SPBU, pertokoan dan kantor-kantor bisnis yang dimiliki pengusaha Tionghoa.

Lagi-lagi ditemukan bahwa banyak dari calon pelaku teror itu adalah eks anggota FPI. Apakah memang bisa disimpulkan bahwa penyebaran benih teror di FPI ini memang dilakukan Munarman?

Kita tentu belum tahu. Tapi seperti saya katakan, polisi hampir pasti sudah memiliki bukti lebih dari cukup untuk mentersangkakan Munarnman.

Munarman mungkin saja bukanlah master mind terorisme.

Namun pernyataan Rizieq bahwa proses menjadikan Munarman sebagai tersangka adalah wujud kepanikan jenderal yang kencing di celana gara-gara kasus penembakan Laskar FPI adalah bodoh dan mengada-ada.

Mungkin, yang sebenarnya terjadi, justru kubu Rizieq yang sedang panik karena Munarman akan diadili, sehingga mungkin sekali akan terbongkar kejahatan FPI selama ini. Bisa jadi yang kencing di celana adalah Rizieq dan para penyandang dananya.

Komentar