HORMAT, PAK PRESIDEN!

Oleh: Denny Siregar

Saya juga surprise, kalau ternyata apa yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi pandemi ini menjadi sorotan dunia internasional.

Sejak awal pandemi, Indonesia menolak konsep lockdown. Lockdown buat Indonesia bukan solusi yang efektif, karena itu seperti menutup luka dengan menambah luka baru. Pandemi belum tentu selesai, tetapi krisis ekonomi dimulai. Entah apa yang terjadi kalau misalnya Jokowi mengikuti tekanan WHO dan banyak negara untuk melakukan lockdown. Bisa jadi utang kita bengkak gak karu-karuan hanya untuk menutup biaya sehari-hari 270 juta rakyat Indonesia sesuai amanat Undang-Undang.

Dan kalau itu terjadi, krisis ekonomi jilid dua sesudah tahun 1998 akan terjadi. Kita akan minta bantuan IMF lagi untuk restrukturisasi utang yang sangat besar dan juga berpotensi gagal bayar. Investasi asing akan berlomba-lomba keluar dan menarik uangnya dari negara ini. Rupiah hancur dan dollar naik tinggi.

Kalau sudah begitu, mungkin negara ini akan selamat secara ekonomi, tapi kita terpaksa harus berada di bawah perintah IMF dan negara-negara asing. Bisa jadi kita harus menukar sumber daya alam kita dengan mereka. Freeport akan kembali ke Amerika sebagai bagian daripada negosiasi. Dampak kerusakannya ketika kita lockdown kemarin, sungguh gak terbayangkan.

Konsep PSBB dan PPKM adalah solusi terbaik untuk menyeimbangkan antara kesehatan dan ekonomi. Itu bukan cara yang terbaik memang, karena memang tidak ada cara yang terbaik dalam mengatasi wabah ini. Tetapi setidaknya cara itu bisa meredam gempuran gila-gilaan dari serangan wabah meski banyak yang mencaci maki. Namanya bertahan, kadang kita bisa gagalkan serangan dan kadang juga kebobolan. Tetapi di menit-menit terakhir pertandingan, Jokowi dan pasukannya berhasil beradaptasi dengan situasi. Dan sekarang mereka bisa dibilang berhasil mengendalikan situasi.

Salah satu cara yang dilakukan Jokowi supaya perang ini berhasil adalah dengan menggerakkan TNI dan polisi sebagai pasukan utama dalam melakukan vaksinasi. Bukan kepala daerah. Karena kepala daerah itu pertama adalah orang sipil, yang belum tentu punya kemampuan manajemen yang baik. Yang kedua, kepala daerah dipilih oleh partai, sehingga dia lebih memilih keputusan partai daripada keputusan pemerintah pusat. Jadi kalau partainya oposisi, kepala daerah akhirnya jadi sering bertentangan dengan kebijakan pusat.

Lihat ajalah di awal-awal pandemi, beberapa kepala daerah dari Partai Demokrat yang pro-lockdown, selalu bertentangan dengan kebijakan pemerintah pusat yang tidak memperbolehkan daerah melakukan lockdown. Perintah dari pemerintah pusat jelas, lakukan buka tutup, jangan lockdown. Dan yang terjadi akhirnya koordinasi jadi kacau dan pandemi malah melebar ke mana-mana.

Dan ternyata apa yang dilakukan oleh Jokowi sekarang ini membuka banyak mata dunia internasional, kalau penyelesaian sebuah masalah di sebuah negara, berbeda dengan negara lainnya. Singapura mungkin cocok untuk lockdown, karena penduduk mereka sedikit. Inggris mungkin juga cocok lockdown karena mereka negara kaya dengan cadangan kas yang besarnya luar biasa.

Tetapi Indonesia, negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia, dengan harta yang pas-pasan, kalau lockdown hancur sudah. Makanya pada situasi itu, Indonesia berkaca benar kepada India, negara yang situasinya dan jumlah penduduknya besar seperti di Indonesia. India lockdown dan negaranya sempat kacau. Jokowi belajar banyak dari apa yang terjadi di India dan tidak ingin itu terjadi di Indonesia.

Sekarang, ternyata apa yang dilakukan Indonesia mendapat apresiasi dari beberapa negara di dunia. Filipina misalnya, akhirnya sadar kalau negaranya akan menghadapi situasi pandemi dan tidak cocok mengadopsi negara-negara maju dengan konsep lockdownnya. Filipina akhirnya terjerumus ekonominya, tetapi pandemi juga gak selesai-selesai. Dan akhirnya, Filipina melirik ke Indonesia dan mengakui kalau apa yang dilakukan Jokowi itu berhasil. Filipina ingin meniru apa yang dilakukan Indonesia di negaranya.

Malaysia dan Italia juga surprise kalau Indonesia, negara yang luas dan penduduknya sangat banyak ini, berhasil mengatasi pandemi lebih baik dari mereka. Malaysia dan Italia juga memberikan apresiasi tinggi kepada negeri kita.

Jadi, kalau negara lain bisa memberikan apresiasi kepada negeri kita, lalu apasih alasan kita untuk mencaci negeri ini sendiri?

Kalau kata cak lontong, “Mikir!”

Komentar