BABAK BARU DUGAAN SKANDAL RIZIEQ-FIRZA

Oleh: Ade Armando

Saya baru tahu, proses hukum dugaan chat mesum antara Rizieq Shihab dan Firza Husein masih bisa dilanjutkan. Ini berita baru buat saya, karena saya mengira kasus yang menghebohkan ini semula sudah dipetieskan.

Yang saya ingat, pada 2018, POLRI mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus Rizieq dan Firza.

Jadi saya mengira kasus ini sudah tidak akan bisa dikutak-katik lagi secara hukum. Kini saya baru tahu, SP3 tersebut sudah dicabut kembali oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), pada Desember 2020.

Pencabutan SP3 itu dikeluarkan pengadilan untuk memenuhi permintaan pemohon atas nama nama Jefri Azhar. Dengan kata lain, kalau polisi mau dan punya waktu, polisi bisa menyelidiki lagi kasus Rizieq dan Firza ini, untuk kalau perlu diajukan ke meja hijau.

Soal pencabutan SP3 Ini pun saya baru tahu gara-gara Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran, diwawancara di kanal Youtube Deddy Corbuzier.

Ketika disinggung soal kasus Firza, Irjen Fadil menyatakan bahwa kasus tersebut masih dalam penyidikan karena SP3nya sudah dicabut kembali.

Namun Irjen Fadil menyatakan tak bisa banyak berkomentar tentang hal itu, karena dalam ranah penyidikan. Kapolda hanya mengatakan biarlah mekanisme hukum dugaan kasus Rizieq-Firza berlanjut secara normal.

Kabar baru ini penting buat kita semua. Dugaan skandal Rizieq dan Firza bukanlah kasus main-main. Bahkan bisa dikatakan, terungkapnya dugaan skandal dua sejoli yang dimabuk asmara itu berpengaruh besar terhadap jalannya politik di Indonesia.

Sekadar mencerahkan ingatan, balada Rizieq-Firza dimulai awal 2017. Ketika itu, dari handphone Firza ditemukan begitu banyak chat mesum antara Firza dengan Rizieq yang ketika itu masih digadang-gadang sebagai imam besar umat Islam Indonesia.

Penemuan seri chat mesum itu sebenarnya berlangsung secara tidak sengaja. Gara-garanya Firza sempat ditahan di akhir Januari saat ia diduga terlibat dalam rencana makar terkait dengan gelombang protes menjelang pilgub DKI.

Ketika polisi mempelajari percakapan Firza untuk mempelajari ada tidaknya indikasi keterlibatannya dalam rencana makar, yang justru ditemukan di hp itu adalah chat-chat yang luar biasa mesum.

Publik kemudian mengetahui isi chat tersebut dari sebuah laman online baladacintarizieq.com. Laman itu menyajikan beberapa chat yang antara lain berisi foto-foto telanjang perempuan yang kemudian diidentifikasi sebagai Firza.

Firza melakukan pose tidak senonoh itu karena diminta oleh Rizieq. Kalau isi chat itu sahih, Rizieq memang terlihat luar biasa kotor pikirannya.

Melalui chat WA tersebut, Firza diminta untuk melakukan banyak adegan dewasa yang sama sekali tak pernah terbayangkan akan datang dari seorang imam besar yang beristri dan berputra-putri dewasa. Kalau isi chat itu benar, Rizieq memang terkesan sebagai penggila seks.

Saya sendiri sempat baca isi chat tersebut, dan terus terang menjijikkan membayangkan Rizieq bisa bicara sekotor itu. Laman tersebut memang tak berusia lama.

Hanya kira-kira dalam satu hari, laman tersebut sudah menghilang. Namun banyak warga yang sempat mendownload percakapan dan foto-foto pornografis pasangan tersebut.

Polisi sendiri kemudian melakukan penyelidikan atas kasus tersebut mengingat dugaan pelanggaran UU Pornografi. Aliansi Mahasiswa Antipornografi juga melayangkan laporan dalam kasus yang sama.

Pelapor meminta polisi segera mengusut dan memastikan keaslian tangkapan layar percakapan tersebut. Polisi memanggil Firza dan Rizieq pada April atau tiga bulan sejak kasus itu meledak.

Karena keduanya mangkir untuk menghadiri pemanggilan, polisi menerbitkan surat perintah penjemputan paksa. Firza menghadap dan ditetapkan sebagai tersangka pada 16 Mei 2017 usai menjalani pemeriksaan selama 12 jam di Polda Metro Jaya.

Kala itu, dia didampingi adik yang juga kuasa hukumnya, Aziz Yanuar, yang kini menjadi kuasa hukum Rizieq. Firza ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan pelanggaran UU Pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Polisi juga kemudian menetapkan Rizieq sebagai tersangka pada 29 Mei 2017. Rizieq disangkakan dengan pasal-pasal UU Pornografi yang bisa membawanya ke penjara selama lima tahun.

Namun demikian, Rizieq tak pernah sempat diperiksa polisi karena pada akhir April dia tiba-tiba diketahui sudah kabur dari Indonesia.

Mula-mula ia mengaku ke Mekah untuk berumrah. Tapi kemudian, ia ternyata tak kunjung pulang dengan beragam alasan, sampai-sampai ia sempat dikategorikan sebagai buron.

Dari Mekah, ia terus menyuarakan dalih bahwa percakapan tersebut direkayasa untuk membunuh karakternya. Pada Juni 2018, secara mengejutkan polisi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan kasus chat mesum Rizieq – Firza.

Ketika itu kepolisian menjelaskan bahwa SP3 itu dikeluarkan karena polisi tidak bisa menemukan pihak yang menyebarkan chat mesum itu kepada publik. Polisi sendiri tidak pernah menyatakan bahwa isi chat itu palsu atau hasil rekayasa,

Namun oleh Rizieq, SP3 itu dianggap sebagai bukti bahwa selama itu ia memang hanya menjadi korban fitnah. Sampai saat ini, tidak ada kejelasan mengapa SP3 itu dikeluarkan.

Namun itu nampaknya adalah salah satu langkah pemerintah untuk berusaha meredam gerak kelompok-kelompok islamis radikal yang masih terus menganggu kedamaian Indonesia.

Nampaknya yang diharapkan, dikeluarkannya SP3 akan mengurangi hasrat kelompok-kelompok tersebut untuk mengganggu ketenteraman Indonesia, terutama menjelang Pemilu 2019.

Pada 22 April 2018, Persaudaraan Alumni (PA) 212 memang menggelar pertemuan dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah perwakilan PA 212 yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Slamet Maarif, Al Khaththath, Sobri Lubis, Yusuf Martak, Usamah Hisyam, dan Misbahul Anam.

Salah satu isu yang dibicarakan adalah apa yang mereka tuduh sebagai kasus kriminalisasi yang menjerat ulama dan aktivis 212, termasuk Rizieq.

Karena itu terasa wajar bila akhirnya Kapolri mengeluarkan SP3 dalam rangka menunjukkan itikad baik pemerintah pada kaum Islamis radikal.

Namun ternyata kemudian, air susu dibalas air tuba. Dari Mekah, Rizieq terus menyuarakan fitnah dan kebencian

FPI juga terus menunjukkan kegarangannya. Sementara Alumni 212 terus berusaha menggelar acara-acara yang sangat berpotensi memecah belah bangsa.

Kini, pemerintah Jokowi akhirnya memutuskan, cukup sudah, bahwa untuk menghadapi mereka, kaum kadrun bigot, memang tak ada jalan lain kecuali bersikap tegas dan keras.

HTI dibubarkan, Rizieq ditangkap dan dipenjara empat tahun, FPI dibubarkan, Munarman ditahan. Dan kini, kita tahu, bahwa kasus Rizieq-Firza masih mungkin untuk dikembangkan kembali.

Untuk sementara, polisi nampaknya akan bersikap wait and see. Polisi mungkin tidak akan melanjutkan kasus ini kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Maklumlah, Rizieq toh sudah harus mendekam di penjara sampai 2025.

Jadi, kenapa pula polisi harus memulai sesuatu yang mungkin sekali menimbulkan huru hara kembali. Rakyat Indonesia tentu akan senang bila akhirnya bisa mengetahui betapa cabulnya orang yang mengaku-aku sebagai pemuka agama itu.

Namun kita mungkin sebaiknya juga berempati dengan polisi bila mereka juga tak akan memanfaatkan kasus ini untuk memberi hantaman lebih jauh ke jantung Rizieq.

Pada akhirnya kedamaian dan persatuan harus menjadi pertimbangan utama. Yang penting, sekarang polisi kembali memiliki kartu as untuk menghancurkan kaum islamis radikal, bila diperlukan.

Komentar