TELETUBBIES HIJRAH DI KERUSUHAN SINTANG

Oleh: Denny Siregar

Hari ini saya ingin khusus membahas masalah pembakaran masjid Ahmadiyah di Sintang, Kalimantan Barat. Nama Kabupaten Sintang mendadak terkenal, karena berita pembakaran masjid Ahmadiyah itu mengusik kewaspadaan kita kembali akan bahayanya radikalisme berbaju agama yang dipertontonkan oleh segerombolan orang yang merasa dirinya adalah Tuhan. Orang-orang ini dengan gampangnya menuduh keyakinan orang lain sesat, kemudian melakukan perbuatan kriminal dengan merusak, membakar, bahkan berpotensi menghilangkan nyawa orang.

Untuk tahu apa yang terjadi di Sintang, saya harus terbang ke Pontianak dan bertemu dengan beberapa orang, menggali berita dari sumber yang akurat dan ada di lapangan. Kabupaten Sintang berjarak 6 sampai 8 jam perjalanan dari Pontianak. Jauh banget. Tapi saya harus bisa mendapatkan banyak cerita untuk menjelaskan kronologi yang sebenar-benarnya, supaya jangan terjadi salah paham yang malah menimbulkan gesekan baru.

Saya jelaskan secara sederhana ya poin-poinnya. Supaya kita bisa tahu akar masalahnya, karena masalah pembakaran masjid Ahmadiyah ini sudah banyak digoreng oleh pihak luar dan diarahkan ke wilayah agama. Ini yang berbahaya karena akan menimbulkan potensi konflik baru.

Masalah Sintang berawal dari pembangunan masjid Ahmadiyah oleh jemaah Ahmadiyah di Sintang. Pembangunan masjid ini ditolak oleh orang sekitar, karena dianggap tidak punya izin mendirikan bangunan. Apalagi buat sebagian orang di sana, Ahmadiyah difatwa sesat karena berpatokan dari fatwa Majelis Ulama Indonesia.

Tetapi permasalahan masjid ini tidak pernah diselesaikan dan dibiarkan begitu saja, sehingga menimbulkan celah konflik. Dan celah inilah yang terus menerus dibakar oleh aliansi berbaju agama yang pentolannya adalah mantan kader-kader FPI, ormas Rizieq Shihab yang kemarin dibubarkan oleh pemerintah. FPI boleh bubar, tetapi spirit radikalismenya masih ada di dada sebagian orang.

Nah, karena permasalahan pembangunan tempat ibadah ini tidak selesai-selesai, akhirnya para pentolan mantan FPI itu memprovokasi masyarakat sekitar, waktu salat Jumat, untuk membakar tempat ibadah Ahmadiyah itu. Ratusan orang kemudian bergerak dengan kemarahan dan kebencian karena diprovokasi oleh kadrun-kadrun yang berwajah keras itu. Situasi sangat berbahaya pada waktu itu. Salah sedikit saja, nyala api bisa membakar seluruh Sintang, bahkan seluruh Kalimantan Barat kalau penanganannya tidak tepat.

Ingat peristiwa Cikeusik, Banten tahun 2011? Waktu itu ratusan orang juga bergerak bersama dengan penuh kebencian menyerbu warga Ahmadiyah yang sedang berkumpul bersama. Warga Ahmadiyah itu diseret keluar, dibantai, dan pembantaiannya divideokan dan disebarkan di seluruh media sosial. Sadis dan miris waktu nontonnya.

Tiga orang jemaah Ahmadiyah tewas di tempat dengan badan hancur karena dipukuli dan ditimpuki oleh batu besar. Peristiwa Cikeusik Banten inilah yang menjadi alarm buat saya waktu itu, bahwa radikalisme di Indonesia sedang berkembang. Dan peristiwa itu juga yang membuat saya untuk terus menulis, sampai sekarang, menceritakan kegelisahan pribadi tentang betapa bahayanya negeri ini kalau kadrun-kadrun itu dibiarkan berkembang biak dan menguasai kita. Negara ini bakalan hancur seperti Suriah dan kita bisa tidak punya lagi tanah air untuk kita tinggali sampai hari tua.

Oke, balik lagi ke Sintang. Yang saya harus apresiasi adalah apa yang dilakukan Polda Kalimantan Barat pada situasi yang berbahaya itu. Kepolisian kali ini jauh lebih siap supaya tidak terulang peristiwa seperti Cikeusik Banten.

Sejak beberapa hari ketika mendengar suasana panas di Sintang, kepolisian mengirimkan ratusan anggotanya ke sana, dibantu oleh TNI, menjaga warga Ahmadiyah. Perintah Kapolda Kalimantan Barat itu jelas, lindungi nyawa warga Ahmadiyah dan jangan ada satupun yang terluka. Itu saja kuncinya. Karena hilangnya satu nyawa warga Ahmadiyah di Sintang, akan menimbulkan konflik baru yang memperbesar nyala api di sana.

Jadi, ketika ratusan orang ngamuk karena diprovokasi oleh para pentolan mantan FPI itu, polisi kemudian membentuk benteng yang kuat di sekeliling. Tetapi api kemarahan ratusan orang yang datang terus menerus dan membesar dan mereka butuh juga pelampiasan. Kalau saat itu mereka dihadang dengan kekerasan oleh polisi, bisa jadi Sintang terbakar. Ada korban jiwa, dan seperti biasa, mereka akan playing victim sebagai umat yang dizalimi. Dan hoax-hoax juga akan beredar mengajak orang luar untuk datang ke Sintang untuk balas dendam. Sintang bisa jadi medan perang yang akan melibatkan banyak pihak, kalau penanganannya tidak tepat.

Polisi akhirnya mengambil strategi air mengalir. Kemarahan ratusan orang yang diprovokasi oleh bangsat-bangsat provokator itu, dialirkan ke masjid Ahmadiyah yang sudah kosong dan sudah lama tidak digunakan itu. Maka terbakarlah masjid itu. Inilah kronologi yang sebenarnya berdasarkan fakta di lapangan.

Polisi bukan lemah dan tidak berdaya, atau bahkan tidak berbuat apa-apa. Bukan. Polisi justru sedang mencegah kerusuhan yang lebih besar. Bangunan boleh dibakar, toh bisa didirikan lagi. Tetapi nyawa warga Ahmadiyah tidak bisa dibeli. Dan bisa dibilang operasi polisi itu sukses, karena tidak ada satupun korban jiwa.

Ini yang harus saya sampaikan ke orang-orang Jakarta yang sok tahu, seperti Komnas HAM, yang cuma teriak-teriak doang kalau polisi tidak punya nyali. Dipikir orang-orang Jakarta itu, polisi di lapangan harus main gebuk begitu hanya untuk menunjukkan sikap tegas? Padahal justru strategi polisi yang seperti air mengalir inilah yang membuat situasi Sintang sekarang lebih kondusif dan apinya tidak membesar. Nafsu amarah harus dilampiaskan, maka lampiaskan saja pada benda mati. Sesudah terlampiaskan maka mereka nanti akan tenang sendiri.

Nah, saat tenang dan sudah pada pulang itulah, polisi lalu bergerak. Mereka sudah punya cukup bukti siapa provokator-provokator bajingan yang memprovokasi warga sekitar. Polisi kita ini sekarang pintar kok dan memanfaatkan teknologi. Semua hp polisi yang ada di lapangan, harus sudah dicharge sampai baterainya penuh, dan dipakai untuk memvideokan situasi yang terjadi. Lalu hp-hp polisi itu dikumpulkan dan dari video-video itulah akhirnya terlihat wajah-wajah yang bertanggung jawab. Mereka dijemput dari rumahnya masing-masing dan tidak bisa mengelak karena video itu sebagai barang bukti.

Canggih kan strategi mereka? Jadi, yang bilang lemah itu siapa? Suruh deh Komnas HAM datang ke Pontianak, jangan cuma ngomong di belakang meja seolah-olah paham situasi, padahal hanya ingin bikin panggung sendiri. Semua itu harus pakai strategi, bukan kayak preman main gebuk sembarangan.

Saya jadi ingat strategi polisi waktu ada demo besar 411 dan 212 di Monas tahun 2017 dulu. Kapolrinya waktu itu Pak Tito Karnavian. Nah, cara yang dilakukan oleh Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Polisi Sigid Tri Hardjanto, pada peristiwa Sintang, sama banget dengan yang dilakukan oleh Pak Tito waktu menghadapi aksi besar itu.

Jangan digebuk ketika demonstran sedang kumpul, karena itu akan membangkitkan semangat mereka untuk melawan. Ikutin saja arusnya, dekati mereka sambil diajak komunikasi dan debat kalau perlu. Alirkan kemarahan mereka pada titik yang tidak berbahaya. Malah kadang polisi alirkan titik itu ke diri mereka sendiri dengan membentuk pagar betis, supaya demonstran bisa lampiaskan kemarahan mereka saat itu juga.

Nah, baru ketika sudah sepi, polisi baru kumpulkan bukti yang ada di video yang sudah disiapkan. Pagi-paginya, di”culik” deh provokatornya satu-satu. Bawa ke kantor polisi dan kasih bukti videonya sampai mereka ngaku.

Kesuksesan operasi polisi di Sintang, terbukti dengan tidak adanya korban jiwa satupun dari warga Ahmadiyah. Mereka semua selamat, tidak seperti saudara mereka di Cikeusik Banten, yang harus kehilangan nyawa. Polisi berhasil menjaga keamanan dengan mencegah masalah yang bisa jadi bisa lebih besar. Saya harus apresiasi apa yang kepolisian lakukan, mereka profesional dan tahu apa yang harus mereka lakukan. Kita yang tidak ada di lokasi dan tidak paham situasi yang terjadi, lebih baik tutup mulut dan biarkan kepolisian Kalimantan Barat yang menyelesaikan.

Sampai sekarang polisi sudah menemukan beberapa tersangka. Polisi itu tidak mengurus masalah keyakinan, apakah Ahmadiyah itu sesat atau tidak, itu bukan urusan mereka. Polisi hanya menjaga keamanan dan ketertiban. Dan membakar tempat ibadah atau merusak properti seseorang, mau dia Ahmadiyah atau bukan, itu adalah tindakan kriminal. Kasus di Sintang itu urusannya sudah kriminal, bukan lagi urusan agama.

Radikalisme di Sintang, Kalimantan barat itu, kembali menjadi alarm buat kita, kalau kelompok-kelompok ganas ini belum habis dan hanya bersembunyi saja. Dan pada waktu yang tepat, mereka akan muncul dan kembali perlihatkan taringnya. Tapi coba deh perhatikan, si kadrun-kadrun ini hanya beraninya sama yang lemah, seperti jemaah Ahmadiyah yang hanya 72 orang di Sintang.

Kadrun itu seperti hyena, binatang pemakan bangkai saudaranya sendiri. Mereka cuma berani kalau berkelompok, kalau ramai-ramai, sok galak, padahal nyalinya kecil sebesar upil. Coba sendirian, mereka tidak lebih dari seekor curut got yang lari-lari cari tempat sembunyi karena takut diinjak orang.

Perhatikan aja salah satu pentolannya yang pakai daster merah ini. Nama panggungnya Dedeh al Sintangi. Padahal nama aslinya Fathuruzzi. Dia adalah provokator yang sudah sejak lama bermasalah dalam setiap kejadian SARA di Sintang dan sekitarnya. Orang ini mulutnya berbahaya, wajahnya licik. Jenggotnya panjang, otaknya separo. Sekarang dia lagi dicari dan semoga bisa didapatkan oleh polisi.

Cuma ya, inget si Dedeh ini kok jadi inget Po di Teletubbies ya? Apakah si Dedeh ini sebenarnya adalah Teletubbies yang sudah hijrah?

Saya harus angkat secangkir kopi untuk kepolisian Republik Indonesia.

Komentar