KAUM MUSLIM RADIKAL MENGHANCURKAN MASJID DI KALIMANTAN BARAT

Oleh: Ade Armando

Salah satu ancaman terbesar bagi Indonesia adalah tumbuhnya gerakan-gerakan radikal yang menggunakan simbol-simbol Islam. Dengan memanipulasi agama, mereka menghancurkan kelompok masyarakat yang berseberangan dengan keyakinan mereka.

Yang jadi korban sasaran kebiadaban bukan saja kaum non-muslim, tapi juga sesama muslim sendiri. Ini yang baru saja terjadi beberapa hari lalu di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Sebuah masjid yang dibangun kaum muslim di daerah itu dihancurkan. Pelakunya adalah dua ratusan anggota gerakan radikal yang mengatasnamakan Aliansi Umat Islam Sintang.

Masjid yang dihancurkan adalah masjid kaum muslim Ahmadiyah. Dengan bengis gerombolan radikal itu menyerbu dan menghancurkan masjid Miftahul Huda dan rumah-rumah Jemaah Ahmadiyah.

Menurut kaum radikal ini, mereka sudah sejak sebulan yang lalu menuntut pemerintah Kabupaten Sintang merobohkan masjid Ahmadiyah. Pemerintah Sintang nampaknya ketakutan dan meminta waktu 30 hari untuk merobohkan masjid.

Pada 27 Agustus, Bupati dan Wakil Bupati Sintang mengeluarkan SK penghentian aktivitas kegiatan Ahmadiyah di Sintang. SK Bupati ini diikuti dengan penyegelan masjid milik Ahmadiyah. Alih-alih melunak, kaum radikal makin beringas.

Mereka rupanya merasa di atas angin. Ancaman-ancaman terbuka melalui poster-poster, ceramah dan media sosial secara massif berlangsung. Kaum radikal ini tak puas hanya dengan penyegelan masjid.

Mereka menuntut agar masjid dihancurkan dan Jemaah Ahmadiyah diusir. Ketika tuntutan itu tak dipenuhi, kaum radikal yang memang tak paham konstitusi dan hukum ini meradang.

Mereka merasa bisa mengambil alih hukum ke tangan mereka. Mungkin karena mereka merasa adalah wakil Tuhan, mereka pun beraksi sendiri. Untung tak ada korban jiwa jatuh.

Kaum biadab ini menganggap kehadiran kaum Ahmadiyah, yang sebenarnya hidup dalam kedamaian, sebagai ancaman yang meresahkan masyarakat. “Ahmadiyah sesat”, kata mereka.

Mereka menganggap jumlah warga Ahmadiyah yang sekarang sudah mencapai 70 orang di Sintang adalah ancaman terhadap umat Islam. Menteri Agama Gus Yaqut sudah mengeluarkan keprihatinannya.

Dia sudah meminta aparat keamanan, Kantor Kementerian Agama di Kalimantan Barat bersama Pemda setempat bertindak tegas melindungi jemaah Ahmadiyah. Dia memerintahkan agar peristiwa serupa tidak berulang.

Apa yang terjadi di Sintang menunjukkan bahwa ancaman radikalisme keagamaan itu nyata. Kaum radikal tidak mentoleransi perbedaan. Dan bukan saja mereka tidak bisa menerima perbedaan, tapi mereka juga merasa berhak untuk menyerang dan membasmi kalangan yang berbeda.

Padahal pemeluk Ahmadiyah tidak pernah mengancam siapa-siapa. Di Indonesia Ahmadiyah sudah berdiri sejak 1925 dan telah berbadan hukum melalui ketetapan Menteri Kehakiman sejak 1953.

Sepanjang sejarahnya, mereka tidak pernah terlibat dalam aksi kekerasan, penyerangan, dan perusakan terhadap penganut keyakinan lain. Bahkan, salah satu ajaran utama Ahmadiyah adalah bahwa penganutnya harus mendefinisikan ’jihad’ sebagai berdakwah dengan cara persuasif dan damai.

Jemaah Ahmadiyah hidup damai di hampir 200 negara di dunia.

Memang ada sejumlah negara Islam yang melarang Ahmadiyah, tapi itu adalah negara-negara Islam yang terkenal memiliki pemahaman konservatif dan penuh konflik berdarah, seperti di Pakistan dan Arab Saudi.

Sedangkan di negara-negara lain, organisasi ini tumbuh pesat, dengan jumlah keanggotaan diperkirakan mencapai lebih dari 150 juta orang.

Para pengikut Ahmadiyah selama ini justru berperan besar dalam membangun imej positif tentang Islam dan dalam penyebaran Islam ke negara-negara Barat. Sejumlah tokoh Islam dunia juga diketahui adalah penganut Ahmadiyah, seperti Abdus Salam yang adalah ilmuwan Islam pertama yang merebut hadiah Nobel pada 1979.

Al-Quran pertama dalam bahasa Inggris pun ditulis oleh tokoh Ahmadiyah. Seandainya kita sempat membaca beragam ensiklopedi otoritatif di berbagai negara, terbaca jelas bahwa Ahmadiyah senantiasa dianggap sebagai sebuah aliran dalam Islam.

Ensiklopedi Islam yang disusun Prof. Dr. Azyumardi Azra di Indonesia juga jelas-jelas menulis Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam.

Ahmadiyah sepenuhnya mengakui rukun Islam dan rukun iman, sebagaimana diyakini mayoritas umat Islam lainnya. Ahmadiyah mengakui Muhammad SAW sebagai rasul terakhir dan Al-Qur’an sebagai kitab suci mereka.

Mereka shalat, mereka puasa, mereka berzakat, mereka naik haji.

Sumber ganjalan adalah keyakinan penganut Ahmadiyah bahwa di abad 19 lalu, lahirlah Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian menerima wahyu dari Allah untuk merevitalisasi ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad untuk menyelamatkan dunia Islam yang saat itu sedang terpuruk.

Karena itulah, umat Ahmadiyah meyakini Gulam Ahmad sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah dalam Al-Quran.

Harap dicatat, Mirza Ghulam Ahmad tidak dipercaya sebagai Nabi terakhir, dan karya-karyanya tidak dianggap sebagai kitab suci yang sejajar dengan Al-Quran, Injil, Taurat, dan Zabur.

Mereka hanya meyakini bahwa Mirza Ghulan Ahmad adalah tokoh istimewa yang akan menyelamatkan umat Islam. Itulah yang membedakan Ahmadiyah dari arus utama Islam dunia

Lalu kenapa ada serangan terhadap Ahmadiyah di Indonesia?

Pangkal masalah ada di Majelis Ulama Indonesia yang di masa lalu memang diisi banyak tokoh anti toleransi. Pada 2005, MUI mengeluarkan fatwa yang meminta pemerintah untuk membekukan Ahmadiyah dan menutup semua kegiatannya.

Dua tahun kemudian, MUI kembali mengeluarkan fatwa yang lagi-lagi menyebut Ahmadiyah sebagai aliran sesat, bersama sejumlah kelompok lainnya. Tapi, harus dicatat, ini hanyalah sebuah pernyataan MUI, bukan pemerintah.

Dengan kata lain, fatwa MUI itu boleh didengar, boleh tidak. Tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Namun fatwa MUI itu ternyata berdampak serius.

Dalam beberapa tahun sesudah fatwa itu dikeluarkan, para penganut Ahmadiyah di Indonesia menjadi sasaran kekerasan di mana-mana: masjid mereka dibakar, dihancurkan, jiwa mereka diancam, pemukiman mereka diserang, diobrak-abrik, mereka dilarang melaksanakan shalat Idul Adha, mereka diusir dari kediaman mereka.

Setelah Fatwa MUI bermasalah itu, muncul pula Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung tentang Ahmadiyah (2008) yang selalu dijadikan rujukan kaum radikal.

Hanya saja, sebenarnya tak ada satupun bagian dari SKB tersebut yang dapat memberi justifikasi bagi penyerangan atas Ahmadiyah.

SKB itu hanya memerintahkan agar seluruh penganut, pengurus Jemaah Ahmadiyah Indonesia agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya, seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Tak ada satupun pasal dalam SKB itu yang menyatakan bahwa pemerintah daerah manapun di Indonesia berhak untuk melarang aktivitas Ahmadiyah dan memerintahkan jemaah aliran tersebut untuk menghilangkan segala bentuk atribut ke-Ahmadiyahannya.

Yang ada dalam SKB justru peringatan dan perintah agar “semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut Ahmadiyah”

Pimpinan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sendiri kemudian mengeluarkan 12 butir penjelasan tentang sikap Ahmadiyah, yang antara lain adalah penegasan bahwa bagi mereka Nabi Muhammad adalah rasul dan nabi penutup, sementara Ghulam Ahmad adalah guru, mursyid, pendiri dan pemimpin Ahmadiyah.

Dengan penjelasan itu, sangat jelas bahwa Ahmadiyah di Indonesia tidak layak disebut sebagai ajaran sesat.

Saat ini, sudah saatnya pemerintah secara tegas mengakui kehadiran Ahmadiyah sebagai muslim di Indonesia. Terlalu banyak korban sudah jatuh

Komentar