MAKSUD HATI BERHIJRAH, YANG TERJADI JATUH MISKIN

Oleh: Ade Armando

Kali ini saya akan bicara tentang betapa berbahayanya memahami agama secara sempit. Memahami agama tanpa akal sehat bisa menghancurkan hidup bukan hanya diri sendiri, tapi juga keluarga, istri, suami, anak-anak.

Saya ingin bicara tentang fenomena hijrah. Saat ini semakin banyak kita mendengar kampanye hijrah. Yang menjadi model dari keberhasilan hijrah adalah para artis terkemuka yang meninggalkan dunia keartisannya.

Dalih yang sering disampaikan adalah mereka berusaha mensucikan diri dari dunia lamanya yang bergelimang dosa.

Beberapa nama artis terkenal karena kehijrahannya adalah: Uki Noah, Ari Untung, Teuku Wisnu, Irwansyah, Ricky Harun, Roger Danuarta, Saktia Sheila On 7, Zakia Sungkar, Shireen Sungkar, Dimas Seto, Primus Yustisio, Jihan Fahira, Dude Herlino, Alyssa Soebandono, dan mungkin sejumlah lainnya.

Mereka seperti memutus hidup dari masa lalu yang kelam. Mereka kini tampil dengan simbol-simbol Islami, aktif di pengajian, beralih profesi, fasih mengucapkan assalamualaikum dan waaalaikumsalam, alhamdulillah, subhanallah, astagfirullah.

Sebagian dari mereka aktif mendakwahkan keutamaan hijrah. Dan mereka dengan meyakinkan menyatakan, setelah mereka memutuskan untuk berhenti dari profesi keartisan, rezeki tetap mengalir deras. Mereka bahkan lazim menampilkan kekayaan yang mereka miliki.

Dengan kata lain, mereka ingin menunjukkan bahwa bila umat Islam memutuskan untuk berhijrah dari masa lalunya yang ternyata diketahui bertentangan dengan perintah Allah sebagaimana yang diajarkan para ustaz mereka, Allah akan menjamin kesejahteraan mereka.

Mereka seperti menunjukkan mereka rela meninggalkan dunia hiburan yang menyenangkan dengan menawarkan kekayaan berlimpah demi mendapat keridhaan ilahi.

Sekadar catatan, kata hijrah sendiri merujuk pada peristiwa perpindahan Nabi Muhammad bersama sejumlah sahabatnya dari Mekah ke Madinah, kira-kira 13 tahun dari masa kenabiannya.

Perpindahan itu adalah keputusan yang penting mengingat Mekah adalah tanah kelahiran Nabi Muhammad beserta keluarganya, namun terpaksa ditinggalkan karena Mekah dikuasai kaum musyrik yang memusuhi umat Islam.

Peristiwa hijrah itu kemudian dimaknai ulang sebagai perpindahan dari kondisi kemusyrikan, yang jauh dari perilaku yang sesuai dengan ajaran Allah, menuju kondisi keimanan, sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Dalam Alquran, kata hijrah juga berulangkali disebut dengan mengacu makna-makna seperti: meninggalkan keburukan dan kemaksiatan, meninggalkan orang-orang yang tidak beriman, kembali kepada Allah dengan harapan mendapatkan hidayah-Nya. Sampai titik ini sih, semua nampak baik.

Menusia memang seharusnya meninggalkan kemaksiatan dan kondisi yang membuatnya menjauh dari jalan Allah. Masalahnya adalah bagaimana kita mendefinisikan kemaksiatan? Bagaimana kita tahu ini adalah jalan yang menjauh dari Allah?

Kalau dalam kasus hijrah Nabi Muhammad, kondisinya sangat jelas. Umat Islam ditindas di Mekah, maka mereka pun pindah ke Madinah. Sekarang kita kembali ke kasus para selebiritis yang hijrah itu, apa sebetulnya yang mereka anggap sebagai dunia penuh kemaksiatan?

Kalau kasusnya itu untuk menghindari perilaku seks bebas atau obat-obatan, tentu saja itu baik.

Namun kan cara terbaik untuk melakukannya tidak perlu dengan sama sekali meninggalkan dunia hiburan, karena perilaku negatif itu walau mungkin banyak ditemukan di dunia hiburan tidak sendirinya dong adalah sesuatu yang inheren, tertanam di dalam dunia musik, film, sinetron, televisi, dan seterusnya.

Mereka kan bisa saja tetap bergerak sebagai artis, tapi artis yang santun, tidak minum alkohol, tidak pakai narkoba, tidak free sex. Tapi masalahnya, mereka berhjrah itu karena alasan yang lebih mendasar.

Setidaknya sebagian besar dari mereka memang sudah menganggap dunia hiburan adalah dunia haram. Karena berprofesi sebagai artis adalah haram, ya mereka harus memutus sekali keterkaitan mereka dengan dunia hiburan.

Syukurlah, mereka ternyata tetap survive dan bahkan menyatakan jauh lebih makmur sekarang. Saya tidak tahu sumber penghasilan sekarang mereka apa, tapi yang jelas mereka makmur.

Persoalannya, keberuntungan semacam ini hanya berlaku pada kalangan artis elit. Ini tidak berlaku pada kalangan lain yang meniru pilihan untuk berhijrah tersebut.

Walau sering tidak masuk akal, ada banyak muslim yang memutuskan untuk berhenti dari profesi lamanya hanya karena mereka memperoleh masukan dari para ustaz mereka bahwa uang yang selama ini mereka peroleh adalah uang haram.

Ini biasanya terjadi pada mereka yang bekerja di bank atau bekerja di perusahaan yang dimiliki nonmuslim. Mereka juga termakan dengan gagasan bahwa Allah akan menjamin rezeki pada mereka, kalau mereka berani mengambil keputusan untuk berhijrah walaupun itu terasa pahit.

Namun kini mereka dengan pahit harus belajar bahwa janji Allah itu hanya berlaku pada mereka yang berakal. Yang tidak berakal, tanggun sendiri akibatnya.

Saya memperoleh rangkaian cerita memprihatinkan tentang efek hijrah berikut ini dari sebuah akun Facebook. Saya sudah mendengar cerita serupa dari banyak sumber, tapi kali ini saya sampaikan ulang saja cerita-cerita yang termuat di FB tersebut.

Sebagai catatan, semua penutur cerita ini menyajikan nama asli mereka, sehingga saya merasa yakin ini bukan cerita-cerita karang-karangan saja.

Salah seorang penulis bercerita tentang keponakannya yang bergaji Rp20 juta tiba-tiba saja resign. Sekeluarga shock. Alasan si ayah, uang itu uang haram. Anaknya 2, balita. Sekarang si Ayah usaha sendiri. Jualan makanan. Mengaku laris, tapi hasilnya tidak ada. Anak-anaknya tidak boleh diimunisasi. Kalau sakit, tidak boleh dibawa ke dokter.

Penulis lain berkisah tentang sepupunya. Suami istri bekerja di dua bank BUMN berbeda. Keduanya resign setelah ikut pengajian. Ketika masih kerja si istri rutin membantu ibunya yang janda. Setelah resign, suaminya ngegrab. Sekarang kabarnya sudah nganggur. Mereka sama sekali sudah tidak mampu membantu ibunya. Sepupu dan suaminya itu sudah berpakaian serba hitam.

Ada pula penulis yang bercerita tentang kawannya, seorang manajer di bank BUMN yang resign setelah mengikuti pengajian yang eksklusif. Tidak lama kemudian dia mulai menjual seluruh hartanya hasil kerja di bank. Sekarang jualan martabak mini. Anak-anaknya dipindahkan sekolahnya ke sekolah yang dikelola kelompok pengajiannya. Akhirnya tragis. Dia jatuh bangkrut. Sakit jiwa.

Ada pula kisah tentang seorang pria yang setelah resign dari pekerjaannya, waktunya diisi dengan mengaji. Dia ikut ustaz berceramah ke berbagai tempat. Kebutuhan rumah dan anak-anak dipenuhi oleh istrinya yang masih bekerja. Tapi setiap hari sang suami marah pada istri karena bekerja pada kafir. Sang istri ngotot karena harus menafkahi anak. Sang istri juga dihina dan dibenci tetangga karena dianggap kafir lover.

Ada pula yang bercerita tentang mantan atasannya yang berhenti bekerja setelah mendengar ceramah ustaz Khalid Basalamah. Semula dia adalah manajer. Sekarang menjadi penjual bakso. Teman saya yang lain semula bekerja di marketing. Tapi kemudian berhenti setelah tahu bahwa modal perusahaan diperoleh dari pinjaman bank.

Seorang penulis juga bercerita tentang adik iparnya yang berhenti bekerja setelah rajin ikut pengajian. Sekarang hampir seluruh waktunya dihabiskan di masjid. Nafkah untuk anak istri stop sama sekali. Dia percaya rezeki akan datang dari Allah. Anak dan istri yang sakit tidak diobati. Padahal dulu semula mereka pekerja ulet.

Bahkan ada yang bercerita tentang tetangganya yang setelah hijrah, melarang ada barang elektronik dan hp karena produk kafir. Setiap tahun punya anak. Sekarang anaknya enam. Hidupnya susah. Menyalah-nyalahkan pemerintah.

Mungkin masih ada cerita-cerita lain yang Anda dengar atau Anda saksikan sendiri. Tapi buat saya, ini menunjukkan betapa berbahayanya kampanye hijrah yang tidak melandaskan diri pada akal sehat.

Berusaha menjadi lebih beriman, tentu saja baik. Tapi tanpa dilandasi dengan pemahaman agama yang cukup dan dilandasi akal sehat, hasrat hijrah ini justru bisa menghancurkan.

Komentar