KETIKA MUI BILANG VAKSIN HARAM!

Oleh: Eko Kuntadhi

Sebuah kabar gembira terdengar kemarin. Saya harus menyampaikan kabar ini, kalaupun biasanya di youtube itu orang lebih suka mendengar kabar yang tidak menggembirakan. Tapi ini kabar gembira yang menurut saya penting untuk saya sampaikan. Kemarin, pada tanggal 31 Agustus, sudah ada 100 juta orang Indonesia yang disuntik vaksin. Tambah lagi 40 juta yang sudah disuntik vaksin dua kali.

Kecepatan proses vaksinasi di Indonesia ini sebetulnya tergolong sangat lumayan. Bahkan jika dihitung dari jumlah orang yang divaksin, Indonesia termasuk negara dengan proses vaksinasi tercepat di Asia Tenggara. Sementara untuk ukuran dunia, kecepatan vaksinasi Indonesia masuk dalam kategori 10 besar.

Cepatnya proses vaksinasi itu karena vaksinnya memang sudah tersedia. Sejak awal pandemi, atau sejak vaksin sudah mulai diproduksi, Jokowi memang sigap melakukan loby untuk mendapatkan vaksin itu buat masyarakat Indonesia. Sekarang saja misalnya, sudah 200 juta dosis vaksin datang ke Indonesia.

Sebagian ada yang diproduksi atau diproses ulang di Biofarma. Sementara dari seluruh dunia atau dari seluruh vaksin-vaksin yang kita pesan, kita punya komitmen, atau mendapatkan komitmen 430 juta dosis vaksin.

Artinya apa? Artinya untuk menyuntik 208 juta orang Indonesia sebagai syarat terbentuknya herd immunity ya, gak banyak hambatan. Vaksinnya sudah ada. Kalaupun belum sampai ke Indonesia, komitmennya dari produsen vaksin sudah ada.

Iya sih, problem di lapangan masih ada, misalnya mentalitas birokrasi yang lelet. Untung saja pemerintah juga melibatkan aparat seperti kepolisian dan TNI. Mereka sigap. Memang kerjaan seperti ini gak bisa dilepaskan cuma dengan birokrasi yang bertele-tele. Apalagi birokrasi Pemda yang masih punya afiliasi politik, yang masih punya kepentingan cari untung. Ini yang ribet.

Dengan keterlibatan TNI dan Polri, dengan konsep misalnya vaksinasi merdeka yang juga melibatkan seluruh stakeholder, termasuk publik langsung, percepatan proses vaksinasi makin moncer. Menkes sendiri menargetkan 2 juta vaksin per hari. Dua juta loh. Sementara Presiden mendorong minimal dua setengah juta.

Memang kalau Pak Jokowi dalam soal bekerja jarang puas. Dia akan mendorong pada kemampuan paling maksimal kerja birokrasi. Targetnya nanti Oktober sudah terbentuk herd immunity. Atau minimal 70% masyarakat Indonesia yang secara usia memang sudah wajib vaksin, itu sudah divaksin.

Alhamdulillah, sekarang seratus juta orang sudah divaksin, empat puluh juta orang sudah mendapat vaksin dengan dua dosis.

Kayaknya hoax soal vaksin juga mulai turun. Dulu awal-awal soal vaksinasi kita dengar hoax macem-macem deh. Katanya kalau vaksin ada chip-nya sekalian masuk ke dalam buat memonitor kita. Mungkin ada juga yang percaya dimasukin komputer dalam tubuh, dimasukin laptop mungkin. Atau vaksin bisa menyebabkan kebutaan. Vaksin bisa bikin meninggal. Dan berbagai hoax yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab kepada masyarakat yang memang minim literasi. Hoax ini sengaja disemburkan oleh orang-orang yang kurang ajar.

Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kacau. Bayangin gini deh, jika sebagian masyarakat percaya hoax bahwa vaksin membawa mudarat seperti itu, membawa kematian, membawa kebutaan, bahkan dimasukin chip, komputer, toko komputer dimasukin di dalam tubuh.

Semua masyarakat percaya kayak gitu, akhirnya kan mereka gak mau divaksin. Dan target untuk persiapannya 70% masyarakat Indonesia divaksin untuk terbentuknya herd immunity atau kekebalan komunitas kan jadi meleset.

Belum lagi soal vaksin yang mengandung babi dan haram. Ini yang bikin ribet. Vaksin mengandung babi. Harusnya yang mengandung babi kan ibunya babi, emaknya babi. Kan vaksin gak mengandung babi, babi jantan juga gak mengandung babi. Karena yang mengandung hanya babi betina.

Jadi logikanya, hanya vaksin sebetulnya satu-satunya tameng kita untuk berhadapan dengan virus Covid-19. Hanya vaksin yang bisa menjadi jaket kita untuk melindungi diri kita dari serangan virus Covid-19.

Berkenaan dengan ini kita tahu MUI misalnya dalam salah satu situs resminya menunjuk beberapa merk vaksin katanya mengandung bahan haram. Meski dalam situs itu juga ada keterangan vaksin tersebut tetap boleh digunakan. Karena apa? Karena kondisinya memang dibutuhkan masyarakat.

Tapi kan dengan langsung mengatakan bahwa vaksin tertentu itu mengandung bahan haram, saya khawatir informasi itu bisa diplintir orang. Apalagi mereka-mereka yang selama ini menjadi para agen anti-vaksin yang memang sudah tersebar. Isunya gini nanti, isunya mau divaksin dengan vaksin yang haram? Tubuhmu nanti banyak zat-zat yang haram, dan itu nanti kita gak diterima solat kita, gak diterima amal ibadah kita. Pasti isunya akan kayak gitu.

Ini yang paling mengerikan ketika informasi yang ada di situs MUI itu dispin sama orang.

Kita sih berharap gak banyak masyarakat yang terpengaruh dengan keterangan seperti itu. Apalagi ketika fatwa MUI diplesetkan maknanya. Cuma diambil bahwa vaksin ini haram, tanpa keterangan bahwa bisa digunakan.

Iya, memang ada fatwa MUI bahwa vaksin merek ini mengandung bahan yang dikategorikan haram. Tapi di sana ada keterangan lebih rinci, mestinya keterangan yang lebih rinci itu yang didistribusikan kepada masyarakat.

Publik sekarang kita berharap lebih khawatir dengan risiko akut akibat Covid-19 ketimbang mengikuti plintiran-plintiran fatwa seperti itu. Apalagi fatwanya dari LSM seperti MUI. Dan MUI jelas, iya barangnya haram tapi harus digunakan, bisa digunakan dan sah digunakan.

Buktinya apa? Buktinya sekarang 40 juta orang sudah lengkap divaksinasi kedua. Dan 100 juta orang juga sudah mendapatkan vaksinasi pertama.

Akal sehat publik mulai bangkit. Ketika obat Covid-19 belum ditemukan, kita mikir tidak ada jalan lain kecuali membentengi diri anda dengan vaksinasi. Setelah itu, mungkin kita akan hidup berdampingan dengan Covid-19.

Sama seperti kita berdampingan sekarang dengan virus influenza atau dengan TBC atau dengan bakteri dan virus-virus lainnya. Toh, kita bisa hidup dengan mereka. Asal kita punya langkah penangkalnya.

Salah satu penangkalnya apa? Ya vaksin. Mungkin influenza ada obatnya, mungkin TBC sudah ada obatnya, sementara Covid-19 belum ada obatnya. Ya kedepankanlah penangkalnya.

Saya pikir ini menjadi hal yang penting kita apresiasi dari kerja pemerintah yang terus mendorong proses vaksinasi. Karena kalau vaksinasi gak selesai, ekonomi kita juga akan berantakan. Kalau ekonomi berantakan, kehidupan masyarakat juga akan berantakan. Kemiskinan akan bertambah.

Jadi satu-satunya cara untuk bisa keluar dari lingkaran setan ini adalah percepat vaksinasi.

Komentar