KABAR BURUK BAGI KADRUN: EKONOMI INDONESIA BANGKIT!

Oleh: Ade Armando

Kabar buruk bagi kadrun. Ada tanda-tanda kuat, kondisi ekonomi Indonesia terus membaik.

Apa yang selama ini diramalkan para kadruners yang bilang, Indonesia akan hancur, mengalami krisis, pemerintah Jokowi gagal menangani Covid-19, Insya Allah, tidak terbukti.

Data menunjukkan we are on the right track. Ini misalnya terlihat dari data konsumsi masyarakat Indonesia. Orang-orang Indonesia sekarang sudah berbelanja lagi. Dalam ekonomi, orang berbelanja merupakan kegiatan yang menopang pertumbuhan ekonomi.

Bila kita tidak belanja, konsumsi menurun, permintaan terhadap barang konsumsi menurun, produsen barang bingung karena produk-produknya tidak dibeli, gairah investasi menurun, dan begitulah spiral penurunan ekonomi akan terus terjadi.

Tentu saja kalau uangnya tidak ada, masyarakat boro-boro akan belanja.

Karena itu, data mengenai peningkatan orang belanja adalah indikasi positif dari dua hal sekaligus: artinya masyarakat punya uang untuk dibelanjakan, dan produk-produk akan diserap pasar sehingga meningkatkan roda ekonomi.

Saat ini pelonggaran kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) nampaknya memang membawa hasil positif. Karena itu banyak analis ekonomi yang menyajikan prediksi pertumbuhan ekonomi dengan nada optimistis.

Tidak berlebihan kalau dikatakan, setelah di tahun pertama pandemi pertumbuhan ekonomi kita anjlok, kini kita mengalami bounce back.

Sebelum pandemi di 2019, pertumbuhan konsumsi kita mencapai 4-5%. Di kuartal kedua tahun 2020, di masa awal pandemi, angka itu terjun dratis mencapai minus 5,51%.

Syukurlah, dengan kerja keras pemerintah, bisnis dan masyarakat, konsumsi masyarakat itu kini kembali menaik sehingga diperkirakan mencapai tingkat pertumbuhan sama dengan sebelum pandemi, di sekitar angka 5%an.

Para analis bisnis menilai kegairahan belanja terutama kelas menengah dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting, implementasi PPKM, adanya bantuan pemerintah, penurunan penularan Covid-19, dan vaksinasi. Dan ini perilaku masyarakat yang sangat bisa dipahami dengan sederhana.

Bila suasana yang terbangun adalah kelam, ada bayang-bayang bahwa kita semua terjerat dalam wabah yang mematikan, jumlah korban terus meningkat, kita hidup terpenjara, Indonesia menuju kehancuran, kita akan depresi.

Dalam kondisi tertekan dan pesimistis, bukan saja tubuh kita yang menjadi jauh lebih rentan, perilaku sosial kitapun terlumpuhkan. Tapi begitu suasana psikologisnya berubah menjadi melegakan, perilaku warga pun menjadi serba ceria.

Salah satu pertanda kebahagiaan adalah belanja. Masyarakat merasa nyaman untuk belanja, baik di pusat perbelanjaan maupun secara online. Bila sebelumnya masyarakat berhati-hati membelanjakan uangnya, kini mereka dengan lega mengeluarkannya untuk menyerap produk yang tersedia di pasar.

Di kalangan ekonomi yang lebih bawah, ada faktor lain berpengaruh.

Pertama adalah adanya bantuan sosial dari pemerintah. Kedua, pelonggaran PPKM mendorong kemudahan mobilitas, yang pada gilirannya membantu masyarakat untuk kembali bisa mencari nafkah terutama di sektor informal.

Kita tentu masih ingat adanya letupan-letupaan sosial mini di sejumlah tempat yang meneriakkan pencabutan PPKM.

Namun karena aliran bantuan sosial terus mengalir dan periode PPKM tak berkepanjangan, ketidakpuasan masyarakat itu kini tidak berujung pada ledakan yang tak terkendali.

Saya ingin mengutip Mandiri Spending Index (MSI), yang merupakan alat ukur perilaku belanja masyarakat, yang dikeluarkan secara rutin oleh Mandiri Institute.

MSI pada 1 Agustus 2021 adalah 73,3. Namun begitu pelonggaran PPKM diberlakukan, pada 15 Agustus, angka itu melonjak menjadi 79,7.

Peningkatan belanja ini bukan hanya terjadi di kalangan menengah, melainkan terlihat di semua kelompok ekonomi: bawah, atas, dan menengah. Kenaikan signifikan ini akan mempengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia di Triwulan 3 dan 4, sampai akhir tahun.

Kenaikan tingkat belanja masyarakat ini, menurut Mandiri Institute, paling terlihat di Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan terjadi pemulihan yang cepat seiring dengan diturunkannya tingkat PPKM di banyak provinsi di Pulau Jawa, dan penurunan kasus positif Covid-19.

Indeks nilai belanja di Jawa pada 15 Agustus berada di level 73,4 atau naik dari 63,8 pada 1 Agustus 2021. Ini tidak berarti indeks belanja di luar Pulau Jawa rendah.

Pada 15 Agustus 2021, indeks belanja di luar Pulau Jawa berada pada tingkat 86,4, yang artinya jauh lebih tinggi dari Pulau Jawa. Namun secara keseluruhan ini merupakan penurunan dari waktu sebelumnya.

Data lain yang juga masih harus ditunggu adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari Bank Indonesia. Angka IKK ini merujuk pada seberapa besar keyakinan masyarakat tentang kondisi ekonominya sehingga mereka merasa layak berbelanja.

Di Jawa IKK masih berada di level 84 pada Januari 2021, dan kemudian menjadi 85,8 pada Februari 2021 dan bahkan mencapai 107,4 pada Juni 2021. Namun begitu PPKM diterapkan, angka IKK itu drop mejadi 80,2 pada Juli 2021.

Saat ini kita perlu menungggu apakah pelonggaran PPKM akan mengembalikan IKK ke atas 100. Indeks Penjualan Ritel (RSI) juga begitu.

Pada Januari dan Februari 2021, itu sudah memasuki zona merah, masing-masing pada level 182 dan 177,1. Namun pada Maret 2021 itu sudah memasuki zona hijau, yaitu pada level 182,3.

Pada Juni 2021, angka itu bahkan sudah mencapai 227,5, meski kemudian turun lagi pada Juli menjadi 198,5, walau tetap berada di zona hijau. Bahkan data percakapan warganet di Twitter pun memberikan data sejalan.

Twitter Indonesia menyebutkan, volume percakapan aktivitas belanja melalui platform Twitter di Indonesia mencapai 22 juta sepanjang Januari-Juni 2021. Volume ini naik 175 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.

Artinya ya masyarakat belanja, dan artinya ekonomi Indonesia bergerak. Di sisi lain, insentif pemerintah untuk mendongkrak belanja masyarakat juga terbukti berhasil.

Contohnya di sektor otomotif yang terpukul cukup parah akibat pandemi Covid-19.

Pemerintah, dari Maret 2021 sampai Agustus 2021, membebaskan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atau diskon 100 persen untuk pembelian mobil baru 1.500 cc-2.500 cc.

Tapi untuk mendapatkan insentif tersebut, pemerintah menetapkan syarat, yakni wajib mobil itu diproduksi di Indonesia dengan pembelian komponen lokal (local purchase) mencapai 60 persen.

Insentif ini berhasil. Pembelian kendaraan bermotor (mobil) pada Maret 2021 langsung meningkat 10,5 persen secara tahunan atau tumbuh 72,6 persen secara bulanan dibandingkan Februari 2021.

Begitu juga untuk sektor properti, ada pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga akhir tahun 2021 untuk pembelian rumah maksimal seharga Rp2 miliar per unit. Kebijakan itu juga dinilai berhasil mendobrak penjualan rumah pada triwulan II tahun 2021.

Tentu saja setelah mengatakan ini semua, saya tidak mengajak Anda untuk melalaikan begitu saja ancaman Covid-19.

Perjalanan masih panjang, dan pengalaman menunjukkan bahwa setiap saat arah bisa saja berbelok tajam. Namun yang terpenting, kita perlu terus membangun sikap optimistis tentang Indonesia.

Sejak awal Covid-19, skenario kiamat sangat sering diperdengarkan mereka yang terkesan tidak ingin Indonesia bahagia. Yang mereka lupa, Indonesia bukanlah negara pecundang.

Bangsa ini sudah berulangkali menunjukkan bahwa kalau kita bersedia bekerja bersama, kita akan bisa mengatasi tantangan sesulit apapun. Kali ini, saya rasa, juga begitu.

Komentar