HABIS HAP HAP, SAIPUL JAMIL DI HAP

Oleh: Denny Siregar

Saya sendiri gak paham, apasih hebatnya Saipul Jamil sampai diarak sebegitu rupa, dikalungkan bunga segala, bahkan sampai dapat kontrak untuk tampil di stasiun-stasiun televisi?

Saya kira kemarin itu, yang diarak dan dikalungkan bunga di atas mobil adalah seorang atlet. Entah atlet anggar atau bola sodok. Tapi ternyata bukan. Dia hanyalah seorang Saipul Jamil. Seorang narapidana kasus pencabulan yang baru saja bebas sesudah menjalani hukuman sekian tahun penjara.

Okay, sebagai pengingat ya, Saipul Jamil beberapa tahun lalu dituntut kasus pencabulan anak di bawah umur. Saipul Jamil sendiri mengakui meski dia bilang sedang “khilaf”. Kata Saipul, dia cuma sekali doang meng-HAP asistennya yang berjenis kelamin laki-laki itu. Entah apa yang di-HAP, kayak makan pisang goreng.

Kita sih gak bahas kronologi Saipul Jamil ya, juga masalah HAP HAP itu, karena kejahatan apapun yang pernah dilakukan Saipul Jamil, dia sudah menjalani hukumannya. Yang kemudian jadi masalah adalah perilaku orang sekitar yang menyambut Saipul Jamil seperti seorang pahlawan dengan bawa wartawan, dikalungi bunga, seperti seorang pahlawan yang sudah mengharumkan nama negara lewat prestasi internasional dan baru saja pulang ke Indonesia.

Sakit, gak? Ya sakit, lah. Pada miring otak orang-orang ini, napi pedofilia kok disambut seperti pahlawan. Yang namanya Saipul Jamil juga ikut sakit, dia malah dengan bangga diarak dan dikalungi bunga. Gak ada malu-malunya kalau dia barusan keluar dari penjara akibat urusan pencabulan.

Tambah sakit lagi, Saipul Jamil malah mendapat kontrak tampil di stasiun televisi yang berebut menarik dia ke sana. Semua demi rating, semua demi cuan. Ngomong soal moral, itu kan tong sampah, kata Iwan Fals. Stasiun televisi itu gak penting kalau apa yang mereka lakukan itu menyakiti perasaan korban Saipul Jamil, yang mungkin sampai sekarang terus sembunyi karena malu.

Kebayang, gimana perasaan orang tua korban yang juga geram melihat pelaku pencabulan terhadap anaknya malah dielu-elukan sebagai pahlawan, dan dapat uang dari kontrak tampil di televisi, sedangkan anak mereka sebagai korban tidak mendapatkan perhatian.

Sakitnya masyarakat kita memang akibat propaganda televisi juga, yang sejak dibebaskannya frekuensi publik, mereka seperti predator yang menghalalkan segala cara demi rating siaran. Sejak begitu liberalnya tayangan televisi, banyak muncul “alien-alien” yang menamakan diri mereka artis, tapi gak punya bakat sama sekali selain menjual sensasi.

Beda banget dengan dulu zaman hanya ada TVRI yang punya semangat “menjalin persatuan dan kesatuan” dengan tayangan-tayangan mendidik seperti Pak Tino Sidin, Si Unyil, Ria Jenaka, dan lain-lain. Meski sifatnya menghibur, selalu ada pesan-pesan dan nilai yang disampaikan. Tayangan televisi sekarang itu banyak sampahnya, yang harus diserap anak-anak dan menbentuk perilaku mereka ke depan. Anak sekarang jadi banyak yang melambai karena terpengaruh idola mereka yang juga begitu. Semakin lama semakin gak sehat.

Adasih yang namanya Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI. Tapi apa gunanya selain jadi tukang sensor film kartun yang dianggap vulgar, tapi tidak pernah mensensor tayangan sampah yang sama sekali gak ada nilainya seperti siaran langsung perkawinan artis. KPI sendiri gak ada tajinya, cuma berupa teguran yang juga tidak dipedulikan oleh stasiun televisi yang di belakangnya adalah para pemodal besar.

Lalu apa solusinya? Ya, boikot tayangan televisi. Sekarang sudah banyak channel-channel bebas yang bisa kita pilih tanpa harus menonton siaran televisi. Televisi hidup dengan iklan, tanpa iklan mereka tidak punya pendapatan dan akan mati sendiri. Memang sampai sekarang dengan nilai belanja iklan sampai Rp150 triliun per tahun, televisi masih mendominasi.

Enam puluh persen iklan itu masuk ke televisi. Tetapi media digital seperti sosial media, sudah mulai menggerus pelan-pelan pendapatan iklan televisi. Iklan di media digital sudah mencapai 20 sampai 25 persen belanja iklan. Dan terus naik karena perilaku masyarakat kita sudah berubah. Televisi memang masih mendominasi karena internet kita masih belum menyebar ke pelosok-pelosok daerah. Tapi kalau satelit kita sudah terpasang rapih, dan muncul tv-tv android yang akhirnya menjadi tren televisi baru di rumah-rumah, televisi dengan frekuensi publik pasti akan ditinggalkan 5 sampai 10 tahun ke depan.

Kenapa televisi kita akan ditinggalkan? Ya karena orang sudah muak dengan tayangan sampah yang dihadirkan terus menerus karena cuan. Orang sudah punya banyak pilihan. Dan mereka kelak, ketika pendidikannya sudah tinggi, akan mencoba hidup sehat dengan menghindar dari racun tayangan televisi yang tidak bermutu.

Saya sendiri sudah jarang sekali sih nonton televisi. Gak ada mutunya. Paling yang saya lihat berita doang, itu juga sebagai konfirmasi peristiwa yang sedang terjadi. Selebihnya mending cari acara yang sehat di tayangan internasional. Dan televisi pelan-pelan sedang menggali kuburannya sendiri kalau mereka tidak berbenah. Paling nanti cuma ada 2 atau 3 stasiun televisi dengan modal yang sangat kuat, karena yang lainnya ambruk dihajar YouTube dan perusahaan streaming media. Mau ngomong apa coba televisi Indonesia kalau itu terjadi? Jangan salahkan pemerintah, salahkan diri sendiri yang tidak pernah update dengan perkembangan yang terjadi.

Komentar