YAHYA WALONI LAYAK DITANGKAP KARENA IA MENGHINA KRISTEN

Oleh: Ade Armando

Ada kabar bahagia bagi bangsa Indonesia. Yahya Waloni akhirnya ditahan polisi Selasa lalu dengan tuduhan menyebarkan kebencian berbasis SARA dan menodai agama. Dia dilaporkan Komunitas Masyarakat Cinta Pluralisme, April lalu.

Setelah mempelajari kasus secara mendalam, polisi akhirnya menganggap sudah cukup bukti untuk menjadikan Yahya sebagai tersangka. Pengaduan itu nampaknya terkait dengan video Yahya yang diunggah Februari lalu.

Dalam ceramahnya di saluran YouTube itu, Yahya memuji-muji Alquran seraya menghina Injil.

Dia mengatakan: “Alquran itu bersifat hudallinnas, berlaku bagi semua manusia. Sedangkan Bibel (Alkitab) Kristen ini dongeng tambah tahayul yang sama dengan omong kosong. Makanya di situ ada Matius, Markus, Lukas, Stefanus, Tetanus, Spiritus, Cap Tikus.”

Di video itu ia bahkan menyatakan tak gentar dilaporkan ke polisi karena apa yang dikatakannya adalah kebenaran.

Kata Yahya: “Laporkan saya bila perlu ke Bareskrim Polri. Ini bukan cuma penistaan, tapi penghancuran. Saya buka di depan publik, ini (Alkitab) palsu semua. Ini yang justru mengislamkan saya. Ini isinya data-data kebohongan.”

Seperti Anda lihat, pilihan kata yang dilakukan Yahya jelas menunjukkan ia memang sedang berusaha menghina Kristen. Dan memang itulah yang menjadi jualan utama Yahya.

Yahya terkenal karena ia adalah mualaf yang gemar sekali menjelek-jelekkan Kristen. Dia sering mengatakan ia adalah mantan pendeta yang pindah ke Islam karena menemukan bahwa Kristen adalah ajaran yang penuh kebohongan.

Ini ia sampaikan di banyak kesempatan yang direkam dan kemudian disebarkan ke jutaan penonton melalui media digital, seperti YouTube.

Yahya menyatakan, setelah bertahun-tahun menelaah, ia berkesimpulan bahwa teori yang termuat di Alkitab Injil hampir semuanya sungsang alias terbalik. Sehingga dengan demikian, keasliannya patut dipertanyakan.

“Ini teorinya sungsang (terbalik) semua. Teorinya tidak jelas, fakta historisnya kabur,” katanya.

Menurutnya, orang pintar pasti memeluk agama Islam.

Yahya mengatakan, jika ada umat Kristen yang pintar yang membedah isi kitabnya, ia pasti menemukan banyak kekeliruan dalam Injil sehingga ia pasti memutuskan pindah agama seperti dirinya. “Orang kalau udah pinter, pasti masuk Islam. Yakin saya, 1.000 persen,” ujarnya.

Kebenciannya terhadap Kristen juga termuat dalam seri videonya berjudul ‘Membongkar Kesesatan Kristen’. Dia bilang ritual Kristen aneh dan gila. Dalam salah satu videonya dia bilang, kenapa orang Kristen meninggal harus pakai jas lengkap, pakai dasi kupu-kupu.

“Supaya mereka bisa dansa-dansi dengan malaikat.”

Yahya juga menolak disebut sebagai mualaf. Dia mengaku lebih senang disebut mukhtadin. Dalam Bahasa Arab, kata mualaf memiliki arti ‘orang yang dibujuk hatinya’. Sementara dia mengaku tak dibujuk, melainkan mendapat petunjuk Illahi.

Karena itu, katanya, dia lebih cocok disebut mukhtadin daripada mualaf. Tapi kekacauan logika Yahya tidak hanya berhenti di soal Kristen. Penjelasannnya sering kacau, banyak ngarangnya.

Dia sering merujuk pada hoax. Dia misalnya bilang bahwa ada ilmuwan barat terkemuka yang mengatakan bahwa umat Islam kalau tidak tawaf di depan Ka’bah dan salat lima waktu maka berhentilah putaran bumi.

Ini terjadi katanya karena super conductor di Hajar Aswad tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik. Ilmuwan itu katanya bernama Lawrence E. Johnson. Kata Yahya, temuan itu dipublikasikan di koran terkemuka AS, New York Times.

Itu bohong. Tidak ada itu ilmuwan terkemuka bernama Lawrence E. Johnson dan bicara atau menulis di New York Times.

Dia juga pernah menyatakan bahwa ada astronot perempuan dari India, yang ketika di bulan menendengar azan lima kali sehari. Tentu saja, itu juga bohong. Memang cerita-cerita semacam itu banyak disebarkan di media-media penyebar hoax, tapi juga sudah berulang kali ditunjukkan kebohongannya.

Kemudian Yahya juga mengatakan corona itu hanya menyerang orang munafik. Dia bilang corona, tidak akan menyerang muslim yang soleh. Dia bilang Raja Salman di Saudi pun kehilangan iman

Dia bahkan bilang Arab Saudi itu sekarang sudah jadi pengecut, karena melarang orang umroh sehingga Masjidil Haram sepi.

Yahya justru bangga kalau ada jemaah yang datang ke acaranya tidak pakai masker. Itu artinya, kata Yahya, tidak munafik. Yahya dengan yakin bilang, virus corona hanya mengincar yang munafik.

Karena sikapnya yang menggelikan soal corona ini, maka banyak pihak yang mensyukuri ketika dikabarkan ia masuk rumah sakit beberapa pekan yang lalu karena diduga terkena Covid-19.

Saya sendiri tidak tahu persis seberapa akurat informasi itu. Tapi yang jelas ia memang masuk rumah sakit. Yang menarik, para pendukungnya kemudian mengembangkan narasi bahwa Yahya masuk rumah sakit karena diracun.

Ini didasarkan pada sebuah video Yahya yang mengaku dirinya mengalami percobaan pembunuhan. Kata Yahya, dia didatangi seseorang yang bilang ia sebenarnya memasukkan racun ke dalam makanan Yahya.

Yahya bercerita ia sebenarnya memang sempat terkena efek: dari telinga dan hidungnya keluar darah mengucur. Tapi dia tidak tewas.

Dan ini menyebabkan si pelaku kaget luar biasa. Kata si penjahat itu, seharusnya setelah memakan racun itu, Yahya mati dalam waktu satu jam. Karena itulah ketika ia melihat Yahya sembuh kembali, ia menyatakan diri bertobat dan masuk Islam.

Yahya memang suka membual, berbohong, dan menghina semacam itu. Gayanya sok jagoan, petantang petenteng di atas panggung. Bahkan setelah kebohongannya terbongkar, dia juga tidak berubah.

Dia misalnya mengaku bahwa sebelum menjadi mualaf, ia sempat menjadi pedeta GKI di Papua. Tapi ceritanya sudah dibantah oleh GKI.

Ia memang diketahui pernah melamar menjadi pendeta di Gereja Protestan Indonesia di Toli Toli pada Agustus 2006. Tapi ditolak karena ia tak bisa menunjukkan ijazah yang mendukung pengakuannya bahwa ia lulusan sekolah teologi.

Ia juga mengaku pernah menjadi Rektor Sekolah Tinggi Teologi di Sorong pada 1997-2004. Ini pun kemudian dibantah rektor lembaga pendidikan tinggi tersebut. Jadi orang semacam Yahya ini memang perusak dan pemecah belah bangsa.

Tentu saja kita layak menghormati mereka yang berusaha membahas ajaran agama, dan kemungkinan kontroversinya, secara ilmiah. Di dunia Kristen sendiri, perdebatan tentang apakah Yesus adalah Tuhan atau hanya Nabi yang diutus Tuhan, memang hidup sejak lama sampai sekerang.

Ketika novel dan film Da Vinci Code beredar di Indonesia, tidak banyak protes terdengar. Padahal karya fiksi itu membangun cerita di atas asumsi bahwa Yesus sebenarnya tidak tewas saat disalib.

Yesus sebenarnya diselamatkan dan masih melanjutkan misi sucinya sampai meninggal puluhan tahun kemudian. Karya semacam itu bisa diterima karena tidak ada tujuan menghina.

Ini beda sekali dengan apa yang dilakukan Yahya. Yahya bukan saja berbohong tapi juga dengan sengaja menyebarkan penghinaan dan kebencian yang ditujukan untuk membangkitkan kemarahan.

Dalam kasus yang menjeratnya kali ini, ia menghina Injil sebagai kitab dongeng, tahayul, omong kosong, dan memuat Tetanus dan Cap Tikus. Yahya bukan sedang mengajak diskusi. Yahya memang sedang memprovokasi kebencian.

Indonesia sama sekali tidak membutuhkan orang seperti Yahya. Di saat kita membangun persaudaraan kebangsaan, Yahya adalah penyakit yang memang harus dibasmi. Mudah-mudahan, polisi dapat terus bertindak tegas.

Komentar