WALONI & KECE, TARO DI SATU SEL AJA…

Oleh: Denny Siregar

Akhirnya Yahya Waloni ditangkap juga oleh Bareskrim Polri. Saya sudah sejak lama gemas dengan orang ini, yang mengaku mualaf dan tiba-tiba dapat panggung ceramah dengan jualan menjelek-jelekkan agama sebelumnya yang dia anut. Itu saja jualannya, gak ada sedikitpun ilmu agama yang dia sampaikan. Jangankan tentang fikih, bahkan saya yakin bacaan arab ketika menafsirkan kitab pun saya rasa dia tidak fasih. Padahal, salah pengucapan bisa jadi sudah jauh sekali beda artinya.

Dan untuk mempelajari hal-hal seperti itu, perlu mondok bertahun-tahun lamanya sehingga dia paham apa yang dimaksudkan di dalam kitab suci. Untuk mencapai level penceramah, itu mirip seperti menjadi dosen di sebuah universitas. Gak cukuplah level S1 saja, tetapi minimal S2. Ini si Waloni, sekolah dasar aja kayaknya gak tamat, sudah ambil panggung dan mic lalu bergaya penceramah. Akhirnya yang dia ceritain di depan jemaah ceritanya tentang nabrak anjing matilah, agama dulu begin-begitulah. Sedikitpun gak ada nilai-nilainya.

Miriplah sama almarhum Maaher yang nama aslinya Soni itu. Atau Sugik Nur, mantan tukang jual obat di pasar yang mendadak menjadi Gus itu. Mereka sama-sama tidak punya dasar ilmu agama yang benar, cuma belajar sedikit-sedikit di permukaan, hafallah beberapa ayat tentang sabar, terus ambil mic dan cerita-cerita tentang masa lalu hidupnya yang kelam, sambil memaki-maki orang yang beda pemahaman. Begitulah jualan mereka. Makanya saya itu males nyebut mereka ustaz. Saya biasa menyebut mereka itu tukang obat. Karena mereka hanya mengenal agama sebagai sebuah produk untuk jualan. Bukan melihat agama sebagai sebuah nilai, sebagai pedoman supaya orang tidak tersesat.

Coba perhatikan. Model-model para sales agama itu punya pola yang sama. Cari duit doang. Ujung-ujungnya jualan. Ada yang cari amplop dari undangan ke undangan. Ada yang cari popularitas lewat saluran media sosial. Ada juga yang akhirnya ngumpulin jemaah banyak, terus dijadikan reseller madu yang dia jual. Jemaah buat orang-orang seperti Waloni dan Sugik itu hanya dilihat sebagai nilai ekonomi. Kalau jemaahnya ada yang cantik, ya dikawini. Itu aja. Urusannya kalau gak perut ya selangkangan. Sedangkan nilai-nilai agama itu urusan belakangan.

Dan model yang sama kita lihat dari si Muhammad Kece. Saya awalnya gak tahu siapa sih Muhammad Kece ini sesudah banyak orang ribut karena dinilai dia menghina agama. Dan sesudah saya selidiki, eh ternyata dia hanya orang biasa yang pindah agama dari Islam ke Kristen. Dia bukan ustaz, apalagi ulama. Terus dia buka saluran YouTube dengan fokus membedah agama Islam yang dulu dia anut. Kocak, kan? Dulu di Islam gak ngerti tentang agama Islam, sekarang pindah agama jadi orang yang seolah-olah mengerti tentang Islam.

Saya curiga, ini pasti ada faktor duitnya juga nih. Eh benar aja, di akhir video YouTubenya dia buka donasi yang dia namakan “taburan kasih”. Orang diminta untuk transfer “taburan kasih” itu dalam bentuk rupiah ke rekening BCA-nya. Oalah Ce, Kece. Ini urusan duit toh. Si Kece yang wajahnya agak kurang kece ini, sengaja menjaring umat Kristen yang emosional, yang pengetahuannya juga dangkal, sebagai jemaahnya. Dia mencari simpati dengan memanfaatkan kebencian sebagai pemasukan. Dan baru saya tahu, nama aslinya Muhammad Kosman, dan itu tertera di rekening BCA yang dia sebarkan.

Menjaring para penghina agama ini memang gampang-gampang susah. Gampang karena buktinya jelas tertera. Dan susah, karena ini menyangkut keyakinan. Keyakinan setiap orang itu berbeda. Ada yang yakin kalo bumi itu datar, dan banyak juga yang tidak. Kalau seseorang kemudian menjelek-jelekkan bumi datar, itu bisa jadi penghinaan dan bisa juga bukan. Lha wong itu semua dari sudut pandang seseorang ada yang menilai keyakinan bumi datar itu jelek. Tetapi karena terus dijelekkan, akhirnya yang meyakini bumi datar menganggap itu sebagai penghinaan. Dan di sinilah yang menjadi masalah besar.

Masalah ini kemudian berimbas ke penegak hukum, yaitu polisi. Polisi bisa saja menangkap si A misalnya atas dasar penistaan agama. Tetapi masalahnya, sesudah dia ditangkap, pengacaranya membela bahwa ini gak bisa dipidana karena berhubungan dengan keyakinan seseorang. Terus polisi mau bilang apa? Kalau sudah bicara masalah keyakinan itu memang bias. Kalau biasa begini, polisi susah meneruskannya ke pengadilan karena pasti ditolak. Dan kalau ditolak, selain kerjaan polisi menjadi sia-sia, juga dampak sosialnya itu besar. Bisa jadi keributan antara dua kelompok yang punya keyakinan berbeda. Coba, bagaimana mengukur kebenaran ketika yang satu melihat angka 6 sebagai 6 dan satunya lagi melihat angka 6 sebagai angka 9 ketika mereka berdua ada di dua sudut pandang yang berbeda?

Karena itulah, untuk masalah penghinaan agama ini, dipakai model delik aduan. Yang merasa agamanya dihina, silakan lapor. Nanti polisi akan melakukan proses pencarian bukti, benarkah telah terjadi penghinaan?

Tolok ukur lain adalah potensi kerusuhan. Apakah penghinaan itu bisa menimbulkan ketegangan dan kerusuhan antara yang beda keyakinan? Kalau ada potensi itu, polisi pasti bertindak cepat mencegah kerusuhan besar. Salah satu caranya adalah dengan menangkap si penghina. Karena itu, kalau permasalahan ini berbentuk penghinaan agama, polisi biasanya agak gamang. Tetapi karena ada UU-nya dan polisi adalah pelaksana UU, maka itu semua harus dilakukan. Itulah kenapa kalau berhubungan dengan masalah agama, persoalan menjadi kompleks buat polisi. Soalnya kalau gak ditangani dengan hati-hati, bisa terjadi gesekan yang dimanfaatkan oleh politisi untuk membakar negeri.

Dan tambah lagi, banyak sekali teriakan dari masing-masing agama yang tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh polisi. Ya namanya keyakinan, pasti di masing-masing pihak selalu ada yang militan. Mereka yang selalu merasa teraniaya dan terpinggirkan. Ini yang selalu menambah keributan. Tidak semua pihak bisa disenangkan. Semua orang bicara keras, dan ingin keinginannya cepat untuk diwujudkan.

Karena itu saya salut dengan beberapa teman saya, seperti Muannas Alaidid dan Husein Shihab yang berjuang keras ada di posisi tengah. Mereka mendampingi para pelapor, bahkan mencari pelapor supaya masalah ini terselesaikan. Mereka ini agamanya Islam dan habib pula. Tetapi mereka bergerak bukan atas dasar atau nama agama, melainkan persatuan antarumat. Yang sulit adalah ketika umat Kristen merasa terhina, mereka berdua ini mencari orang yang berani melaporkan penghinanya. Rata-rata sih gak ada yang mau jadi pelapor, takut dipersekusi. Kalau pun ada, sesudah melaporkan, mereka bisa mencabut laporannya sendiri karena takut terancam. Muannas Alaidid dan Husein Shibab, teman saya ini sudah sejak lama mengawal kasus ini secara hukum. Sebagai pengacara mereka menggratiskan jasa mereka atau istilahnya probono, bahkan nyawa mereka sering diancam karena dianggap berkhianat oleh orang-orang yang beragama sama dengan mereka.

Jadi, saya berharap sih ya kita hargailah upaya polisi, para relawan, dan orang-orang yang tidak terlihat di depan perang ini. Tidak perlu mencaci maki mereka, memaksa keras mereka, tetapi lebih baik mengapresiasi kerja mereka. Masih mending ada orang-orang yang turun dan kerja, kalau gak, entah jadi apa negara kita kalau tidak ada yang peduli.

Lebih baik beragamalah dengan moderat saja. Gak usah sok paling suci. Kita hidup dengan keanekaragaman. Kita hidup di dalam perbedaan. Nikmati itu sebagai anugerah Tuhan dan kita bisa belajar darinya. Dan gak perlu lagilah sibuk dengan label mayoritas, minoritas. Malu sama mbah-mbah kita yang dengan teknologi terbatas mendeklarasikan Sumpah Pemuda di tahun 1928.

Setuju? Kita angkat dulu cangkir kopinya.

Kita doakan ya Yahya Waloni dan Muhammad Kece satu sel nanti dan mereka berdebat tentang agama yang mereka yakini. Yang kalah debat, taruhannya pindah agama aja lagi.

Komentar