ROCKY GERUNG KEHILANGAN AKAL SEHAT SOAL KUNJUNGAN JOKOWI KE AFGHANISTAN

Oleh: Ade Armando

Di awal video ini saya ingin memberi peringatan tambahan. Yang jangan menonton video ini bukan saja yang tidak menggunakan logika, tapi juga para pecinta Rocky Gerung. Masalahnya, apa yang akan saya sampaikan ini mungkin akan membuat Rocky sendiri malu.

Dia bikin blunder fatal yang seharusnya tidak dilakukan mantan dosen filsafat UI sekaliber dia. Jadi kalau Anda adalah pecinta Rocky dan tetap ingin menonton video saya ini, siap-siap ya.

Saya ingin mengangkat sebuah video di channel YouTube Rocky Gerung Official. Judul videonya: “Heboh Cerita Presiden Jokowi Menyetir Mobil di Kabul, Afghanistan”

Di video itu, Rocky diwawancara jurnalis senior yang sekaligus sering jadi konsultan politik, Hersubeno Arief, atau sering dipanggil Hersu. Seperti biasa, mereka menyinyiri Jokowi. Kali ini, mereka menayangkan sebuah video yang memang viral di media sosial. Dalam video berdurasi satu menit itu, ada rekaman perjalanan Jokowi ke Aghanistan.

Namun yang dijadikan bahan pelecehan mereka bukanlah muatan visualnya, melainkan pernyataan Jokowi yang menyertai video tersebut. Jokowi mengatakan bahwa ia bertemu dengan istri Presiden Afghanistan, Rula Ghani.

Kemudian Jokowi mengatakan bahwa 40 tahun yang lalu, dia menyetir mobil di Kabul dan antara Kabul dengan kota-kota lainnya, dan menemukan bahwa kondisi Afghanistan aman tenteram tidak ada masalah.

Masalah baru dimulai, kata Jokowi lagi, ketika ada dua suku mengalami konflik. Kedua suku itu mengajak pihak luar terlibat. Akibatnya terjadi konflik berkepanjangan yang tidak pernah bisa diselesaikan bahkan sampai 40 tahun kemudian.

Kemudian Jokowi mengutip anjuran dari Ibu Rula Ghani bahwa Indonesia tidak boleh membiarkan ada konflik sekecil apapun. Kalau ada konflik, segera rukunkan, selesaikan. Itulah kira-kira isi video perjalanan Jokowi ke Afghanistan.

Segera setelah video ini beredar, serangan terhadap Jokowi sudah berdatangan di media sosial. Banyak netizen menghina Jokowi sebagai tukang ngibul karena nggak mungkinlah Jokowi 40 tahun yang lalu, jalan-jalan ke Afghanistan dan menemukan Kabul yang aman.

Tapi kalau cuma netizen biasa sih, mungkin bisa dimaklumilah. Umumnya para pembenci Jokowi kan memang tidak pintar.

Tapi bagi saya yang menarik adalah isi obrolan Hersubeno dan Rocky yang kualitasnya tak jauh berbeda dengan omongan rendahan para netizen anti-Jokowi.

Dengan gaya ahli, Hersu dan Rocky mengatakan video itu menunjukkan Jokowi adalah tukang bohong dan tidak paham politik. Persoalan pertama, kata mereka, adalah bahwa tidak mungkin Jokowi mengendarai mobil 40 tahun yang lalu di Kabul.

“Memang usia Jokowi berapa?” Katanya. Tapi, kata Hersu, kejanggalan ini sebenarnya bisa dimaafkan. Menurutnya yang lebih penting adalah pernyataan Jokowi bahwa 40 tahun yang lalu kondisi Afghanistan aman.

Ini tidak masuk akal karena 40 tahun yang lalu, atau sekitar 1980, konflik Afghanistan justru sedang berlangsung dengan panas. Menurut Rocky, dia ingat betul bahwa itu adalah tahun-tahun di mana Afghanistan sedang dalam keadaan krisis karena adanya invasi Soviet ke Afghanistan.

Jadi bagaimana mungkin Jokowi menggambarkan bahwa orang bisa mengendarai mobil di sana dalam keadaan tenang dan tenteram? Menurut Rocky, apa yang dikatakan Jokowi, kembali menunjukkan bahwa sang Presiden memang pembohong.

Terus terang, percakapan Hersu dan Rocky ini memalukan. Pernyatan dan kesimpulan mereka menunjukkan cacat serius dalam logika mereka.

Mereka mengabaikan begitu saja sebuah kewajiban mendasar dalam masyarakat digital saat ini, yaitu upayakan memastikan dulu, memverifikasi dulu, materi digital yang hendak Anda komentari.

Dulu, saya juga sering terkecoh. Tapi sekarang ini, saya sudah belajar, dan seharusnya Hersu dan Rocky juga sudah belajar, bahwa apa yang tersaji di video atau foto, atau gambar yang beredar di dunia maya mungkin dimanipulasi.

Dan salah satu ‘clue’, tanda, yang patut membuat kita curiga adalah kalau ada ketidaklogisan dalam materi yang kita saksikan. Dan ini bukan urusan yang terlalu rumit sebenarnya.

Salah satu pelajaran yang senantiasa ditekankan kalau Anda belajar logika adalah, ada tidak koherensi internal antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya, antara satu fakta dengan fakta lainnya, dengan mengikuti kaidah-kaidah yang logis?

Dan kalau saja itu diterapkan, kita harusnya segera curiga bahwa video Jokowi itu dimanipulasi. Dan itulah yang sebenarnya terjadi.

Cuplikan pernyataan Jokowi itu diambil dari kata sambutan Presiden dalam musyawarah NU pada Februari 2019. Di dalamnya, Jokowi bercerita bahwa ia pernah ke Afghanistan pada 2018, dan bertemu dengan Ibu Rula Ghani.

Sehari sebelum kedatangan Jokowi, ada ledakan besar yang menewaskan banyak orang di Kabul. Saat bertemu Jokowi, Ibu Rhula mengatakan bahwa Afghanistan semula adalah negara damai dan tenteram.

Ibu Rhula mengatakan bahwa 40 tahun yang lalu, ia bisa mengendarai mobil sendiri di Kabul dan di kota-kota lain dalam keadaan aman, tenteram dan tanpa masalah. Kemudian, kata Jokowi, Ibu Rhula menjelaskan bagaimana konflik dimulai, meruncing, dan tidak kunjung selesai.

Jadi, kata-kata ’40 tahun yang lalu, Afghanistan itu damai’ bukanlah kata-kata Jokowi.

Jadi yang terjadi adalah ada seorang editor yang dengan licik memotong kata-kata tersebut dan kemudian dipindahkan ke bagian lain sehingga susunan barunya seolah menunjukkan Jokowi mengatakan ia pernah ke Afghanistan 40 tahun yang lalu.

Dan mengingat pernyataan Ibu Rhula itu diucapkan pada 2018, maka logika 40 tahun yang lalu Afghanistan masih damai juga sangat masuk di akal. 40 tahun yang lalu dari 2018 adalah 1978, dan tahun 1978 perang Afghanistan memang belum dimulai.

Perang baru pecah pada 1979. Jadi tidak ada yang salah dengan penyebutan 40 tahun yang lalu Afghanistan damai. Rocky dan Hersu seharusnya sudah curiga bahwa ada yang janggal dengan video Jokowi itu.

Terutama Hersu lah, sebagai seorang pengelola channel YouTube, seharusnya tahu bahwa ada kemungkinan bahwa video itu hasil editan.

Sekarang ini, dengan segenap perkembangan teknologi digital, sangat mudah bagi mereka yang paham pengetahuan dasar mengoperasikan alat-alat video digital untuk melakukan pengeditan suara.

Mestinya sih, pakai logika sederhana saja, gak mungkinlah Jokowi sampai mengklaim bahwa ia pernah berjalan-jalan di Afghanistan pada saat ia masih kuliah di UGM dulu. Lagipula mengapa pula dia harus membual bahwa di masa mudanya, ia pernah melakukan petualangan semacam itu?

Itu semua sudah harus dicurigai sejak awal. Tapi karena Hersu dan Rocky begitu saja mempercayainya, mereka kini justru nampak menjadi dua komentator yang tidak berpengetahuan dan tidak menggunakan akal sehat.

Mereka menuduh Jokowi pembohong. Mereka bahkan dengan gegabah menyatakan Jokowi dan Istana sama sekali tidak paham dengan sejarah Afganistan.

Padahal tuduhan dan hinaan mereka itu didasarkan pada sebuah video palsu yang seharusnya sudah mereka bisa identifikasi sejak awal bahwa itu adalah video yang dimanipulasi. Tapi kesembronoan mereka ini bisa juga terjadi karena hati mereka sudah begitu dikuasai prasangka buruk.

Mereka ingin sekali percaya bahwa Jokowi itu buruk, busuk, bodoh, pandir, pembohong. Mereka tidak ingin menerima kenyataan bahwa Jokowi sebenarnya baik, bersih, pintar, cerdas, jujur.

Ini mungkin terjadi karena kalau sebenarnya Jokowi pintar dan baik, ini akan mengganggu keseimbangan jiwa mereka yang selama ini menganggap Jokowi bodoh dan jahat. Kalau sebenarnya Jokowi pintar dan baik, ini akan menghantam kepercayaan diri mereka karena mereka ternyata selama ini memiliki keyakinan yang salah.

Tapi mungkin juga mereka dengan sengaja ingin membangun imej Jokowi yang buruk agar rakyat bersama-sama menentang Jokowi dan kalau mungkin menggulingkannya.

Kita harus selalu ingat bahwa Rocky pernah menyatakan bahwa pada 17 Agustus 2021, Jokowi seharusnya sudah diturunkan dari kursi kepresidenannya. Itu adalah bukti sederhana untuk menunjukkan betapa Rocky memang membenci Jokowi.

Akibatnya, ketika tiba-tiba disodorkan ke depan hidungnya video yang seolah menunjukkan betapa bodohnya Jokowi, dengan segera video palsu itu ia gunakan untuk menghina Jokowi di depan publik Indonesia.

Akibatnya, kini ia justru mempermalukan dirinya. Para pecinta Rocky Gerung selama ini mengelu-elukannya sebagai juara akal sehat. Kini terbukti, mungkin karena kebenciannya, akal sehat sudah ia campakkan.

 

Komentar