MENELISIK SEBAB MUSABAB “TALIBAN” BEGITU EKSTREM

Oleh: Syafiq Hasyim

Minggu lalu adalah minggu yang membelalakkan mata kita semua, masyarakat dunia. Kelompok politik-agama yang sudah tersingkir dari struktur kekuasaan Afghanistan selama kurang lebih 20 tahunan, kembali mengambil alih kekuasaan di negeri multi etnik ini. Kelompok yang disebut dengan istilah Taliban, dalam bahasa Arab murid, merebut kembali Afghanistan dari pemerintahan hasil Pemilu dan didukung oleh Amerika, Inggris dan negara-negara sekutunya dengan kekuatan militer.

Di tanah air, sebagaimana masyarakat kita terbelah dalam melihat masalah kekuasaan Taliban ini. Ada yang merasa bahagia, menyambut secara euforia, karena Taliban berhasil mengusir pemerintahan Afghanistan dukungan Barat. Mereka ini melihat Taliban membebaskan Afghanistan dari penjajahan baru.

Ada yang merasa masygul karena kemenangan Taliban ini adalah simbol kembalinya kekuasaan tiranik, ekstrem, menindas hak asasi manusia, terutama kaum perempuan dan anak. Kali ini saya ingin melihat mengapa Taliban begitu ekstrem dan violent? Saya memilih menjelaskannya lewat sisi teologis dari kelompok Taliban ini.

Secara pribadi, mengikuti perkembangan penguasaan kembali Afghanistan oleh Taliban, saya melihat dari berbagai siaran TV internasional, baik yang berbasis di Eropa seperti BBC, TV Prancis, TV Russia maupun Cina, secara bergantian. Sudah barang tentu, cara pemberitaan mereka berbeda-beda, tergantung kepentingan jurnalistik yang mereka punyai.

Tapi ada satu hal yang mereka terus sebut yakni soal afiliasi teologis Taliban pada madzhab Hanafi dan Deobandi. Lalu selanjutnya ada pertanyaan, bagaimana sebuah kelompok yang menganut madzhab Hanafi, madzhab paling rasional di dalam Islam, memerintah dengan cara yang sadis, memenjarakan perempuan sebagai misal, padahal fiqih Hanafi memberikan ruang publik yang cukup luas bagi peran perempuan. Ini salah satu contoh dari banyak contoh ekstrem dari governing model Taliban.

Bagaimana dengan Deobandi yang di India memiliki cara pandang tajdid atau pembaharuan, tapi sampai ke kelompok Taliban menjadi begitu rigid yang hampir mendekati rigiditas kaum salafi?

Dalam sejarah perkembangan fiqih, di antara empat madzhab fiqih yang masih berlaku sampai saat ini, madzhab Hanafi adalah madzhab yang terbuka karena penggunaan ra’yu atau dalam bahasa Indonesia akal. Madzhab Hanafi ini memang menjadi madzhab resmi di Kawasan negara-negara Asia Selatan, seperti India dan Pakistan, dan juga beberapa negara di Asia Tengah.

Taliban bermadzhab Hanafi karena para pendiri faksi ini memang belajar dari mata rantai keilmuan yang disemai di Darul Ulum Deoband. Darul Ulum Deoband adalah lembaga pendidikan Islam terbesar di dunia Sunni setelah al-Azhar di Mesir. Taliban yang dalam Bahasa Arab itu memiliki arti murid terkait dengan kebanyakan madrasah di Pakistan. Banyak madrasah dan perguruan Islam yang merupakan kepanjangan dari madrasah Deoband.

Besar kemungkinan, dari sisi sejarah ini, nama Taliban digunakan karena mereka, para pendiri, tokoh dan aktivis Taliban adalah para murid atau santri dari madrasah Deoband. Syaikh Waliyullah Dehlawi (1703-1762), seorang sufi dan sekaligus sarjana besar Muslim dari kawasan Asia Selatan adalah bapak spiritual Darul Ulum Deoband.

Deoband sendiri merupakan kota kecil di wilayah provinsi Uttar Pradesh, di India. Sebagai lembaga pendidikan, Darul Ulum memiliki tiga tujuan penting dalam pendiriannya. Pertama memajukan peranan agama dalam kehidupan pribadi dan umum. Kedua, bebas dari penindasan, baik oleh kaum kolonial maupun diktator dalam negeri. Yang ketiga, kesederhanaan (simplicity) dan kerja keras. Para tokoh lulusan Deoband ini memiliki sumbangan besar dalam pembebasan India dari kolonialisme Inggris.

Lalu bagaimana dengan Taliban? Ada ungkapan yang menarik bahwa setiap orang Afghanistan adalah seorang Deobandis (every Afghan is a Deobandi). Setelah Pakistan menjadi negara sendiri pada tahun 1947, cabang-cabang Darul Ulum Deoband banyak didirikan di seluruh negeri Pakistan ini.

Sentuhan politik, bertambah pada Deoband Pakistan, karena konteks Pakistan sebagai negeri baru saat itu. Mereka mulai melihat kasus-kasus penindasan masyarakat Muslim di negeri bekas negeri mereka, seperti di Kashmir. Madrasah Deoband Pakistan ini banyak berdiri di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan, jadi wajar apabila orang-orang Afghanistan banyak yang belajar di sini dan termasuk sebagian besar yang kini menjadi para tokoh dan pimpinan Taliban.

Sebagai murid dari Deoband, Taliban merupakan gambaran kontradiktif dari madrasah Deoband itu sendiri yang berpusat di India tadi. Darul Ulum Deoband dikenal sebagai pembaharu dan mengutamakan ajaran-ajaran sufistik, bahkan cenderung rasional, karena aliran kalam mereka adalah aliran Maturidi yang agak dekat dengan cara pandang Mu’tazilah.

Sementara Taliban di Afghanistan dalam operasi politik dan pemerintahan mereka cenderung dekat pada model al-Qaeda dan Jama’ah Islamiyah, bahkan dari segi kekerasan dan brutalitas yang mereka gunakan atas nasib kaum perempuan dan anak, mereka mendekati ISIS.

Meskipun Taliban tidak akur dengan ISIS. Ternyata hal ini bisa terjadi, menurut beberapa analisis, karena Taliban ini belajar Islam lebih banyak di Madrasah Deoband yang berada di Pakistan, yang berbeda dengan Darul Ulum Deoband pusat di India. Mullah Omar, tokoh utama Taliban misalnya, belajar di Darul Ulum Haqqania, Peshawar, Pakistan. Meskipun lembaganya Darul Ulum, para pengajar mereka di Pakistan, banyak juga datang dari kalangan Wahhabi dan juga dari kalangan Mujahidin.

Apa yang saya kemukakan di atas mungkin salah satu penjelasan saja yang mungkin luput dari pembicaraan masalah Taliban di negeri kita ini. Dominasi Barat –Amerika dan Inggris—terutama, mungkin bisa menjadi penjelas euforia keberhasilan Taliban kali ini dan itu boleh saja dipakai.

Misalnya Taliban berhak mengatur negeri mereka sendiri, tanpa intervensi dari pihak kolonial baru, Taliban adalah model kemenangan syariah Islam dan lain sebagainya. Meskipun awal kemunculan Taliban itu lebih merupakan moral force untuk memerangi penguasa Mujahidin yang korup pada saat itu, tapi kita tahu bahwa Taliban, secara teologis, sejak kemunculannya itu menjadi masalah bagi kelompok telogis Afghan yang lain. Pendek kata, pendekatan sosial, politik dan macam-macam lainnya, itu memang bisa menjadi penjelas, namun tetap sangat tergantung pada cara pandang kita untuk melihatnya.

Sisi teologis, menurut saya adalah cara pandang yang cukup lumayan. Bagaimana melihat Taliban dari sisi ajaran-ajaran yang mereka anut, sumber-sumber dan pengajar-pengajar yang mereka rujuk. Bagi saya, corak penafsiran syariah yang violent (penuh kekerasan) dan ektremis dari Taliban lebih mudah dijelaskan lewat penjelasan teologis, daripada penjelasan yang lain.

Hal ini disebabkan karena Taliban, sebelum menjadi kekuatan kontra rezim yang sah, yang didukung Amerika dan Inggris, kaum Taliban sudah memiliki cara pandang yang ekstrem dan violent. Bahkan, pada awal-awal kelompok ini muncul dan mereka kerjasama dengan pihak Amerika dan Inggris, pandangan ekstrem dan violent sudah bersama mereka. Karena asumsi yang mengatakan bahwa Taliban itu ekstrem dan violent karena invasi Amerika dan Inggris, jelas asumsi itu tidak benar. Mereka sudah menginternalisasi sikap ekstrem dan violent sebagai bagian dari karakter Taliban yang asli.

Sebagai catatan, saya setuju jika Taliban adalah fenomena yang kompleks, namun saya tidak setuju jika fenomena yang kompleks menghapus kenyataan bahwa mereka menjalankan pemerintahan syariah versi mereka, yang banyak merugikan umat manusia di Afghanistan itu sendiri dan lainnya.

 

Komentar