PRANK INVASI CINA KE INDONESIA

Oleh: Ade Armando

Kelompok-kelompok kadrun terus memanfaatkan kegentingan situasi Covid-19 ini untuk membangun kebohongan tentang apa yang mereka sebut sebagai ‘Invasi Cina’ ke Indonesia.

Saat ini beredar di berbagai Whatsapp Group, tulisan-tulisan yang seolah merujuk pada penyelidikan intelijen tentang invasi Cina ke Indonesia. Bagi kita yang berakal sehat, informasinya sangat tidak masuk di akal.

Namun kalau kita baca berbagai respons yang disampaikan, kita layak khawatir bahwa kebohongan yang terus diulang-ulang ini sangat mungkin menyesatkan pikiran banyak warga biasa.

Saya kutipkan saja tulisan-tulisan yang seolah berbasis laporan intelijen itu dalam bahasa saya.

Jadi digambarkan bahwa sejak awal Covid-19 (akhir 2019) sampai Juni 2021, jumlah tentara Cina yang masuk ke Indonesia dengan sepengetahuan dan restu pemerintah Jokowi sudah mencapai 14 juta orang.

Menurut laporan intelijen ini, gelombang kedatangan tentara Cina ini memanfaatkan kelengahan masyarakat Indonesia yang sedang terpusat perhatiannya pada pandemi. Targetnya, pada 2024, sudah akan ada 100 juta warga Cina masuk Indonesia. Bayangkan, 100 juta warga Cina.

Setiap kali pemerintah memberlakukan PPKM atau PSBB, pada saat itulah tentara merah Cina akan masuk Indonesia. Sebagian akan berpura-pura menjadi Tenaga Kerja Asing, atau berpura-pura menjadi tenaga kesehatan, dengan menggunakan segaram APD, perawat, dokter yang mengenakan masker.

Dalam skenario besar ini, jumlah warga Cina akan mencapai pada titik di mana mereka akan menguasai Indonesia dan menyingkirkan warga pribumi. Mereka melakukan upaya ini dengan pertama-tama melumpuhkan dan menguasai instansi keamanan, POLRI, Angkatan Laut, Angkatan Darat, Angkatan Udara.

Langkah berikutnya adalah melumpuhkan ekonomi. Dengan kebijakan-kebijakan PPKM, ekonomi rakyat, dan ekonomi pribumi akan melemah. Seluruh sendi-sendi ekonomi kaum pribumi lumpuh.

Mereka yang bekerja di sektor informal tidak akan sanggup bertahan. Sementara sebaliknya, perusahaan-perusahaan Cina, terutama yang memiliki koneksi dengan bisnis di tanah leluhur, akan semakin berkibar dan berjaya.

Karena itulah kebijakan PPKM akan terus diperpanjang Jokowi, tanpa disadari oleh rakyat yang patuh begitu saja dengan keputusan rezim. Dalam kondisi krisis ini, rezim Jokowi akan semakin memperkuat hubungan kerjasama dengan Cina.

Dengan alasan demi pemulihan ekonomi, pemerintah akan membuka lebar investasi Cina. Dan berbeda dengan investasi asing lain, Cina bukan hanya akan mengirimkan modal, namun juga mengirimkan manusia. Yang akan dikirim bukan hanya manajer, ahli, teknisi, tapi juga buruh.

Maka di daerah-daerah di mana ada projek yang dibiayai oleh modal dari Cina, akan juga ditemukan pemukiman-pemukiman yang diisi imigran Cina. Mereka tidak akan mau menggunakan pekerja lokal. Karena tujuan mereka memanglah menjajah Indonesia.

Mereka juga menguasai media massa. Karena itulah, kedatangan tenaga kerja asing dan tentara Cina itu tidak akan diberitakan. Begitu juga dengan pendidikan. Rakyat pribumi akan diperbodoh dengan sistem pendidikan daring.

Anak didik pribumi tidak mampu bersaing karena tidak punya sarana pendidikan yang memadai. Guru, kepala sekolah, dosen, juga tidak bisa berhubungan langsung dengan anak didik mereka.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, siswa-siswa Cina akan semakin pintar. Begitu nanti pandemik dinyatakan berakhir, anak-anak didik pribumi sudah jauh tertinggal. Rakyat pribumi juga akan dijauhkan dari agamanya.

Mereka tidak boleh memakmurkan masjid, dilarang sholat berjamaah, dilarang sholat Jumat, dilarang mengaji. Umat Islam dilarang mudik agar tidak bisa berkumpul dengan rakyat di daerah asal. Umat Islam dilarang umroh dan naik haji agar tidak bisa berkumpul dengan umat Islam internasional.

Tujuan Cina adalah menguasai Indonesia mengingat jumlah penduduk di negaranya sudah mencapai 2 miliar manusia. Wilayah tiongkok sudah terlalu penuh, dan karena itu mereka membutuhkan wilayah baru untuk diduduki.

Indonesia dianggap sebagai negara yang potensial untuk jadi wilayah kekuasaan mereka. Dan ini bisa tercapai karena Indonesia dipimpin oleh Jokowi yang sangat pro Cina.

Karena itu kalau bisa kekuasaan Jokowi diperpanjang sampai tiga periode agar proses penjajahan Indonesia bisa lebih lama dilakukan. Yang lebih mengerikan adalah kedatangan tim kesehatan Cina juga dilengkapi dengan vaksin yang disiapkan sebagai racun pembunuh yang mematikan.

Apa yang menjadi tujuan mereka adalah apa yang disebut sebagai DEPOPULASI rakyat pribumi Indonesia. Karena itu disarankan agar rakyat Indonesia menolak divaksin. Jangan percaya dengan perintah wajib vaksin. Gunakan saja pengobatan alternatif.

Terakhir, waspadai modus baru yang dilakukan gerakan pembasmian pribumi dengan berpura-pura sebagai tim sterilisasi dengan melakukan penyemprotan disinfektan.

Mereka akan mendatangi rumah warga dengan berpura-pura akan melakukan penyemprotan disinfektan. Mereka akan meminta penghuni rumah untuk keluar selama penyemprotan. Tapi ternyata begitu mereka berada di dalam rumah, mereka akan menjarah barang-barang berharga di dalam rumah. Dari perhiasan, jam tangan, laptop, dan sebagainya.

Karena itu, untuk mencegah aksi depopulasi ini, warga pribumi harus senantiasa waspada dengan invasi kaum Cina ini. Bila ada tim berseragam APD hendak melakukan tes swab, PCR, vaksinasi atau penyemprotan disinfektan, upayakan agar para petugas tim dibuka maskernya.

Bila perlu diperika kartu identitasnya. Dan bila ternyata mereka bukan pribumi, segera laporkan. Begitulah narasi-narasi yang kini terus disebarkan melalui beragam media komunikasi.

Seperti yang saya katakan bagi mereka yang berakal sehat dan banyak membaca, seluruh argumen tentang invasi Cina ini sangat tidak masuk di akal. Cina tidak memerlukan Indonesia sebagai negara koloni mereka. Cina tentu saja senang kalau bisa menjadi mitra dagang Indonesia, karena Indonesia merupakan pasar besar dan memiliki sumber daya alam luar biasa.

Cina saat ini adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan itu tidak dicapai dengan cara menjajah negeri lain. Bagi Cina, sebuah Indonesia yang penduduknya makmur jauh lebih menguntungkan mereka dibandingkan sebuah negara dengan penduduk miskin dan penuh konflik.

Kisah tentang Cina membawa vaksin yang akan membunuhi rakyat Indonesia itu luar biasa menggelikan karena bagaimana mungkin itu bisa terjadi tanpa kesadaran masyarakat awam.

Bagaimana mungkin itu bisa terjadi tanpa terdeteksi. Kisah tentang rencana kedatangan 100 juta tentara merah Cina juga tidak masuk akal.

Buat apa mereka datang? Mau perang? Perang melawan siapa?

Tapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini memang tidak relevan karena keseluruhan skenario ini memang tidak masuk akal.

Mereka yang membuat kisah ini sama tololnya dengan mereka yang menyatakan bahwa pengusaha Tionghoa bertujuan mengeruk kekayaan Indonesia untuk dibawa kembali ke negara leluhur mereka.

Tidak masuk akal, tapi mungkin gampang untuk mengelabui mereka yang sudah kepalang membenci kaum Tionghoa dan pemerintah Jokowi. Seperti saya katakan, buat kita yang berakal sehat, cerita semacam ini akan dilihat sebagai sekadar imajinasi liar yang menggelikan.

Masalahnya, bagi mereka yang tak berakal, kisah-kisah provokatif ini bisa menjadi landasan kebencian yang akan terus tumbuh.

Komentar