AKAL SEHAT DAN TRAGEDI KEMATIAN PARA SISWI DI SAUDI

Oleh: Ade Armando

Saya ingin berbagi kisah yang sangat dramatis. Pada 11 Maret 2002, kebakaran hebat terjadi di sebuah sekolah perempuan di Mekkah. Akibat kebakaran itu, 15 siswi tewas. 50 lainnya cedera parah.

Namun yang penting bagi kita semua, kematian itu seharusnya tidak terjadi kalau saja para polisi agama secara sigap menyelamatkan mereka. Yang terjadi, alih-alih menolong, para polisi agama itu membiarkan para siswi tewas di hadapan mata mereka.

Kejadiannya memang berlangsung hampir 20 tahun yang lalu. Mungkin sudah cukup lama. Namun menurut saya, tragedi ini merupakan pelajaran sangat penting bagi mereka yang percaya bahwa umat Islam harus tunduk pada aturan agama yang sangat ketat dan tidak membuka ruang bagi interpretasi.

Kasus ini mengajarkan kita bahwa ketundukan pada ajaran agama secara kaku tanpa menggunakan akal bisa membawa korban yang luar biasa.

Begini ceritanya.Kebakaran di Mekkah itu dimulai oleh api rokok yang menjalar dengan cepat. Begitu api berkobar, ratusan siswi berhamburan meninggalkan gedung sekolah.

Sayang, para petugas kepolisian yang mendatangi lokasi kejadian malah mempersulit penyelamatan. Mereka mencegah sebagian siswi keluar dari sekolah hanya karena para siswi itu belum sempat mengenakan jilbab dan abaya.

Para petugas itu juga tidak mau menyentuh para siswi tersebut dengan alasan ‘takut terangsang’. Para siswi yang tak berjilbab itulah yang akhirnya menjadi korban tewas terkunci di dalam gedung.

Sebagian dari mereka bahkan sebenarnya sudah hampir sempat keluar, namun diusir kembali ke dalam. Bahkan sebagian warga yang mengaku berusaha menolong, malah dipukuli oleh para petugas.

Peristiwa ini menggemparkan Saudi. Lembaga internasional mengecam para petugas tersebut karena dianggap menafsirkan ajaran agama terlalu kaku. Mereka dianggap lebih peduli pada hukum berpakaian dibandingkan nyawa manusia.

Lembaga otoritas Saudi melakukan penyelidikan atas tragedi tersebut. Namun, pada akhirnya para petugas yang membiarkan para siswi tewas itu tidak dinyatakan bersalah. Yang dianggap menjadi penyebab kematian tersebut adalah jumlah siswi yang melebihi kapasitas gedung dan minimnya peralatan pemadam kebakaran serta alarm.

Cerita ini sengaja saya angkat untuk mengingatkan kita semua tentang betapa berbahayanya cara beragama yang kaku. Ketika akal tidak diizinkan terlibat, agama bisa menjadi sesuatu yang menakutkan.

Di Arab Saudi, cerita semacam itu dalam beragam bentuknya bisa ditemukan di mana-mana. Dalam kasus yang lain di 2014, seorang perempuan meninggal di rumah sakit karena ketika dalam keadaan sakit parah ia tidak boleh diperiksa seorang dokter pria.

Sang dokter sudah bersiap membantu, tapi dilarang karena dianggap ia akan melihat bagian tubuh si perempuan yang bukan muhrimnya. Sialnya tak ada dokter perempuan tersedia. Akhirnya nyawa pasien tersebut tak tertolong.

Ini semua harus kita ingat karena gejala ke arah konservatisme keagamaan tanpa akal ini juga terjadi di Indonesia. Dan ini menjadi mengkhawatirkan ketika kita melihat reaksi yang muncul terhedap apa yang terjadi di Afghanistan.

Orang semacam Jusuf Kalla (JK) harus sampai mengeluarkan pernyataan bahwa apa yang kita kenal sebagai kaum radikal Afghanistan sekarang itu berbeda sekali dari apa yang terjadi 20 tahun yang lalu.

Seolah kaum radikal sekarang sudah jauh lebih moderat dibandingkan di masa lalu. Bagi saya, pernyataan JK semacam ini bisa melenakan dan bahkan menyesatkan. Kenapa kita harus berharap bahwa kaum radikal itu sudah berubah.

Mereka bukanlah kalangan pintar yang mendalami agama secara kritis. Mereka akan tetap hidup dalam wacana keagamaan yang sama: wacana yang radikal, yang tidak bisa menerima perbedaan dan yang percaya cara membaca hukum agama adalah hanya satu, dan itu harus merujuk pada hukum agama berabad-abad yang lalu.

Coba kita lihat kembali contoh tragedi Mekkah tadi. Pertama, para polisi itu percaya bahwa semua perempuan harus berjilbab. Kedua, mereka percaya rambut perempuan membawa malapetaka. Mereka mungkin bahkan percaya bahwa setiap pria yang melihat rambut perempuan turut terkena dosa.

Jadi ketika mereka melihat ada perempuan tidak berjilbab berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api, yang ada di kepala si polisi agama adalah ‘rambut perempuan haram’.

Kaum radikal di Afghanistan juga begitu. Bagi mereka perempuan tidak boleh keluar rumah. Dan begitu ada perempuan keluar rumah, yang ada di kepala mereka adalah perempuan harus disuruh kembali ke dalam, karena di situlah tempat mereka.

Memang kabarnya mereka sekarang sudah mulai membuka ruang lebih lebar. Jadi perempuan di sana memang sekarang boleh mulai berada di ruang publik, tapi hanya untuk kegiatan tertentu saja, dan itu pun harus ditemani kerabat prianya.

Mungkin perempuan sudah boleh bekerja misalnya sebagai dokter perempuan yang melayani pasien perempuan. Tapi ya berhenti di situ saja.

Tapi kalau soal penerapan syariat sih tidak ada perubahan. Dan jangan lupa, para tokoh mereka tetap menyatakan bahwa umat Islam wajib menerapkan syariat Islam di seluruh bumi Allah. Karena itu setelah selesai di negaranya, mereka akan melebarkan sayap ke negara-negara lain.

Dalam hal itulah, kita di Indonesia tidak bisa bersikap lengah. Di Indonesia saja sekarang kita menyaksikan bagaimana penafsiran sempit agama bisa membawa masalah serius.

Ilustrasi sederhananya adalah kengototan sebagian umat Islam agar tetap diizinkan shalat berjamaah di era pandemi, atau tetap diizinkan mudik, atau menolak vaksin yang dianggap belum memperoleh sertifikasi halal. Dalam bentuk yang lebih serius adalah soal penegakan syariat.

Ini sudah terjadi di Aceh. Di daerah tersebut kita sudah menyaksikan bagaimana warga Indonesia harus dicambuk di depan umum hanya karena ketahuan berduaan dengan pasangan bukan muhrim.

Atau di Sumatra Barat, ada kewajiban bagi semua siswi muslim untuk berjilbab. Ini semua adalah bentuk kesempitan beragama. Dan ini semua akan memperoleh tambehan energi untuk tumbuh ketika sebagian dari kita melihat radikalisasi keagamaan di negara-negara Islam lain sebagai contoh yang layak diteladani dan tidak perlu dikhawatirkan.

Tragedi kematian para siswa di Mekkah mungkin contoh yang dramatis. Mungkin di kondisi normal, itu hampir pasti tak akan terjadi.

Namun yang terpenting buat saya, itu pernah terjadi di abad 21 ini dan itu terjadi karena ada orang yang menganggap perempuan harus berjilbab dan kalau perempuan itu tidak berjilbab dia lebih layak mati. Mudah-mudahan kita tidak pernah mengalami keterbelakangan semacam itu di Indonesia.

Komentar