ARAB, TIONGHOA, JAWA, SUNDA, DST ADALAH SATU BANGSA

Oleh: Ade Armando

Saya ingin bicara soal kemerdekaan Indonesia dengan merujuk pada sebuah foto baliho yang menarik. Baliho itu menampilkan enam tokoh Arab yang dikatakan berjasa dalam kemerdekaan RI tahun 1945. Judulnya berbunyi: Di antara Tokoh Ulama yang Berperan dalam Kemerdekaan RI.

Namun yang muka-mukanya muncul di sana adalah wajah lima habib plus satu negawaran, ayah Anies Baswedan, yaitu Abdurrahman Baswedan. Paling atas ada nama Habib Ali Al-Habsyi (Kwitang) yang digambarkan sebagai penentu hari dan waktu proklamasi

Kemudian ada nama Alhabib Husein Mutahar, yang adalah pencipta lagu kebangsaan. Lantas ada pula nama Alhabib Idrus Al-Jufri, penggagas bendera merah putih. Lalu juga ada nama Alhabib Ahmad Assegaf dan Alhabib Syarif Sultan Abdul Hamid.

Banyak dari kita tentu mengenal nama H. Mutahar misalnya, yang menciptakan lagu Syukur dan Hari Merdeka. Tapi kan selama ini kita tidak mengenal dia sebagai ulama. Karena itu nampaknya sih sebenarnya yang ingin ditonjolkan adalah tokoh-tokoh Arab, bukan tokoh-tokoh agama.

Dan ini menjadi menarik karena ini menimbulkan pertanyaan: kenapa sih soal kearaban ini menjadi penting saat ini?

Saya duga ada dua alasan . Yang pertama adalah untuk membersihkan nama habib. Maklumlah imej habib belakangan ini memburuk gara-gara kelakukan Rizieq Shihab yang mengaku-aku habib.

Apalagi kemudian juga ada nama habib Novel Bamukmin, yang ternyata nama habib nyaadalah pemberian orangtua. Jadi dengan baliho ini, mungkin diharapkan nama habib kembali harum

Tapi kedua adalah mungkin untuk membangun kembali imej warga Arab di Indonesia yang beberapa tahun terakhir ini seringkali dianggap negatif karena berbagai peristiwa politik. Dan ini semua kembali mengingatkan kita bahwa persoalan membangun bangsa (nation building) di Indonesia masih jauh dari selesai.

Baliho itu menunjukkan bahwa warga Arab masih harus menunjukkan bahwa mereka adalah bagian sah dari Indonesia. Bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia. Dan kalau ini masih terjadi pada warga Arab, apalagi yang dialami warga Tionghoa.

Dan apalagi yang terjadi pada warga yang menganut kepercayaan leluhur, yang bahkan kepercayaannya saja masih tidak selalu mudah bisa dicantumkan dalam kartu tanda penduduk mereka.

Ini saya angkat kembali di Hari Kemerdekaan, karena kita sering lupa bahwa yang penting untuk diingat pada 17 Agustus ini adalah bukan saja kemerdekaan Indonesia dari penjajahan.

Yang juga penting diingat, 17 Agustus adalah sebuah tanda kelahiran sebuah bangsa yang berbhineka tunggal ika.

Hal kedua ini sering kita lupakan. Sampai saat ini masih terasa ada sekat-sekat yang kita ciptakan sendiri. Istilah mayoritas-minoritas adalah contoh terbaik tentang imajinasi sekat-sekat itu.

Atau bahkan istilah pribumi yang sebenarnya secara hukum sudah harus dinyeahkan namun masih terus digunakan untuk mendiskriminasikan terutama kaum Tionghoa. Kita sering lupa bahwa Allah tidak hanya menganugerahkan kemerdekaan bagi kita tapi juga sebuah bangsa yang beragam.

Saya mungkin salah, tapi rasanya tidak ada negara di dunia ini yang sejarah pembentukan bangsanya seperti Indonesia.

Indonesia adalah sebuah bangsa yang baru yang sengaja dibentuk oleh para tetua kita yang sebenarnya datang dari beragam latar belakang suku, etnik, ras, agama, kepercayaan, bahasa, budaya.

Sampai abad 19, bangsa Indonesia tidak ada. Yang ada adalah kerajaan di Jawa, di Sunda, di Sumatra, di Ambon, di Makasar, dan seterusnya

Baru pada abad 20 lah, ide tentang Indonesia sebagai sebuah gagasan dikembangkan dan akhirnya diwujudkan melalui kesepakatan.

Karena itu kalaulah kita bicara soal Indonesia asli, yaitu adalah mereka yang hadir sebagai warga Indonesia pada 1945 dan keturunannya. Logika bahwa misalnya orang Arab atau Tionghoa bukanlah pribumi adalah sesuatu yang menggelikan.

Kaum Arab, kaum Tionghoa, adalah bagian dari kaum yang bersepakat membangun Indonesia. Begitu juga dengan agama.

Menganggap Islam sebagai agama bangsa Indonesia dan karena itu Indonesia harus menerapkan hukum Islam sepenuhnya mengkhianati akal sehat. Indonesia memang pernah hampir ditetapkan akan diatur oleh hukum Islam.

Sebagian dari Anda mungkin masih ingat dengan cerita naskah asli Pembukaan UDD 1945. Saat itu, sebenarnya sempat tertulis adanya kewajiban bagi umat Islam untuk tunduk pada syariat Islam.

Namun syukurlah para founding fathers Indonesia memutuskan untuk mencorat kewajiban tersebut karena menyadari sepenuhnya bahwa seharusnya tidak ada pembedaan antara warga muslim dan nonmuslim.

Jadi sejak awal bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang dibentuk oleh kumpulan manusia yang bersepakat untuk membangun kesatuan dengan setara. Seperti saya katakan hampir tidak ada sejarah kebangsaan yang serupa dengan Indonesia di seluruh dunia

Banyak negara di Eropa Barat terutama sekarang menjadi negara multikultural, tapi karena dalam beberapa dekade terakhir ini negara-negara tersebut dibanjiri para imigran. Jadi di sana tetap ada kaum asli dan ada kaum pendatang.

Amerika Serikat juga adalah bangsa multikutlural. Tapi mereka membangun bangsa berkat kesepakatan para imigran yang datang dari berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat, justru penduduk aslinya dibantai untuk membuka jalan bagi para pendatang.

India dan Cina juga bisa disebut sebagai bangsa multikultural, namun mereka sudah bersatu sejak beradab-abad di bawah kekuasaan kerajaan yang silih berganti.

Indonesia sama sekali berbeda. Sebelum pemerintah kolonial datang, bangsa Indonesia tidak ada. Para pendahulu kita membangun gagasan tentang sebuah bangsa karena merasa sama-sama dijajah.

Kaum terjajah ini tahu bahwa untuk mengalahkan para penindas, mereka harus bersatu. Terbangunlah kemudian Indonesia. Siapakah yang lebih berjasa dalam memerdekakan Indonesia?

Tidak ada. Semua ras, etnik, agama, terlibat dalam proses perang kemerdekaan Indonesia. Di situ ada para habib, tapi juga ada tokoh-tokoh Tionghoa, ada tokoh Minang, ada tokoh Jawa, Batak, Sunda, Manado, dan seterusnya.

Ada Islam, ada Sunni, ada Syiah, ada Ahmadiyah, ada Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, kepercayaan, dan juga ateis. Semangat itulah yang terus membawa Indonesia sebagai sebagai sebuah bangsa selama 76 tahun.

Karena itu marilah kita meninggalkan sekat-sekat yang masih membelenggu kita. Seharusnya orang Arab tidak perlu lagi berusaha menegaskan identitas keindonesiaannya. Tapi seharusnya orang Tionghoa juga tidak perlu lagi diragukan rasa kebangsaannya.

Seharusnya tidak ada lagi orang Islam yang menolak ada pembangunan rumah ibadah di dekat rumahnya. Seharusnya tidak ada lagi pelarangan pengucapan selamat hari keagamaan antar umat berbeda.

Seharusnya tidak ada persekusi terhadap para pemeluk Ahmadiyah karena dianggap ajarannya berbeda. Indonesia adalah satu, tapi satu yang dilandasi kebhinekaan.

Selamat Hari Kemerdekaan!

Komentar