PESAWAT PRESIDEN DARI BIRU JADI MERAH PUTIH, DEMOKRAT NGAMUK

Oleh: Eko Kuntadhi

Pesawat kepresidenan Republik Indonesia diubah warnanya. Tadinya warnanya biru, ya mirip-mirip warna satu partai. Kalau terbang kayak KTP terbang. Kini menjelang 17 Agustus pesawat itu diubah warnanya menjadi merah putih.

Sebetulnya wajar. Bendera Indonesia kan merah-putih. Kalau pesawat kepresidenan Republik Indonesia diwarnai sesuai dengan warna bendera pusaka kita. Terus masalahnya di mana?

Masalahnya ternyata ada di para pengurus Partai Demokrat yang selalu nyinyir. Mereka protes, kenapa pesawat yang tadinya warna biru, mirip dengan warna partainya, sekarang kok diganti dengan warna merah putih. Apalagi di saat bulan kemerdekaan seperti ini.

Tapi ini mungkin soal sejarah. Kita pasti ingat peristiwa di Surabaya zaman rekiplik dulu. Arek-arek Suroboyo waktu itu naik ke sebuah hotel, di atas sebuah gedung berkibar bendera Belanda. Pada saat itu mereka merobek bendera Belanda yang merah-putih-biru. Warna birunya dirobek, kemudian dibuang, warna merah putihnya dikerek sebagai bendera Indonesia.

Nah mungkin aja tuh, warna biru yang dibuang itu dipungut sama salah satu partai, juga dijadikan sebagai warna pesawat. Makanya mereka ngamuk.

Partai Demokrat menggunakan warna itu sebagai identitas partainya. Juga jadi warna pesawat kepresidenan saat itu zaman Pak SBY.

Kini mereka marah, ketika Pak Jokowi mengubah warna biru itu menjadi merah putih.

Iya sih, Andi Arief bilang warna biru pesawat itu gunanya untuk kamuflase. Biar tersamar dengan warna langit. Maksudnya kalau pesawat terbang, ada Gatotkaca terbang terus kepentok gitu, karena gak kelihatan. Atau orang harus melihat pesawat terbang, jadi gak gampang menerka dan akan tertipu karena tersamar.

Mikir gak sih? Gua sih teriak, astaga!

Mereka mikirnya mendeteksi pesawat itu hanya dari melihat langsung. Kan sekarang ada radar. Mau warnanya biru kek, mau warnanya merah kek, sama radar ya bakal terdeteksi juga.

Jadi alasan kamuflase itu cukup lucu. Wong pesawat tempur juga kan gak ada yang biru, gak perlu berkamuflase segala.

Tapi ini ada lagi yang seru. Isunya soal budget. Pemerintah memang menghabiskan budget sekitar Rp1,4 sampai Rp2 miliar untuk mengganti warna pesawat tersebut. Dan asal tahu saja, bahwa memang sesuai dengan waktu untuk maintenance pesawat, ya waktunya memang sekitar empat tahunan. Tapi bukan cuma satu pesawat itu saja. Pesawat kepresidenan tersebut juga diwarnai atau diubah warnanya bersama 3 helikopter kepresidenan lainnya. Jadi ada empat pesawat dengan biaya tersebut.

Katanya, mereka bilang, di masa pandemi begini mestinya seluruh budget diarahkan buat pandemi. Jangan malah buat mewarnai pesawat.

Mereka ribut duit Rp2 miliar untuk mengganti warna pesawat kepresidenan dari yang berwarna biru di zaman Partai Demokrat menjadi merah putih di zaman Pak Jokowi.

Mereka juga bilang, katanya kita lagi butuh uang saat pandemi. Kenapa harus keluar uang Rp2 miliar untuk mengubah warna pesawat kepresidenan?

Nah ini yang anehnya. Dua miliar Bro, untuk warna yang senada Partai Demokrat menjadi merah putih, yang justru menonjolkan sisi nasionalisme kita. Terus semuanya ribut? Kita ribut.

Sadar gak sih? Anies aja ngecat jalanan sepanjang 73 km untuk jalur sepeda ngabisin biaya Rp73 miliar, dan mereka semua diem saja. Malah mendorong-dorong Anies juga sebagai pasangannya AHY sebagai wakil presiden atau sebagai calon presiden. Padahal jalur sepeda itu kata polisi melanggar UU tentang jalan dan mau dibongkar lagi.

Kalau pesawat kepresidenan dicat sesuai dengan warna bendera Indonesia, kenapa ribut? Sementara Anies juga mengecat genteng warga di Lenteng Agung toh juga pada mingkem.

Terus Demokrat berteriak woi ini kan boros!? Dua miliar buat ngecat empat pesawat. Woooy, Bambang, boros kok ngomongnya sekarang. Cuma dua miliar. Coba ingat tuh Wisma Hambalang berapa pemborosannya? Itu pemborosan yang nyata. Kenapa mereka gak saling teriak di telinga sendiri, woiii Wisma Hambalang itu boros!

Dulu juga subsidi BBM sampai Rp300 triliun setahun, yang hasilnya cuma jadi asap knalpot, apa itu bukan bakar duit? Yang menikmati subsidi tersebut di zaman SBY kebanyakan juga orang kaya. Yang pasti konsumsi bensinnya lebih banyak dari orang-orang miskin.

Kalau pengurus Partai Demokrat seperti Andi Arief dan pengurus lainnya kali ini bicara pemborosan, kita semua jadi pengen makan singkong. Seret tenggorokan kita.

Begini deh, pesawat kepresidenan adalah salah satu simbol negara kita. Pesawat itu membawa penumpang orang nomor satu Indonesia. Pemimpin negara yang besar ini.

Jika kemudian pesawat itu diwarnai sesuai dengan warna bendera bangsa. Rasanya kan kita punya kebanggaan. Dan cuma orang-orang yang kebangetan kalau diributin. Emangnya kalau 17 Agustus di Cikeas, yang dikerek hanya bendera biru doang? Kan aneh?

Saya yakin sih yang dikerek tetap merah putih, tapi yang mereka permasalahkan karena pesawat yang warnanya biru itu diubah menjadi Indonesia, bukan lagi cuma Partai Demokrat, atau KTP yang terbang.

Komentar