KAPOLDA SUMSEL : “SAYA MINTA MAAF…”

Oleh: Denny Siregar

Sebenarnya sejak mengikuti investigasi dari Dahlan Iskan tentang rencana sumbangan Rp2 triliun dari keluarga almarhum Akidi Tio, saya sudah mencium bau yang kurang sedap. Dan saya rasa Pak Dahlan juga begitu. Karena apa? Bukan karena dana itu ada atau tidak ada, tapi karena sudah melibatkan dana orang lain dalam rencana proses pencairan dana itu seperti yang dikatakan Heriyanti, anak almarhum Akidi Tio.

Dari tulisan Dahlan Iskan terbongkar kalau ada seseorang yang “meminjamkan” uang sebesar Rp3 miliar kepada Heriyanti, yang awalnya untuk bisnis, tetapi ternyata diakui dipakai untuk melakukan proses pencairan dana itu di Singapura. Padahal sumber dana yang mau dicairkan juga belum jelas. Memang, Pak Akidi Tio almarhum dikabarkan adalah orang kaya di Palembang yang sering pulang pergi ke Singapura untuk bisnis. Hanya, beliau itu sudah meninggal selama 12 tahun dan tidak meninggalkan jejak apapun tentang bisnisnya di Singapura, kecuali dari perkataan beberapa orang saja.

Dan sampai sekarang masalah dana Rp2 triliun itu juga belum jelas, karena sudah pasti prosesnya rumit dan berbelit kalau harus ngurus-ngurus di Singapura. Ah, lupakan saja lah. Toh, juga apa yang dilakukan oleh Heriyanti, anak almarhum Akidi Tio dalam masalah rencana sumbangan itu sulit sekali diperkarakan, karena itu kan niatnya nyumbang. Uangnya juga belum keluar dan tidak ada yang dirugikan dalam kehebohan kasus sumbangan bodong itu, kecuali rasa malu yang sangat besar.

Rasa malu yang terbesar tentu menimpa Kapolda Sumatra Selatan, yaitu Irjen. Pol. Eko Indra Heri. Beliau lah yang ada di garis paling depan dalam proses penerimaan rencana sumbangan sebesar Rp2 triliun itu. Pada waktu penyerahan bantuan secara simbolik, nama Kapolda Sumatra Selatan menjadi jaminan utama bahwa rencana sumbangan itu benar adanya. Siapa sih yang tidak percaya dengan Kapolda? Banyak orang pasti percaya, karena beliau pejabat kepolisian nomor satu di Sumatra Selatan.

Karena itulah berita ini menjadi besar sebab ada nama Kapolda di sana. Saya pun termasuk yang percaya sumbangan itu nyata adanya, ya karena ada jaminan nama kapolda di sana. Dan jabatan setinggi itu tentu bukan jabatan main-main. Apalagi itu jabatan di kepolisian yang sudah pasti kita percaya institusi itu sudah melakukan check and recheck sebelum mengumumkannya ke media massa.

Tapi mungkin itu yang lupa dilakukan oleh Kapolda. Beliau terlanjur percaya, karena yang meyakinkan beliau bahwa sumbangan itu benar adanya adalah seorang profesor. Lengkapnya, Profesor dr. Hardi Darmawan. Beliau ini seorang dokter dan akademisi yang sangat terkenal di Sumatra Selatan.

Profesor Hardi adalah dokter keluarga dari Akidi Tio, sehingga kenal dekat dekat sekali dengan almarhum pada masa hidupnya. Profesor Hardi yang sudah berumur 75 tahun ini juga adalah seorang Guru Besar di Universitas Sriwijaya Palembang. Dan dengan gelar dan jabatan yang begitu mentereng, maka wajar kalau Kapolda Sumatra Selatan juga percaya dengan beliau.

Kronologis singkatnya begini, Heriyanti, anak almarhum Akidi Tio menyampaikan ke Profesor Hardi kalau mereka ingin menyumbangkan uang sebesar Rp2 triliun untuk membantu meringankan beban pemerintah di masa pandemi ini. Profesor Hardi tidak ingin menerima bantuan itu sendiri dan menyarankan supaya bantuan itu dipublikasi karena nilainya yang sangat besar sehingga harus transparan.

Dan penerima bantuan yang cocok buat Profesor Hardi adalah lewat Kapolda Sumatra Selatan. Dan itu juga harus diumumkan ke publik karena mereka tidak ingin ada kecurigaan bahwa uang sebesar itu akan dikorupsi kalau diterima secara diam-diam. Dan di situlah awalnya sehingga wartawan kemudian dipanggil sebagai bagian dari transparansi publik untuk penerimaan dana.

Di sinilah awal dari bencana itu. Profesor Hardi percaya kepada almarhum Akidi Tio karena mereka berteman dekat, sehingga dia juga percaya kepada anaknya. Kapolda Sumatra Selatan percaya kepada Profesor Hardi karena beliau adalah seorang dokter terkenal dan Guru Besar di Universitas Sriwijaya Palembang. Kita semua percaya pada Kapolda Sumatra Selatan karena beliau adalah pejabat dari sebuah institusi besar di negara ini.

Nah, rasa saling percaya itulah yang menjadi titik lemah dari peristiwa ini, karena akhirnya proses check and recheck itu terabaikan semua. “Masa sih seorang Profesor berbohong?” “Masa sih seorang Kapolda berbohong?” Begitulah yang terjadi yang akhirnya berdampak pada kehebohan.

Pada situasi seperti itu, kepolisian kemudian langsung bertindak cepat. Lewat Direktur Intelkam Polda Sumatra Selatan, Kombes Pol Ratno Kuncoro, kepolisian langsung mengamankan Heriyanti, anak almarhum Akidi Tio itu, supaya dia tidak menghilang. Situasi akan bertambah parah kalau ini tidak cepat-cepat diselesaikan. Heriyanti adalah tokoh utama dalam kasus ini dan ia harus dimintai keterangan.

Saya sih tidak kenal dengan Kapolda Sumatra Selatan, Irjen. Pol. Eko Indra Heri, apalagi bertemu dengan beliau. Tapi saya menghubungi banyak orang untuk tahu siapa beliau dan latar belakangnya. Dan dari banyak cerita mereka yang kenal dengan Kapolda Sumatra Selatan, saya mendapat gambaran yang sama bahwa beliau adalah orang yang baik dengan karir yang cemerlang. Beliau memulai karir jabatannya sebagai Kapolsek Bandar Baru di Pidie Aceh dan pernah ditugaskan untuk mendapat pelatihan dan manajemen anti-teror di Amerika dan di Thailand.

Kapolda Sumatra Selatan juga seorang akademisi dengan gelar profesor dokter, sama dengan Profesor Hardi. Mungkin karena minat akademis yang sama inilah mereka berteman. Dan beliau juga seorang muslim yang nasionalis. Itu saja yang saya dapat informasi dan gambaran tentang siapa dirinya.

Nah, dari informasi yang saya dapat juga, Kapolda Sumatra Selatan memang tidak ingin mengambil keuntungan apapun dari masalah sumbangan Rp2 triliun itu. Kalau dia ingin mengambil keuntungan, tentu proses penerimaannya diam-diam dan tidak dipublikasikan ke wartawan. Kapolda hanya ABAI, tidak melakukan proses check yang ketat terhadap sumber dana yang ada, karena mungkin sangat percaya dengan temannya sesama akademisi, Profesor Hardi. Itu saja sebenarnya kesalahan besarnya.

Apa yang dilakukan oleh Kapolda Sumatra Selatan didasari niat untuk menyalurkan dana itu karena masyarakat memang membutuhkan. Siapa sih yang tidak senang, kalau ketika lagi butuh logistik untuk memerangi pandemi dan tiba-tiba ada tawaran menarik yang tidak bisa ditolak? Nah, karena euphoria atau gembira berlebihan, juga percaya dengan rekomendasi dari orang yang sangat dia kenal, maka akhirnya proses recheck pun kelewatan.

Ini kesalahan manusiawi sebenarnya. Dan semua orang pasti pernah mengalami dengan situasi yang berbeda. Perjalanan tidak ada yang sempurna, manusia juga tidak ada yang sempurna. Kadang kita terantuk kerikil di jalan aspal yang mulus yang membuat kita jatuh terjengkang. Padahal kita sudah sangat hati-hati, tapi yang namanya sial bisa datang kapan saja tanpa kita sadari.

Kapolda Sumatra Selatan sudah menyampaikan permintaan maaf dengan gentle atas segala kesalahannya kepada publik. Ia mengakui kalau ia tidak hati-hati dalam mencari informasi sehingga terjadi kehebohan. Dan kesalahan ini tidak perlu ditutup-tutupi atau dialihkan tetapi harus diakui. Dan inilah ciri dari seorang laki-laki.

Dan permintaan maaf dari seseorang dengan jabatan setingkat Kapolda, tentu bisa dilihat sebagai cermin dari institusinya yaitu Kepolisian Republik Indonesia. Bahwa pada akhirnya, kepolisian juga bisa berbuat salah dan membuat mereka menjadi sangat manusia, bukan dewa yang tidak punya noda. Mengakui kesalahan itu bukan kelemahan, tetapi itu justru sebuah kekuatan.

Kita juga semua pernah kok berbuat salah. Karena itu tidak perlu berlaku sebagai seorang hakim yang tidak pernah berbuat dosa. Sebagai sesama tempat berbuat salah, yang bisa kita lakukan adalah saling memaafkan kesalahan yang ada, sekaligus mengingatkan kalau kita semua, tidak ada yang sempurna. Kapolda Sumatra Selatan dan institusi Kepolisian Republik Indonesia tentu sangat malu dengan situasi yang mencoreng nama mereka itu. Tetapi rasa malu itu adalah wajar, menunjukkan bahwa yang memilikinya adalah orang yang berakal dan beradab. Kalau tidak berakal, tentu rasa malu itu akan hilang berganti dengan kebebalan.

Saya sih berharap, semoga situasi ini cepat selesai dan Kapolda Sumatra Selatan bisa kembali menjalankan tugasnya seperti semula. Dan saya juga berharap, Kapolri tidak menjatuhkan sanksi yang keras kepada anak buahnya. Dan kita, sebagai netizen, bisa menerima semua ini sebagai sebuah pelajaran yang berharga.

Dari kasus ini, saya jadi teringat pesan lama almarhum Ayah. “Mereka yang tidak pernah berbuat salah, sebenarnya tidak pernah melakukan apa-apa.

Komentar