TOKOH AGAMA LEBIH SULIT DINASEHATI DIBANDING ORANG AWAM

Oleh: Syafiq Hasyim

Baru-baru ini pimpinan PBNU, Kyai Said secara publik mengeluhkan adanya kyai-kyai yang masih tidak percaya Covid-19. Bayangkan, pernyataan ini dikeluarkan oleh seorang pimpinan organisasi terbesar Islam di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Kyai-kyai yang seharusnya menjadi garda depan menyadarkan umat akan bahaya Covid-19 malah berbalik tak meyakini bahaya itu.

Tidak hanya pada Covid-19, mereka juga tidak yakin pada manfaat vaksinasi sebagai jalan menghadapi bahaya Covid-19. Vaksin dianggap sebagai barang rekayasa, penetrasi asing dan sengaja dibuat untuk membunuh orang Indonesia.

Keadaan yang dikeluhkan oleh Kyai Said di atas sungguh sangat memprihatinkan. Sudah barang tentu, ini bukan sikap keseluruhan para kyai-kyai atau tokoh agama. Saya mencoba melihat masalah ini dari kacamata sosiologis dan politik. Tapi, sikap mereka atas Covid-19 dan vaksin di atas itulah yang memang menghinggapi sebagian para kyai dan pimpinan agama kita.

Hal inilah yang memang menjadi cermin para pimpinan agama kita, yang memiliki kecenderungan menjadi manusia super. Seolah-olah dengan ilmu agama yang dimiliki dia mampu mengetahui segalanya. Seolah-olah dengan ilmu agama yang dikuasainya, ilmu-ilmu lain bisa ditundukkannya. Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya ilmu yang mereka kuasai itu ada batasnya.

Secara umum, karakter pemimpin agama atau para kyai yang kaku, ingin benar sendiri, serta tertutup pada kebenaran lain memang tidak hanya terbatas pada ketidakpercayaan mereka pada bahaya Covid-19 dan manfaat vaksin, namun juga pada masalah-masalah yang lain.

Sikap denialisme (penyangkalan) seperti itu bisa terbangun karena karena para kyai atau tokoh agama dididik dan berkembang di dalam lingkungan yang memang anjuran-anjuran dogmatis begitu kuat mengitarinya. Sejak awal, mereka memang mempelajari perbedaan (khilafiyah), namun perbedaan itu sifatnya internal di dalam Islam itu sendiri.

Pengetahuan tentang penghargaan atas perbedaan tidak mengubah cara pandang soal kebenaran. Bagi mereka, kebenaran selalu berada di pihak mereka. Ketika terjadi fakta baru, dan bahkan fakta itu sudah menyebabkan banyak kerugian, banyak kematian, mereka tetap saja menyangkal fakta baru itu. Fakta bahwa Covid-19 itu memakan korban, mematikan, dan lain sebagainya, mereka tolak, demi keyakinan mereka, termasuk banyaknya kyai-kyai yang sudah wafat karena virus ini.

Fakta bahwa vaksin itu membantu kita selamat dari Covid-19, mereka juga tolak karena demi keyakinan mereka. Mereka membela keyakinan yang mereka yakini, padahal boleh jadi keyakinan mereka terbuka pada fakta baru di atas. Itulah yang sering saya katakan bahwa mereka lebih beragama dari agama itu sendiri.

Sikap denialisme atau penyangkalan mereka pada Covid-19 dan juga pada manfaat vaksinasi mengingatkan saya pada sikap denialisme mereka pada gerakan terorisme dan radikalisme. Mereka tidak percaya jika ada umat Islam yang bisa membunuh umat Islam yang lain, yang itu didorong oleh keyakinan mereka. Mereka tidak percaya jika Jamaah Islamiyah itu ada. Mereka juga tidak percaya jika ISIS itu ada. Mereka juga tidak percaya jika al-Qaedah itu ada. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang bisa dijadikan contoh.

Tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali kita terus-menerus memberikan penyadaran bagi mereka ini, sebagaimana Kyai Said inginkan. Ada beberapa langkah yang mungkin perlu kita lakukan untuk menyadarkan mereka. Pertama, karena pihak yang menolak adalah mereka yang datang dari lingkungan orang yang mengerti masalah agama, maka argumen keagamaan harus dibawa untuk meyakinkan mereka agar mereka berbalik meyakini bahwa Covid-19 itu berbahaya.

Hal ini perlu karena orang-orang yang tertutup ini menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang paling ngerti, sehingga mereka menganggap keahlian yang ada di pihak mereka. Keahlian dalam bidang agama bagi mereka adalah keahlian yang paling tinggi, sehingga mereka anggap keahlian lain itu di bawah otoritas mereka. Bahkan penjelasan para saintis akan mereka tolak karena seberapa benarnya penjelasan para saintis itu harus mendapatkan kesesuaian dengan doktrin agama yang mereka yakini. Sementara doktrin agama yang mereka yakini itu bagi mereka bersifat mutlak benar adanya.

Kedua, karena kebanyakan tokoh agama yang berpikir menyangkal atas bahaya Covid-19 dan atas manfaat vaksin itu memiliki pemahaman keagamaan yang rata-rata konservatif, maka penjelasan saintifik itu harus dilakukan oleh kalangan yang mereka anggap otoritatif dalam bidang ini dan bidang agama.

Kita memiliki wakil presiden yang dipandang otoritatif dalam penguasaan agama, maka seharusnyalah wakil presiden yang mengambil peran aktif dalam menyadarakan mereka. Saya melihat Wapres memerankan sebagian saja peran untuk masalah ini, namun mengapa masih ada saja kyai atau tokoh agama yang menganggap enteng akan bahaya Covid-19 ini? Apakah kalangan ini sudah tidak menganggap otoritas keagamaan yang dimiliki secara pribadi oleh Wapres ini?

Namun, lepas dari itu semua, kini saya menjadi paham bahwa memberi pengetahuan baru pada kalangan tokoh agama, pada kyai, pada ulama atau pada pihak lainnya yang terkait, ternyata memang lebih sulit dibandingkan memberi pengetahuan dan kebenaran pada masyarakat awam. Mengajari hal baru atau kebenaran baru pada mereka ternyata tidak lebih mudah dibandingkan memberikan kebenaran dan hal baru pada orang biasa.

Padahal bersikap tertutup akan kebenaran baru itu sebenarnya tidak dipuji oleh agama. Agama selalu menganjurkan jika umat manusia untuk selalu berpikir (taffakkur) dan maju dalam membaca gejala alam. Bagaimana dengan tokoh agama atau kyai karena alasan tertentu, entah itu politik ataukah memang keyakinan mereka seperti itu, menganggap bahwa Covid-19 tidak berbahaya dan tidak usah melakukan vaksin?

Jelas itu berbahaya, bukan hanya pada diri dan keluarga mereka sendiri, namun berbahaya pada masyarakat secara umum. Bayangkan kalau masyarakat mengikuti cara pandang mereka? Berapa banyak yang akan menjadi korban. Saya secara pribadi pasti akan meninggalkan model tokoh agama atau kyai yang seperti itu untuk dijadikan sebagai panutan atau suri tauladan.

Apabila mereka menjadikan sikap mereka sebagai alat protes terhadap rezim yang berkuasa saat ini, katakanlah rezim Jokowi-Ma’ruf Amin- maka sudah sepantasnyalah mereka tidak menggunakan cara yang madaratnya lebih besar sekali daripada manfaatnya. Mengapa mereka tidak mencari diskursus lain yang tidak membahayakan keberlangsungan hidup bagi banyak orang?

Sebagai catatan, pada kyai atau tokoh agama yang sering kita banggakan menjadi panutan, namun apabila pemikiran mereka masih menganggap Covid-19 tidak berbahaya dan masih meremehkan perlunya vaksin, maka tidak usah mengikuti nasehat mereka. Pada perihal kehidupan yang sangat penting saja mereka tidak mau menerima kenyataan, apalagi pada hal-hal lain, dalam kehidupan sehari-hari. Carilah tokoh agama atau kyai yang mau berpikir berdasarkan nalar sehat dan juga berdasarkan nalar ilmu.

Komentar