PUAN MAHARANI, WAJAHMU DI MANA-MANA MBAK…

Oleh: Denny Siregar

Sepanjang perjalanan di Jawa Tengah, saya melihat baliho Puan Maharani di mana-mana dengan berbagai pesan. Gak terhitung banyaknya. Ada yang besar di tengah kota dalam bentuk billboard, dan ada juga yang bentuk spanduk-spanduk di pinggir-pinggir jalan.

Saya dengar, ini bagian dari instruksi PDI Perjuangan untuk mengangkat nama Puan. Dari instruksi yang beredar yang viral itu disebutkan seluruh anggota DPR dari PDI Perjuangan harus pasang baliho di dapilnya masing-masing. Sedangkan DPC itu juga harus pasang spanduk. Kebayang kan berapa banyak anggota DPR dari PDI Perjuangan di daerah juga kader-kadernya? Banyak banget. Sebanyak spanduk Puan di banyak titik di hampir seluruh Indonesia.

Saya juga gak bisa memperkirakan berapa besar dana yang dikeluarkan. Misalnya saja kita hitung-hitungan jelek deh, cetak spanduk per meter Rp15.000. Dirata-rata supaya mudah, habislah 100 ribuan rupiah untuk cetak dan pasang spanduk. Kalikan saja 1 juta spanduk, jadi total sekitar Rp100 miliar. Banyak juga ya. Itu baru spanduk, belum baliho dan billboard di tengah kota. Pasti sudah habis ratusan miliar rupiah untuk memajang foto Puan Maharani, ikon PDI Perjuangan saat ini.

Pertanyaannya, efektifkah duit ratusan miliar rupiah itu untuk mengangkat nama seorang Puan? Untuk tahu efektif atau tidaknya, tentu kita harus menunggu survei dari lembaga kredibel apakah nama Puan naik dari hasil survei sebelumnya, di saat spanduk dan baliho itu belum muncul di mana-mana.

Kita coba lihat dulu hasil survei yang dikeluarkan oleh lembaga survei SMRC pada bulan Juni 2021. Di sana disebutkan nama Puan Maharani dikenal oleh 61 persen responden, di bawah Ridwan Kamil dan Agus Yudhoyono. Tetapi tingkat orang memilih dia sebagai capres itu sangat kecil, yaitu cuma 0,8 persen.

Nama Puan bahkan kalah dibandingkan AHY yang mendapat respon positif 2,4 persen responden yang akan memilihnya sebagai capres 2024. Begitu juga hasil survei di beberapa lembaga survei lainnya. Nama Puan selalu berada di bawah dengan tingkat keterpilihan yang sangat rendah untuk menjadi capres 2024. Nama Puan memang dikenal banyak orang, tapi dipilih sebagai capres itu sudah wilayah yang sangat berbeda.

Saya paham sih frustrasinya PDI Perjuangan dalam mengangkat nama Puan Maharani ke permukaan. Apa sih yang kurang dari Puan? Anak seorang mantan presiden, anak seorang pemimpin partai besar Megawati, pernah menjadi menteri, bahkan sekarang menjabat sebagai ketua DPR RI. Rekam jejaknya seharusnya bisa mengangkat namanya dan tidak susah menjualnya ke publik. Tetapi ternyata publik bicara lain, bahwa mereka masih belum ingin Puan memimpin negeri ini.

Yang menyedihkan lagi adalah, PDI Perjuangan masih tetap memakai cara lama dalam mengangkat nama seseorang, yaitu baliho. Itu jelas cara jadoel dan hanya mungkin sukses dilakukan di tahun 2000an ke bawah. Baliho, spanduk, billboard, ataupun materi iklan pajangan lainnya, sudah out of date di masa sekarang.

Sekarang zamannya internet, orang sudah tidak lagi bisa dipengaruhi keputusannya hanya dengan memajangkan wajah saja. Apalagi sekarang orang sudah paham kalau ini itu adalah iklan, dan iklan biasanya dalam sebuah tontonan lebih baik di-skip daripada mengganggu keasyikan.

Saya gak paham, apa tidak ada anak muda di dalam PDI Perjuangan yang punya strategi menarik dan cantik dalam memasarkan seorang Puan? Dengan dana ratusan miliar rupiah yang dianggarkan oleh kader-kader militan PDI Perjuangan, mereka seharusnya bisa menyewa konsultan pemasaran skala nasional, bahkan internasional untuk memasarkan seorang Puan.

Puan sudah dikenal orang, punya brand sendiri. Nah, yang perlu dilakukan adalah mendorongnya sedikit lagi dengan cara yang berbeda supaya orang mau memilihnya kelak untuk menjadi capres 2024.

Yang tambah berbahaya lagi adalah pernyataan Bambang Pacul dulu yang sempat viral, bahwa dia hanya menempatkan Puan Maharani sebagai kandidat nomor dua saja, yaitu sebagai wapres. Bambang Pacul malah mengibaratkan Puan sebagai teh botol Sosro, siapapun capresnya, Puan adalah cawapresnya.

Pernyataan Bambang Pacul ini saja sudah salah di mata para pelaku di bidang pemasaran. Karena yang namanya “pengikut” atau follower di bidang produk, tidak akan pernah bisa melampaui leader atau pemimpin brand produk itu sendiri. Dia hanya akan selalu ada di bawah bayang-bayang, tanpa pernah bisa keluar sesuatu yang layak untuk ditawarkan.

Wong kecap saja berlomba untuk nomor satu, lha Puan kok bisa-bisanya disetting hanya untuk sebagai nomor dua? Memang siapa sih yang mau memilih nomor dua? Semua orang selalu bicara tentang nomor satu, bukan yang kedua.

Kesalahan pertama dari Bambang Pacul itu diikuti dengan kesalahan kedua, yaitu hanya melakukan branding pasif dengan memasang spanduk dan baliho di mana-mana. Materi iklan spanduk dan baliho itu sudah tidak cocok di masa sekarang, di mana dunia sudah lebih komunikatif bukan lagi searah atau pasif. Karena internet, orang punya banyak pilihan jadi tidak bisa lagi dipaksa untuk memilih seseorang hanya karena iklan.

Yang harus dilakukan oleh PDI Perjuangan bukan, “Pilihlah Puan” tetapi “Kenapa orang harus pilih Puan?” Munculkan need-nya, atau kebutuhannya, sehingga orang akan berlomba-lomba memilih Puan karena memang mereka perlu Puan, bukan karena mereka dipaksa memilih Puan. Itu kunci yang harus diperhatikan oleh PDI Perjuangan di era yang sekarang.

Apalagi diprediksi, generasi milenial adalah penentu kemenangan di Pilpres 2024. Generasi milenial jelaslah bukan orang yang terpengaruh oleh iklan di baliho dan spanduk. Mereka adalah generasi internet. Mereka lebih terpengaruh oleh konten di YouTube, TikTok, Instagram, dan banyak platform media sosial lainnya. Kenapa tidak datang dan masuk di tempat generasi milenial berkumpul? Kenapa harus pasang iklan di tempat generasi milenial tidak pernah ada di sana?

Kita coba belajar dari Jokowi ya, bagaimana namanya begitu berpengaruh sehingga orang menjadi militan dalam memilih dia menjadi capres 2024. Jokowi itu pintar sekali memainkan panggungnya. Dia bukan tipikal pemimpin baliho, bahkan mungkin tidak punya uang sampai ratusan miliar rupiah supaya orang kenal namanya lewat baliho.

Jokowi memanfaatkan panggungnya di Solo, untuk membawanya ke Jakarta. Di Jakarta dia memainkan panggung yang lebih besar dan membawanya ke pentas nasional. Minim baliho, minim spanduk, apalagi billboard. Orang mengenalnya lewat media televisi, atas apa yang dilakukannya, sensasi yang dia lakukan, prestasi yang dia bawa dan komunikasi yang dia mainkan.

Inilah seharusnya yang harus dicontoh oleh tim kampanye Puan Maharani. Kok malah main baliho? Sebagai contoh nih ya, seharusnya sebagai ketua DPR RI, Puan bisa memainkan orkestra di saat pandemi ini untuk menaikkan namanya.

Bagaimana caranya? Ya, muncul sebagai pemimpin yang disaluti oleh banyak orang dengan mengorganisir PDI Perjuangan, seluruh organnya, untuk membantu pemerintah menyelesaikan situasi ini. Coba contoh saja Buddha Tzu Chi, atau Pak Akidi Tio, yang menyumbangkan hartanya dan memobilisasi bantuan untuk rakyat yang terdampak pandemi baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi ekonomi.

Puan harus muncul, gak bisa lagi sembunyi dengan alasan bekerja dalam senyap. Dalam masa pandemi seperti ini, orang butuh hero, butuh pahlawan, dan seharusnya momentum ini digunakan dengan benar sehingga nama Puan menjadi pembicaraan di level nasional. Slogan “partai wong cilik” tidak dimainkan dengan bagus, sehingga tidak berpengaruh apa-apa ke publik.

Puan dan PDI Perjuangan, maaf saja, kehilangan momentum yang bagus. Mereka malah bermain di wilayah yang tidak menarik seperti baliho dan spanduk. Ya, nama Puan ada di mana-mana, tapi apakah orang kelak akan memilihnya? Ah, saya rasa tidak sama sekali.

Maaf ya, Mbak Puan. Bukannya saya ofensif, tapi saya ingin berkata sejujurnya. Saya bukan orang PDI Perjuangan, bukan orang pemerintah, bukan siapa-siapa, jadi kalau ngomong enak, gak perlu cari muka segala. Saya juga bukan tipe Yes Man, yang harus selalu bilang iya, meski idenya jelek dan tidak berdampak apa-apa.

Masih ada waktu untuk memainkan peran sebelum Pilpres 2024 dimulai. Saran saya Mbak Puan, ganti tim pemasarannya dengan anak-anak muda yang jago dan paham dunianya. Jangan dikasih ke orang tua jadoel yang masih nostalgia masa lalu bahwa baliho dan spanduk akan mempengaruhi orang untuk memilih. Dunia sudah berbeda, zaman juga sudah berganti. Masa orang di sampingnya dia lagi, dia lagi.

Komentar