KEDERMAWANAN KELUARGA AKIDI TIO DAN KEBENCIAN PADA TIONGHOA

Oleh: Ade Armando

Anda mungkin sudah dengar ya berita menggemparkan ini. Keluarga pengusaha Akidi Tio menyumbang 2 Triliun Rupiah untuk penanganan Covid -19 di Sumatra Selatan. Bukan 2 Miliar lho, Rp 2 Triliun Rupiah, uang semua, nggak pakai pasir!

Pak Akidi Tio sendiri sudah meninggal pada 2009. Dia dan keluarganya sangat low profile. Dia menyerahkannya tidak dengan gembar gembor. Yang menyampaikannya adalah sahabat lama sekaligus dokter keluarga Pak Akidi, dr. Hendi Dermawan.

Penyampaian bantuan juga dilakukan lewat tangan sahabat lama keluarga, Irjen Eko Indra Heri, yang datang membawa bantuan adalah putri bungsu Pak Akidi, Heriyanti.

Pak Akidi adalah pengusaha di bidang perkebunan dan bangunan, sebelumnya keluarga pak Akidi sudah banyak membantu masyarakat, namun karena kerendahan hati mereka, bantuan tersebut selalu atas nama ‘hamba Tuhan’.

Kali ini menurut keluarga, bantuan diberikan karena mereka sedih menyaksikan banyak warga yang meninggal tak tertolong karena keterbatasan fasilitas.

Keluarga Akidi Tio adalah keluarga Tionghoa. Fakta ini sengaja saya tekankan mengingat masih ada kalangan di negara ini yang membenci Tionghoa dan menganggap Tionghoa bukan bagian dari Indonesia.

Saya ingin memberi contoh yang layak membuat kita marah. Pada 15 Juli lalu, sebuah akun twitter bernama Garuda Hitam @Siluman RI menulis begini:

“Jika nanti tiba saatnya kalian rakyat kelaparan,maka mulailah dari sekarang menyerbu supermarket, mall, swalayan milik China-china yang saat ini justru menimbun sumber bahan pokok tersebut, serbu dan dapatkan dengan gratis untuk kalian pribumi untuk bertahan hidup.”

Kalimatnya memang berantakan, tapi isinya jelas. Si pembuatnya sedang membangun kemarahan pada kaum Tionghoa dalam krisis ekonomi yang kita hadapi bersama.

Kenapa yang harus diserang toko milik Tionghoa? Ya tidak ada penjelasannya. Mengapa harus membenci Tionghoa? Tidak ada penjelasannya.

Tapi itu adalah narasi yang terus-menerus dihembuskan sebagai alasan untuk melakukan konsolidasi.

Jadi, Tionghoa dijadikan sasaran tembak agar mereka yang menyebut diri pribumi itu punya alasan membangun kekuatan. Ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Nazi di era 1930-an sampai 1940-an di Jerman.

Mereka menjadikan Yahudi sebagai kambing hitam karena ada ancaman Yahudi, masyarakat Jerman bisa dimobilisasi untuk bersatu mendukung Hitler yang dibayangkan akan menjadi penyelamat.

Begitu juga kaum Tionghoa di Indonesia. Mereka dijadikan musuh bersama kelompok-kelompok Islamis radikal, yang bercita-cita menguasai Indonesia.

Karena itulah saya senang dengan teladan keluarga Akidi Tio. Ini jadi satu lagi tambahan contoh yang bisa saya gunakan untuk menantang kelompok-kelompok muslim pribumi yang suka sekali menjelekkan Tionghoa.

Saya akan bilang, ini sumbangan pengusaha Tionghoa, mana sumbanganmu?

Dan keluarga Akidi Tio ini enggak sendirian. Para pengusaha Tionghoa lain yang suka dimaki-maki kaum pribumi tidak kurang-kurang pula kedermawanannya.

Majalah internasional Forbes, misalnya setiap tahun menurunkan laporan tentang orang-orang paling dermawan di Asia. Mereka disebut sebagai The Heroes of Philantrophy. Kalau saya telusuri daftar nama-nama sejak 2013, nama pengusaha Indonesia selalu disebut dalam list tersebut, kecuali pada 2020.

Dan yang menarik, mayoritas dari para dermawan itu adalah warga Indonesia beretnik Tionghoa. Nama yang lebih dari sekali muncul adalah Theodor Rahmat (Triputra) dan Tahir (Mayapada).

Di luar itu ada Eddy Sariatmadja (EMTEK), Budi Hartono (Djarum), Irwan Hidayat (Sido Muncul), keluarga Tanoto, Harry Susilo (Sekar Group), Sukowati Sosrodjojo (Rekso International), Boedi Mranata (Mranata Group), dan lain-lain.

Hampir-hampir tak ada pengusaha pribumi – maaf kalau saya menggunakan istilah ini – yang masuk dalam daftar. Atau ada satu contoh terbaru lain lagi.

Saya baru saja membaca bahwa kumpulan Pengusaha Peduli NKRI bekerjasama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi memberi donasi berupa 35 ribu ton beras bagi 7 juta kepala keluarga, konsentrator oksigen, aktivasi sentra vaksin plus penyaluran obat-obatan.

Nilai bantuannya mencapai sekitar Rp 600 Miliar.

Yang disebut sebagai grup Pengusaha Peduli NKRI itu antara lain adalah: Sinar Mas, Agung Sedayu, Astra, Djarum, Indofood, Barito Pacific, Putera Sampoerna, Panin, Triputra, Garudafood, dan Sido Muncul. Lagi-lagi hampir semua Tionghoa.

Saya yakin pasti ada juga pengusaha-pengusaha muslim pribumi yang turun tangan membantu masyarakat. Tapi bukan di situ poin saya.

Yang ingin saya tekankan adalah para pengusaha Tionghoa yang sering dihina-hina, difitnah dan dijadikan sasaran kebencian ini sebenarnya tidak layak untuk didiskriminasi semacam itu, karena mereka adalah sama merah putihnya dengan bangsa Indonesia yang lain.

Mencurigai kaum Tionghoa adalah kedunguan dan sama sekali tidak bermanfaat bagi Indonesia. Kaum Tionghoa adalah saudara bangsa Indonesia lainnya.

Jangan salah, saya tidak ingin memuji-muji kaum Tionghoa karena kekayaan mereka. Kaum Tionghoa yang tidak kaya raya pun sama. Mereka juga bahu membahu membangun negara ini.

Keterlibatan mereka bahkan semakin terlihat di era pandemi ini. Buat saya memperlakukan Tionghoa sebagai kaum yang ‘berbeda’ adalah zalim dan menjijikkan. Kaum Tionghoa adalah bangsa Indonesia.

Dan kalau setelah saya bercerita tentang keluarga Tio, tentang kedermawanan kaum Tionghoa dan keterlibatan mereka dalam bergotong royong bersama, masih ada yang meragukan keindonesiaan kaum Tionghoa, orang itulah yang sebaiknya keluar dari Indonesia

Komentar