AHY NGEBET MAU GANTIKAN PRABOWO

Oleh: Eko Kuntadhi

Setelah pemilihan presiden usai kemarin, Partai Gerindra yang tadinya oposisi ternyata memilih masuk dalam kabinet Jokowi. Prabowo Subianto duduk sebagai Menteri Pertahanan.

Dan kadernya yang lain, Edi Prabowo diangkat sebagai Menteri KKP. Edi kemudian tertangkap korupsi ekspor benur. Dia dicopot dari jabatannya dan masuk sel.

Untuk memenuhi kuota Gerindra di kabinet, masuklah Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Jadi sekarang lengkaplah sudah. Kita-kita ini dulu yang memilih Jokowi-Ma’ruf saat Pilpres, sekarang malah dapat bonus Prabowo-Sandi. Istilahnya buy one, get one.

Kita tahu, sejak kekalahan pada 2014 yang lalu, Gerindra selalu menjadi lokomotif oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Dan dengan posisinya sebagai oposisi itulah, mereka mendulang banyak suara. Hasilnya pada Pemilu kemarin Gerindra menempati posisi kedua dalam perolehan suara. Satu level di bawah PDIP.

Artinya apa? Artinya jadi oposisi yang konsisten, hasilnya bisa membesarkan sebuah Partai seperti Gerindra. Sekarang setelah Prabowo-Sandi masuk kabinet, posisi oposisi dari partai berbasis nasionalis, kosong.

Hanya tinggal PKS saja yang emang dari awal gak ada yang mau ngajak ke pemerintahan. Nah, kayaknya nih ya, posisi Gerindra itulah yang mau diisi oleh Partai Demokrat sekarang.

Jadi kita gak perlu kaget kalau belakangan gayanya AHY, Ibas, Anissa Pohan, Andi Arief dan semua kader-kader Demokrat yang lain pada pecicilan di media sosial. Sebab mereka mau merebut gelanggang yang ditinggalkan Prabowo, yang sudah menjadi semi-semi Cebong itu.

Meskipun Prabowo juga pinter. Dia gak ninggalin begitu saja. Di sana masih disisakan Fadli Zon. Jadi meskipun Gerindra sekarang berkoalisi dengan pemerintahan, Fadli Zon tetap lebih oposisi dari opisisi. Bahkan dia mungkin lebih Prabowo dari Prabowo dulu.

Tapi sebelum kita bicara sekarang tetang bagaimana Demokrat yang mau mengambil alih posisi Prabowo, kita balik nih sebentar ke belakang.

Ingat kan pada 2014 kemarin, Demokrat dikenal sebagai partai yang abu-abu. Yang gak dukung Jokowi. Tapi juga gak dukung Prabowo. Sikapnya plin-plan. Oposisi bukan. Partai penguasa juga gak kebagian kursi.

Mereka awalnya berusaha membangun poros kedua atau poros tengah. Maksudnya, mereka membangun jalan di tengah dua kubu yang berseteru. Kubu Pak Jokowi dan kubu Prabowo. Nyatanya pilihan itu gak laku. Porosnya lunglai gak ada yang berminat mengikutinya. Suara Demokrat anjlok pada 2014. 2009 mungkin suara mereka sampai dua puluhan persen, di 2014 anjlok sampai sebelas persen.

Kemudian Demokrat sadar, jadi orang yang plin-plan itu ya gak banyak yang suka. Mereka akhirnya mengubah strategi.

Menjelang 2019 Demokrat gencar mencari posisi. AHY ditawarkan ke mana-mana dan juga rajin bersilaturahmi ke Jokowi. SBY juga ngiter waktu itu.

Tujuannya sekali lagi menjajakan AHY sebagai jagoan baru Partai Demokrat yang digadang-gadang ke mana-mana. Tapi kayaknya permintaan mereka ketinggian. AHY mau dijadikan sebagai Cawapres waktu itu. Partai koalisi Pak Jokowi kayaknya gak setuju.

Ketika gagal merapat ke Jokowi. AYH kemudian ditawarkan ke Prabowo. Ngobrol punya ngobrol, AHY baru bisa bawa badan doang. Dukungan logistik tadinya dijanjikan. Tapi gak cair-cair.

Tetiba datanglah Sandiaga Uno kepada Prabowo, langsung membawa amunisi sekardus. Dengan mahar Sandi yang lebih konkret, Prabowo langsung ambil keputusan. Akibatnya AHY masuk kotak. Lamaran Sandi diterima. Dan waktu itu Andi Arief teriak-teriak wapres karduslah, gitulah ceritanya.

Setelah komposisi kabinet terbentuk, dan Demokrat tidak disertakan oleh Jokowi. Sementara Gerindra lewat gerbong Prabowo sudah masuk ke kabinet Jokowi, mulailah mereka berpikir keras, bahwa gaya SBY yang selalu abu-abu dan plin-plan ini kayaknya gak cocok dengan kondisi politik sekarang. Jadi mereka mulai meninggalkan gaya SBY dan SBY diminta untuk lebih fokus pada dirinya sendiri. Kini Demokrat berniat serius menjadi partai oposisi.

Sebetulnya ini langkah yang cerdik. Demokrat bisa menjadi kanal suara masyarakat yang sebelumnya anti sama Pak Jokowi. Mungkin saja dari sana mereka bisa meraup suara yang dulu hilang, suara Demokrat yang dulu hilang mungkin pindah ke Gerindra.

Tapi jadi oposisi dengan pengalaman dulu keluarga Cikeas pernah berkuasa, tentu gak semudah ulangan Seni Suara di STM.

Saat mereka mengkritik kinerja Pak Jokowi, misalnya, orang dengan gampang langsung merujuk pada apa hasil pemerintahan SBY selama berkuasa? Ketika mereka menuding, tudingan balik akan langsung mengarah kepadanya. Kenapa? Karena masyarakat masih punya ingatan tentang pemerintahan Pak SBY.

Kalau mereka mengkritik efisiensi pemerintahan Jokowi. Mereka akan ditampar balik dengan kasus Hambalang. Kalau mereka mau mengangkat kasus korupsi di pemerintahan Jokowi, justru korupsi di zaman Pak SBY ya gila-gilaan. Dan masyarakat masih ingat itu

Petinggi Partai Demokrat antri masuk penjara. Padahal semua yang masuk penjara itu adalah bintang iklan partai, “Katakan tidak, padahal iya. ” Bintang partai yang fenomenal itu.

Dalam kasus persidangan Nazaruddin saja misalnya, ia juga menyebut-nyebut nama Ibas.

Artinya pilihan Demokrat jadi oposisi, sementara keluarga Cikeas pernah berkuasa di Indonesia selama dua periode, itu sama sekali gak gampang. Ketika mereka menuding pemerintahan Jokowi, orang akan langsung membuka file lama. Sebab pada saat mereka berkuasa, mereka juga gak banyak prestasi. Artinya, rakyat gak bodoh-bodoh banget. Jejak digital kejam.

Di sinilah Demokrat sering keserimpet. Tembakannya ke Jokowi, kemudian dibalas publik dengan melempar balik peluru yang ditembakkan tersebut. Lalu meledak di markas Partai Demokrat sendiri.

Apalagi terkadang, pentolannya juga gak bisa diandalkan. Andi Arief, sang pemain gorong-gorong tertangkap narkoba. Bersama barang bukti kondom curah yang dibeli secara meteran? Saya gak tahu.

Anissa Pohan misalnya, istri AHY yang ceriwis itu, sering emosional di medsos. Dikenal sebagai ratu buka-tutup. Dia mau nyinyir, dibalas oleh netizen dengan dikritisi lagi, eh, malah baper. Nutup-nutup akunnya.

Semakin mereka teriak, netizen akan semakin mempelototi berbagai hal yang terjadi saat SBY berkuasa. Ini sama juga menepuk air di dulang, lalu memercik ke muka sendiri.

Lantas pertanyaannya, sanggupkah AHY menggantikan peran Prabowo sebagai lokomotif oposisi? Kayaknya kalau mau sampai di situ perlu keseriusan yang tinggi. Maksudnya, perlu komitmen yang tinggi untuk terus-menerus menyuarakan secara konkret. Kalau misalnya cuma ngetwit dan nyinyir di udara, mengerahkan pasukan-pasukan mereka, rasanya gak akan cukup.

Kenapa? Karena para pendukung Jokowi juga akan langsung membalas dan membongkar satu-satu PR-PR atau borok-borok pada zaman pemerintahan SBY lalu.

Sebelum serius jadi oposisi, kayaknya mereka perlu menghapus ingatan publik dulu tentang kiprah Pak SBY dan keluarga Cikeas saat berkuasa.

Apa sanggup? Kayaknya, gak deh. Sampai saat ini orang masih terbayang-bayang dengan iklan itu. “Katakan tidak, padahal… iya.”

Darah itu merah, Mayor. Kalau ijo namanya cendol.

Komentar