AHY, IBAS, ANDI ARIEF MAU PERANG LAWAN SIAPA?

Oleh: Eko Kuntadhi

Ada seruan baru dari Partai Demokrat. Mereka menyatakan diri mau perang melawan buzzer.

Kayaknya Indonesia ini sudah darurat, sampai sebuah partai politik yang pernah berkuasa, sekarang mau main perang-perangan di media sosial. Dan repotnya, musuh yang mereka pilih sangat lucu: buzzer!

Pertanyaannya, apa masalahnya sampai partai yang pernah dua periode berkuasa itu sampai harus mendeklarasikan perang? Kenapa mereka begitu terusik dengan cocotan di media sosial, sampai Ibas harus menyingsingkan lengan panjangnya untuk berperang?

Saya sih gak tahu persis. Tapi tampaknya memang ada masalah dalam kacamata mereka melihat fenomena Medsos belakangan ini.

Begini ya. Medsos ini sekarang membuka ruang semua orang untuk bersuara. Seluruh dunia, orang yang punya akun bisa bersuara bebas. Mulai dari Profesor di Chicago sampai tukang bubur di Cikaso sama, mereka bisa punya ruang untuk bersuara.

Mereka menyampaikan pendapatnya sendiri, di akun media sosialnya sendiri. Dulu zaman SBY memang sudah ada medsos, tapi belum seaktif sekarang. SBY bisa melanggeng berkuasa dengan segala masalah yang mengikutinya, sementara kita, publik gak punya saluran efektif untuk speak up.

Kini pengguna internet di Indonesia jumlahnya sudah 197 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 97% punya akun medsos. Apalagi ditambah kecepatan data di Indonesia terus meningkat. Iya sih, zaman SBY berkuasa, itu kan Kominfonya namanya Tifatul Sembiring dan dia sering mempertanyakan, buat apa internet cepat?

Mungkin saja di kepalanya Pak Tifatul, internet cepat itu gunanya hanya untuk menonton video-video tutorialnya Miyabi. Bukan untuk hal lain.

Tapi sekarang zamannya Pak Jokowi. Internet cepat itu penting sebagai salah satu katalisator penggerak ekonomi. Fasilitas dan infastruktur internet dibangun. Lalu lintas internet makin marak. Dan sekarang semua orang bisa eksis di medsosnya masing masing.

Pengguna internet terbanyak adalah penonton Youtube, baru pengguna WA, Facebook, Instagram dan Twitter.

Awal-awalnya ya, medsos ini cuma digunakan jadi ajang pamer makan di mana, lagi ngapain, foto-foto arisan. Sampai foto narsis sambil monyong-monyong kayak gitu deh. Tapi kan gak cukup cuma begitu. Kini medsos juga dijadikan ajang setiap orang menampilkan pikirannya sendiri, menyuarakan aspirasinya sendiri. Mereka sekaligus menjadi publik yang mendinamisasi problem-problem politik di tanah air.

Akibatnya memang, dunia medsos di Indonesia riuh banget. Kebiasaan masyarakat yang kepo membuat seru suasana. Dan dunia politik jadi sarana baru orang untuk menunjukkan afiliasi politiknya. Kita gak perlu malu-malu untuk menunjukkan dukungan pada Pak Jokowi misalnya. Atau dukungan kepada Pak Ahok, atau dukungan kepada politisi-politisi yang lainnya.

Dan itu sah-sah saja. Namanya juga ruang demokrasi.

Medsos ini juga yang digunakan oleh politisi kayak AHY, Andi Arief, Ibas untuk menyampaikan pendapat-pendapatnya. Masalahnya, ketika semua orang bisa menyampaikan pendapatnya, dan orang bebas bersuara, suara para politisi itu kan juga langsung direspons oleh publik.

Misalnya Demokrat. Ketika mereka rajin mengkritik Jokowi. Lalu publik merespons dengan membandingkan apa yang sudah dihasilkan SBY selama berkuasa? Dan itu sah-sah saja.

Nah, saat ada reaksi balik dari publik itulah para elit Demokrat gak siap. Mereka gagap menghadapi badai reaksi publik. Lalu mereka menstempel semua orang yang berbeda dengannya sebagai buzzer.

Nah ini yang lucu. Jadi ya, kalau Andi Arief ketangkap menggunakan narkoba dengan bukti kondom bergerigi, dan Anda mempertanyakan kenapa kok, petinggi partai ulahnya kayak gitu. Anda akan langsung dituding buzzer oleh orang-orang Demokrat!

Kalau Annisa Pohan salah mengutip ayat Al-Quran. Lalu ada orang merespons, bahwa tulisan Annisa itu salah. Ayatnya kelebihan. Anda akan dituding buzzer oleh Partai Demokrat!

Ketika Ibas bilang bahwa ekonomi Indonesia sedang terpuruk. Lalu dengan lantang dia menyalahkan Jokowi. Padahal seluruh dunia juga ekonominya terpuruk karena pandemi.
Karena itu Anda ingin meluruskan pernyataan tersebut, maka Anda akan dituding sebagai buzzer.

Ketika Andi Arief bilang bahwa pemerintahan SBY adalah yang terbaik. Sementara semua rakyat juga tahu ada puluhan proyek mangkrak yang gak berguna. Pada saat yang bersamaan Anda akan dituding sebagai buzzer!

Begitupun ketika Ibas menampilkan foto sedang baca buku setebal batu bata. Sambil berdiri dengan tangan seperti memegang tissu toilet. Ada kesan jijik-jijiknya gitu. Dan Anda tertawa berbahak-bahak melihat gayanya Ibas yang lucu itu, Anda akan dicap sebagai buzzer.

Ketika Anda menyerukan para mahasiswa gak usah turun ke jalan. Karena suasana sedang pandemi. Dan itu berbahaya buat kondisi kita saat ini. Sementara petinggi Partai Demokrat berharap sebaliknya. Seperti mendorong-dorong unjuk rasa besar untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.

Anda yang rasional kayak gitu, yang berharap jangan sampai virus ini menyebar, akan dicap sebagai buzzer oleh Partai Demokrat!

Jadi siapa saja yang menentang pikiran-pikiran dan ulah petinggi Partai Demokrat yang makin ke sini makin lucu, Anda akan dicap sebagai buzzer.

Dan Anda-Anda inilah. Orang-orang yang mau bersuara di medsos dengan bebas. Yang secara bebas mau menikmati berkah demokrasi adalah orang-orang yang mau diperangi oleh Partai Demokrat.

Sebab apa? Sebab mereka gak terbiasa ditelanjangi sama publik. Selama berkuasa hidup mereka seperti di menara gading penuh puja-puji, dikipas kanan-kiri. Jadi mereka kaget kalau ternyata rakyat Indonesia tidak sebodoh seperti persangkaan mereka.

Sekarang dengan statemen Partai Demokrat mau memerangi buzzer, itu artinya mereka mau memerangi kita. Ya, kita semua. Orang-orang yang berusaha merawat akal sehat publik dengan media sosial kita masing-masing. Agar Indonesia tidak terjerembab lagi pada model pemerintahan lama. Yang doyan bagi-bagi. Yang mangkrak di mana-mana. Yang sukanya bikin candi yang sama sekali gak efektif. Dan yang, “Katakan tidak, padahal bohong…”

Masa kita semua oleh Partai Demokrat hanya mau dijadikan rakyat yang hanya pandai mengucapkan, “Kita Prihatin!”

Komentar