SARAH GILBERT, BIDADARI VAKSIN

Oleh: Denny Siregar

Dalam sebuah musibah, selalu muncul dua karakter berbeda, mereka adalah pahlawan dan satunya lagi pecundang. Dua karakter yang berlawanan ini selalu dihadirkan untuk kita supaya kita belajar memilih untuk menjadi karakter yang mana. Dan pemilihan karakter-karakter itulah yang akan membentuk karakter kita nanti di masa depan.

Saya ingin bicara tentang karakter pahlawan dulu. Saya dan mungkin masyarakat internasional akan memilih orang yang sama, yaitu Sarah Gilbert. Sarah Gilbert yang berusia 59 tahun ini sejak SMA memang sudah minat untuk masuk ke kedokteran supaya bisa menolong banyak orang. Dia mendapat banyak penghargaan untuk karya penemuannya tetapi tidak membuatnya selesai di dalam mengembangkan penelitiannya. Dan salah satu karya terbaik Sarah Gilbert adalah waktu dia memfokuskan dirinya pada pengembangan vaksinasi untuk influenza.

Di dalam penelitiannya, Sarah menemukan kalau tubuh kita itu sebenarnya sudah mempunyai antibodi sendiri untuk melawan virus. Antibodi itu ditemukan dalam sebuah sel yang diberi nama sel T. Sel T adalah kelompok sel dalam darah putih yang memproduksi kekebalan di dalam tubuh. Sesudah beberapa tahun penelitian, Sarah berhasil mengembangkan sebuah vaksin yang merangsang sel T tadi untuk melawan berbagai macam penyakit seperti virus, kanker, sampai Malaria.

Sejak pertama adanya Covid-19, Sarah Gilbert aktif untuk menemukan vaksinasinya. Bersama 300 anggota timnya dari Oxford, Sarah selama siang dan malam terus berada di laboratoriumnya supaya bisa berpacu dengan waktu. Dan dalam waktu 4 bulan, mereka kemudian berhasil mengembangkan vaksin untuk melawan virus Covid-19 di dalam tubuh. Nah, yang menarik, anak-anaknya yang sudah dewasa ikut mensupport Ibunya, bahkan menyediakan diri mereka sebagai sukarelawan untuk percobaan vaksin itu.

Mereka berhasil. Bersama perusahaan farmasi multinasional Astra Zeneca, Sarah kemudian meluncurkan vaksin terbaru yang disetujui oleh pemerintah Inggris untuk digunakan di negara itu. Kalau hanya sekadar menemukan vaksin, mungkin nama Sarah Gilbert tidak seharum sekarang. Yang mengagumkan adalah kalau dia sama sekali tidak ingin menjadi kaya raya dengan penemuannya itu. Sarah Gilbert yang bergelar Profesor itu, melepaskan semua hak paten atas namanya supaya vaksin itu bisa dijual murah ke seluruh dunia.

Meski apa yang dia lakukan tidak banyak dikenal orang, apalagi Sarah Gilbert juga bukan seorang selebriti yang senang tampil di hadapan publik, tapi ada beberapa orang yang ingin dunia mengenal siapa Sarah Gilbert.

Penyelenggara pertandingan tenis Wimbledon di Inggris, mengundang Sarah untuk datang menyaksikan pertandingan. Pertandingan itu sendiri dihadiri oleh ratusan orang dengan tidak menerapkan social distancing dan tanpa masker ketika menonton di dalam. Tapi ada syaratnya untuk nonton, yaitu penonton harus sudah divaksin minimal 2 kali. Dan penonton di dalam stadion itu sudah menerapkan herd immunity dengan saling berinteraksi satu sama lainnya.

Tidak ada tuh ketakutan di antara mereka, karena mereka yakin dengan vaksin yang mereka punya, mereka bisa menangkal ganasnya virus Covid-19 yang sudah memakan ribuan korban jiwa.

Dan penyelenggara pertandingan Wimbledon itupun menempatkan Sarah Gilbert di kursi kehormatan, lalu tanpa sepengetahuan Sarah mengumumkan ke penonton lainnya kalau di antara mereka sekarang ada penemu vaksin yang menyelamatkan mereka semua dan menjadikan pertandingan tenis ini bisa berlangsung tanpa ada ketakutan. Penonton kemudian bertepuk tangan memberikan penghargaan dan penghormatan kepada Sarah Gilbert, orang yang selain berjasa, juga punya sisi kemanusiaan yang tinggi dengan tidak mengambil keuntungan dari musibah.

Berita itu kemudian mendunia dan orang pun akhirnya kenal siapa Sarah Gilbert, tanpa dia harus menunjukkan siapa dirinya dan apa yang dilakukannya. Lihat, Tuhan menunjukkan siapa pahlawan dalam musibah ini dengan cara-Nya, supaya kita belajar untuk membumi dan tidak selalu berharap materi atas apapun yang kita lakukan.

Itu tadi kisah pahlawan. Tapi seperti biasa, pecundang jauh lebih banyak dari seorang pahlawan. Pecundang yang kita tahu, seperti di Indonesia, adalah orang yang selalu memanfaatkan musibah untuk kepentingan materinya. Orang-orang ini kita temukan dalam bentuk seorang pencuri yang menimbun masker dan menjualnya dengan harga tinggi untuk mendapat keuntungan pribadi.

Ada juga orang-orang yang menimbun oksigen supaya bisa kaya raya dari hasil selisih karena barang menjadi langka. Dan yang biadab lagi ada oknum farmasi yang malah menggunakan situasi untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan alat swab bekas supaya mereka bisa beli rumah berharga miliaran rupiah.

Belum lagi ada orang-orang politik dari partai yang setiap Pemilu, kursinya semakin lama semakin turun drastis. Mereka menggunakan isu untuk menaikkan nama partainya supaya bisa tetap eksis di dunia politik. Cara mereka yaitu dengan terus menerus mencaci apa yang dilakukan oleh pemerintah tanpa pernah memberikan satupun solusi yang tepat supaya pandemi ini segera berakhir. Buat mereka, pandemi itu gak penting. Karena yang paling penting adalah bagaimana bisa meraih dukungan suara karena dianggap pahlawan dengan modus nyinyir doang setiap hari, seolah-olah merekalah yang paling berjasa terhadap negeri.

Betapa banyak pecundang di sekeliling kita dan betapa sedikit pahlawan di sekitar kita. Pecundang itu lahir karena mental mereka memang mental recehan, yang menganggap dalam setiap musibah selalu ada yang namanya peluang. Sedangkan seorang pahlawan lahir karena mereka ingin melakukan yang terbaik dalam hidup mereka yang hanya sekali. Seperti kata almarhum penulis Chairil Anwar, “Hidup sekali. Berarti. Lalu mati.”

Anda pilih yang mana? Mau jadi pahlawan atau pecundang?

Kita renungkan, sambil seruput kopi.

Komentar