MENGHENTIKAN PPKM ADALAH PILIHAN TERBAIK

Oleh: Ade Armando

Pada saat video ini dibuat, keputusan tentang apakah PPKM akan diperpanjang atau tidak belum ditentukan. Kalau ada pengkubuan, saya akan berada di kelompok yang berharap PPKM dihentikan.

Kita sudah cukup lama memberlakukan PPKM darurat. Cukup sudah. Sekarang, masyarakat harus kembali diizinkan bergerak keluar rumah. Tidak bisa berdiam diri saja di dalam rumah. Yang bisa berdiam diri saja di rumah hanyalah kaum menengah ke atas. Yang punya uang tabungan, atau punya saham.

Saya misalnya tidak ada masalah kalau harus work from home. Saya ini ASN kok.
Digaji setiap bulan. Sekarang saya bahkan dapat tambahan penghasilan dari Cokro TV. Dan saya akan tetap dapat penghasilan dari revenue Cokro TV, walau saya bikin konten video dari rumah setiap hari.

Buat orang seperti saya, work from home, bukan masalah. Malah mungkin menguntungkan, karena sebagai dosen saya mengajar cukup lewat Zoom, tanpa harus ke kampus, dan artinya tidak perlu bayar bensin.

Saya adalah orang beruntung. Dan ada jutaan kaum menengah ke atas yang menikmati hal serupa. Mereka tinggal di rumah yang luas dengan segenap fasilitas hiburan yang nyaman. Mereka bisa nonton film-film di Netflix setiap hari. Atau main TikTok.

Dan fasilitas hiburan itu ada di setiap kamar tidur yang dilengkapi dengan wi-fi. Orang-orang semacam ini tidak akan meresa terganggu kenyamanannya kalau PPKM diperpanjang sampai berminggu-minggu.

Tapi coba pikirkan orang kelas menengah ke bawah. Banyak yang nynyir bilang, mereka yang menolak perpanjangan PPKM pada dasarnya tidak peduli pada kesehatan dan nyawa manusia, karena terlalu memprioritaskan ekonomi. Itu tuduhan omong kosong.

Bagi mereka yang bekerja di sektor informal atau cuma menjadi pekerja lepas, PPKM adalah kejahatan yang menghancurkan hidup mereka. Mereka bakal kelaparan.

Mereka hanya akan memperoleh uang kalau mereka boleh keluar rumah. Ini mencakup pedagang asongan, pedagang kaki lima, supir ojek, buruh lepas, pemilik warung, OB, supir taxi, tukang parkir, dan sebagainya, dan sebagainya.

Mayoritas warga miskin itu bekerja di sektor tersebut. Kalau mereka tidak boleh keluar rumah, mereka dapat hidup dari mana?

Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura. Di negara kaya itu, begitu lockdown diterapkan, 75% gaji karyawan ditangani oleh pemerintah.

Jadi kalaupun mereka harus tinggal di rumah, hidup mereka terjamin. Pemerintah langsung menyalurkan dana bantuan lewat perusahaan. Yang di sektor informal, yang jumlahnya relatif sedikit, dibantu dengan skema lain.

Ini kan tidak bisa diterapkan di Indonesia. Mana sanggup pemerintah menanggung gaji para karyawan swasta? Mana sanggup pemerintah menanggung pendapatan para pekerja di sektor informal? Pemerintah tidak akan sanggup.

Dan setelah mengatakan bahwa yang paling hebat penderitaannya karena PPKM adalah para pekerja informal, kita tentu tidak bisa mengabaikan perusahaan-perusahaan besar.
Kalau PPKM dilanjutkan, ekonomi tidak bergerak. Bisnis macet.

Para pemilik modal mungkin akan mengalami kerugiaan miliaran rupiah. Tapi mereka tetap punya uang simpanan di banyak tempat yang jumlahnya miliaran rupiah juga.

Tapi masalahnya, kalau perusahaan rugi berkepanjangan, langkah yang paling lazim dilakukan adalah memberhentikan karyawan. Badai PHK. Lagi-lagi yang paling terkena adalah rakyat kecil.

Kita sudah membicarakan soal ini setahun yang lalu. Ketika pemerintah dipaksa untuk lockdown. Tapi waktu itu Presiden Jokowi menolaknya.

Dan kata-kata yang menurut saya penting untuk selalu kita ingat adalah: kita harus berlajar hidup bersama Corona.Kita harus belajar hidup normal dengan kesadaran bahwa Corona ada di sekitar kita. Kita beradaptasi.

Dan sejarah umat manusia mengajarkan bahwa manusia selalu bisa survive dengan beradaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Kita harus sadar bahwa Corona akan ada hidup terus bersama kita. Sepanjang hidup kita.

Sekarang sudah terbukti bahwa bahkan vaksin Corona yang semula kita harapkan bisa menjadi penyelamat ternyata juga tidak 100 persen ampuh. Apakah ini berarti kita harus menyerah?

Bekurung diri di rumah sembari mengharapkan keajaiban terjadi? Berkurung di rumah sambal menunggu bantuan sosial?

Jawabannya adalah: tidak bisa. Kita memang harus beradaptasi. Vaksin hampir pasti membantu memperkuat antibodi kita menghadapi virus. Tapi itu sama sekali tidak cukup.

Buat saya, makanan, gaya hidup, olahraga, asupan vitamin, cara kita berinteraksi, adalah kombinasi dari hal-hal yang akan membentengi kita dari Corona. Corona itu hampir pasti akan tiba di tubuh kita. Tapi kita bisa mematikannya, kalau kita sudah memperkuat tubuh kita.

Kita ini sekarang sedang dalam kondisi turbulence, goncangan. Di saat turbulence, memang pasti akan jatuh korban. Itu tidak bisa dihindari. Dan kita memang akan terus kehilangan atau menyaksikan orang-orang yang kita kenal atau yang dekat dengan kita, meninggalkan kita.

Tapi itu adalah bagian dari proses. Kita tahu bahwa salah satu sektor yang paling harus berjibaku, bekerja keras, dengan mengorbankan nyawa adalah kalangan kesehatan. Untuk itu kita harus menghormati mereka, menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya pada mereka, dan sebisa mungkin mendukung mereka dengan berbagai cara. Tapi itu juga adalah bagian dari proses.

Namun demikian, jawaban terhedap persoalan ini bukanlah dengan berdiam diri di rumah. Seperti yang disampaikan Presiden: kalau PPKM mau kita teruskan, sampai kapan?

Jawabannya adalah: sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Kita mendengar ada banyak negara yang semula sudah melepaskan diri dari lockdown karena menyangka angka penyebaran Covid-19nya sudah melandai, terpaksa harus menerima kenyataan bahwa gejala pelandaian itu hanya bersifat sementara.

Kalau kita adalah negara kaya, kita bisa begitu saja mengubah-ubah kebijakan tutup buka ini. Masalahnya Indonesia tidak kaya. Indonesia sedang mengalami pertumbuhan ekonomi, tapi sekarang terpukul kembali gara-gara Covid-19.

Karena itu terlalu mewah bagi kita untuk memaksakan PPKM. Ada sebagian orang dengan nyinyir menyatakan bahwa saya bicara begini karena saya tidak atau belum terkena Covid-19.

Tanpa ingin terkesan takabur saya akan katakan: kalau gara-gara PPKM dibuka, saya terkena Covid-19, saya akan ikhlas, seikhlas-ikhlasnya. Bagi saya, ini akan sama saja dengan saya ikhlas kalau saya terkena flu, terkena tipus, terkena kanker, terkena begitu banyak penyakit lainnya.

Karena yang terpenting, saya mencoba sebisa-bisanya untuk melindungi diri dari segenap ancaman itu. Begitu saya keluar rumah, saya sadar bahwa di luar rumah sana terdapat ada begitu banyak ancaman, dari kuman, virus, parasit, sampai kelakuan pengendara ugal-ugalan.

Hidup memang berisiko. Tapi itulah hidup. Kali ini, kita harus mengambil risiko terpapar Covid-19 demi kepentingan masyarakat luas. Selama ini tanpa lockdown, hampir 3 juta orang dinyatakan terkena Covid-19. Yang meninggal sekitar 74 ribu, atau 2,5%. Sedangkan 97,5% lainnya sembuh.

Kita tentu prihatin dan sedih. Tapi sekarang kalau kita lanjutkan PPKM, alias lockdown terbatas, yang akan jadi korban adalah puluhan juta orang atau lebih dari 200 juta orang.

Saya memilih untuk menyelamatkan puluhan juta rakyat ini. Tentu kita harus terapkan prokes. Tentu pemerintah harus tegas. Tapi itu dampaknya akan jauh lebih baik daripada harga yang harus dibayar oleh PPKM.

Komentar