VAKSIN BERBAYAR SAMA DENGAN GOTONG ROYONG

Oleh: Ade Armando

Mudah-mudahan Anda sudah menyaksikan video Denny Siregar soal vaksin gotong royong berbayar. Denny menjelaskan bahwa kalau pemerintah jadi menerapkan program vaksin berbayar itu bukan berarti pemerintah menghilangkan vaksin gratis, ya.

Pemerintah tetap memberikan vaksin gratis. Pemerintah tetap juga memberikan program vaksin gotong royong bagi perusahaan-perusahaan yang berniat memvaksin karyawannya secara berbayar. Tapi sekarang ada satu tambahan opsi: vaksin berbayar buat siapapun yang ingin divaksin tanpa harus menunggu antrean panjang.

Biayanya per orang sekitar Rp800 ribu, untuk dua kali vaksin. Yang menyediakannya adalah Kimia Farma. Seharusnya kebijakan vaksin berbayar ini sudah diluncurkan, tapi karena diprotes kanan-kiri, akhirnya ditunda.

Saya pribadi berharap program vaksin berbayar ini dilanjutkan. Saya percaya vaksin berbayar ini akan membawa percepatan vaksinasi. Program ini akan membawa kemungkinan bagi bentuk-bentuk solidaritas sosial yang akan semakin memperkuat bangsa.

Saya percaya kalau program ini dijalankan, akan ada banyak orang kaya yang membuka dompetnya untuk membantu kaum papa memperoleh vaksin berbayar. Saya sendiri sudah divaksin dua kali. Selain itu saya juga menggunakan Ivermectin.

Karena itu kalau saya sih agak percaya diri dengan kondisi kesehatan saya. Tapi, masalahnya mayoritas rakyat Indonesia belum akan bisa divaksin dalam waktu dekat. Dan saya percaya program vaksin berbayar inilah yang akan menjadi salah satu jawaban untuk mempercepat laju vaksinasi di Indonesia.

Kita harus ingat bahwa cara terbaik untuk melawan wabah Covid-19 adalah vaksinasi.
Ada beberapa cara sebenarnya.

Pertama adalah memaksa orang untuk tidak bertemu dengan banyak orang. Kalau bertemu harus menjaga jarak, memakai masker, dan tidak bersentuhan. Untuk menjamin agar itu bisa dijaga dengan kendali ketat, diterapkanlah bentuk-bentuk pembatasan dari lockdown sampai PPKM Darurat. Tapi kebijakan ini tidak bisa diterapkan cukup lama.

Kalau ini diterapkan terus, seluruh sendi masyarakat akan berantakan.

Cara kedua adalah memperkuat daya tahan tubuh. Tapi ini juga tidak bisa diharapkan bisa tercapai dengan sendirinya hanya dengan gaya hidup sehat, makanan, vitamin, olahraga, dan seterusnya. Karena itu, jawabannya adalah vaksinasi.

Kalau mayoritas warga sudah divaksin, perang melawan Covid-19 akan bisa diakhiri. Kalaupun masih ada yang terjangkit Covid-19, tingkatnya tidak akan parah. Mungkin sepertu flu biasa, atau penyakit-penyakit ringan lainnya.

Masalahnya, Indonesia sangat besar. Kita punya 270 juta jiwa penduduk. Bagaimana kita bisa mengejar jumlah yang besar itu dengan cepat?

Kita tidak bisa mengandalkan hanya pemerintah dengan program vaksin gratisnya. Kalau saja Indonesia percaya dengan Ivermectin, kondisi mungkin akan lebih baik. Saya sendiri percaya Ivermectin adalah obat yang setidaknya memperkuat tubuh dari serangan Corona. Tapi karena Ivermectin tidak dipercaya, mayoritas rakyat tetap rentan.

Karena itu kita memerlukan langkah-langkah darurat. Dalam hal ini, vaksin berbayar adalah salah satu jawaban. Memang ini akan nampak seperti pengingkaran terhedap janji semula.

Dulu di awal pandemi, Presiden memang menyatakan bahwa pemerintah akan menjamin penyediaan vaksin gratis. Kok kini tiba-tiba saja berubah?

BEM UI misalnya akan dengan bahagia menyebut ini adalah lagi-lagi bukti bahwa Jokowi adalah Raja Munafik. Tapi buat saya, biarkanlah itu.

Mereka yang nyinyir pada Jokowi, akan terus nyinyir sampai mati. Mereka tidak perlu dipedulikan. Yang harus kita pedulikan adalah rakyat Indonesia. Dan diskresi semacam ini adalah langkah darurat yang pasti akan bisa diterima. Pemerintah sudah sangat siap.

Tinggal menunggu persetujuan DPR yang mungkin sebagian anggotanya masih ragu-ragu. Masih ada yang menuduh bahwa dengan vaksin berbayar ini, pemerintah berbisnis dengan rakyat.

Mudah-mudahan kecurigaan semacam ini bisa segera dihentikan. Karena di masa pandemi ini, kecurigaan adalah semacam penghambat yang bisa mengorbankan rakyat Indonesia. Vaksin berbayar ini adalah jawaban untuk mempercepat vaksinasi ke seluruh rayat Indonesia.

Tentu ada yang akan bertanya, tapi bukankah vaksin berbayar itu hanya bisa dinikmati oleh orang kaya. Mana mungkin rakyat kecil dengan penghasilan terbatas bisa membiayai vaksin berbayar buat dia dan keluarganya?

Dalam hal inilah, saya percaya pada kemurahan hati bangsa Indonesia. Indonesia dikenal di dunia sebagai negara yang warganya memiliki solidaritas tinggi. Awal Juni lalu, badan amal Charities Aid Foundation (CAF) menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan berdasarkan World Giving Index.

Karena itu, saya percaya bila program vaksin berbayar ini akan dijalankan, kita bisa mengkampanyekan agar mereka yang lebih mampu bersedia menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu yang kurang mampu.

Mereka yang tinggal di zona merah atau kuning, bisa mendata warga yang paling rentan terkena Covid-19 untuk kemudian dibantu memperoleh vaksin melalui program ini. Tentu saja perlu ada skala prioritas.

Yang didahulukan adalah mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Begitu juga para pengusaha dan orang kaya, bisa mengeluarkan dana untuk membantu mereka yang bekerja di sektor informal, pedagang kaki lima, tukang ojek, dan seterusnya untuk memperoleh vaksin.

Saya percaya para pengusaha atau perusahaan akan peduli karena mereka berharap ekonomi bergerak. Dan ekonomi hanya akan bergerak bila masyarakat berani keluar rumah. Bila para karyawan perusahaan dan juga mereka yang hidup di wilayah di mana perusahan itu beroperasi sudah divaksin, mobilitas bisa dilakukan.

Mereka yang selama ini juga sering mendermakan uangnya untuk kegiatan keagamaan, bisa menyalurkan dananya untuk vaksinasi. Termasuk uang untuk kurban tahun ini misalnya. Daripada digunakan untuk memotong hewan qurban, kenapa tidak digunakan untuk membantu rakyat memperoleh vaksin.

Atau mereka yang selama ini bercita-cita umroh dan naik haji. Daripada dipakai untuk ibadah yang sangat personal seperti itu, mungkin ada baiknya disalurkan saja untuk membantu rakyat memperoleh vaksin.

Saya yakin pahala untuk membantu rakyat memperoleh vaksin adalah sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada berhaji. Saya juga baru saja bicara dengan pengusaha besar pemilik Sido Muncul, Pak Irwan Hidayat.

Menurut dia, sebenarnya ada banyak pengusaha yang tergerak untuk membantu masyarakat soal vaksin. Pengusaha-pengusaha ini kan sudah membantu penyediaan alat kesehatan – dari masker, oksigen, APD sampai ventilator buat masyarakat. Mereka juga sudah membiayai vaksinasi karyawannya.

Kalau sekarang dimungkinkan untuk membantu vaksinasi masyarakat, pasti mereka bersedia. Pak Irwan Hidayat sendiri bilang, kalau dia sih pasti bersedia. Kalau ini yang dilakukan, maka vaksinasi mandiri ini jadinya tidak akan terkesan sebagai sekadar melayani orang mampu.

Dengan adanya vaksinasi mandiri, mereka yang lebih mampu justru berpeluang untuk membantu mereka yang membutuhkan vaksin. Karena itu mari kita ramai-ramai dukung vaksinasi gotong royong berbayar.

Kalau masih ada yang nyinyir, silakan nyinyir tanpa henti. Karena bagi kami yang terpenting adalah keselamatan rakyat, bukan mendengarkan para penjahat.

Komentar