TIONGHOA ITU INDONESIA: SINAR MAS, SIDO MUNCUL, AGNEZ MO, DAN dr. LIE

Oleh: Ade Armando

Saya ingin mulai dengan mengutip sebuah berita penting, walau mungkin tak banyak menarik perhatian. Grup konglomerat Sinar Mas menyediakan stok oksigen sebanyak 1.200 ton per bulannya untuk pasien Covid-19. Kapasitas 1.200 ton itu diperkirakan akan mampu mengisi sekitar 1 juta tabung oksigen medis.

Saya bukan siapa-siapanya Sinar Mas. Tapi saya rasa, kita semua layak memuji dan berterimakasih pada apa yang mereka lakukan. Pada saat rakyat berteriak tentang kelangkaan oksigen, Sinar Mas menyediakannya secara gratis.

Dalam perang melawan Covid-19 yang kita belum tahu ujungnya di mana dan kapan, keterlibatan semua masyarakat menjadi kunci. Dan sebagai salah satu konglomerat terbesar di Indonesia, Sinar Mas membuktikan bahwa mereka bukan hanya memperoleh keuntungan dari bumi Indonesia, tapi juga membagi keuntungan mereka pada rakyat Indonesia.

Dan ini jadi penting terkait dengan satu isu sensitif di Indonesia, soal kaum Tionghoa, orang-orang Cina yang selama ini dituduh sebagai kaum yang mengeksploitasi dan menjajah Indonesia.

Narasi anti Tionghoa ini masih terus menyebar luas terutama di kalangan masyarakat muslim melalui media sosial. Seruan-seruan anti Tionghoa memang sudah sulit dilakukan melalui pertemuan langsung, seperti ceramah di masjid, musala, dan pengajian.
Tapi kini, kehadiran media sosial, terutama Whatsapp Group, memberi jalan bagi penyebaran fitnah dan tuduhan anti Tionghoa yang memecah belah bangsa itu.

Saya terus memperoleh kiriman seruan-seruan semacam itu hampir setiap hari. Pada intinya, narasi yang dikembangkan adalah kaum Tionghoa di Indonesia bukanlah bagian dari bangsa Indonesia.

Kaum Tionghoa adalah parasit yang bersekutu untuk memiskinkan Indonesia. Kaum Tionghoa adalah orang-orang yang menguasai politik dan ekonomi Indonesia dan lewat kekuasaan itu mereka menghabisi rakyat Indonesia.

Secara spesifik, mereka menuduh bahwa kaum Tionghoa itu anti Islam, karena orang Cina tahu hanya Islam yang akan menjadi penghalang hasrat mereka untuk menguasai Indonesia. Rezim Jokowi, dalam narasi ini, adalah rezim boneka yang sebenarnya hanya melayani kepentingan orang-orang Tionghoa.

Kekuasaan sebenarnya, kata mereka, ada di tangan 9 Naga Tionghoa. Kebencian terhadap Tionghoa itu terus mereka ulang setiap hari. Karena itulah, apa yang dilakukan Sinar Mas yang dimiliki keluarga almarhum Eka Tjipta yang orang Tionghoa, adalah bukti yang dibutuhkan untuk mematahkan propaganda hitam semacam itu.

Kaum Tionghoa turun tangan ketika rakyat Indonesia membutuhkan pertolongan. Dan saya yakin bukan hanya Sinar Mas yang melakukan. Nama Sinar Mas saya sebut karena hal itulah yang muncul hari-hari hari ini. Tapi saya ingat misalnya tahun lalu, di masa-masa awal wabah melanda Indonesia, ada bantuan dari sekumpulan konglomerat yang, seperti saya katakan, hampir semua dimiliki keluarga Tionghoa.

Ketika itu Sinar Mas bersama Grup Djarum, Artha Graha, Agung Sedayu, Indofood, Adaro, Puradelta, dan Triputra, bersama-sama mengucurkan dana sampai Rp500 miliar, atau setengah triliun untuk membantu penanganan Corona.

Sampai saat ini sangat mungkin perusahaan-perusahaan itu masih juga menjalankan aksi-aksi pengucuran bantuan, tapi tidak lagi diberitakan. Dan ada banyak contoh lain. Misalnya saja saya pernah mewawancarai pimpinan Sido Muncul, Irwan Hidayat, yang juga adalah orang Tionghoa.

Di awal Covid-19, perusahaannya juga mengucurkan dana Rp15 miliar untuk membantu penanganan Covid-19. Tapi yang juga menarik, Sido Muncul ini setiap tahun, sebelum pandemi, punya tradisi menyediakan bus-bus gratis untuk membawa karyawan maupun para penjual jamu mudik lebaran. Dan mereka seperti tak berhenti membantu.

Pada April lalu, Sido Muncul misalnya memberi bantuan bagi korban banjir di NTT dan NTB, dua musibah yang bahkan tak banyak diketahui rakyat Indonesia. Dan yang melakukan itu bukan hanya Tionghoa kaya raya.

Saya mengenal banyak orang Tionghoa yang tidak kaya-kaya amat, atau bahkan kelas menengah biasa, yang dengan hati lapang membagi apa yang mereka punya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dan mereka membantu tanpa mempersoalkan apa agama, apa ras, apa etnik orang yang dibantu.

Sebagian dari mereka bahkan bercerita bahwa selama hidupnya, mereka didiskriminasi di Indonesia karena mereka Cina. Mereka dihina, diejek, diperlakukan berbeda. Tapi begitu ada musibah yang menimpa rakyat Indonesia, mereka segera berkumpul untuk membantu.

Saya bisa juga gunakan contoh artis terkenal, Agnes Monica. Dua tahun yang lalu, dia pernah dituduh mengaku bukan orang Indonesia dalam wawancara dengan sebuah channel YouTube di Amerika Serikat. Agnes ketika itu memang mengaku bahwa dia keturunan Jerman, Jepang, dan Cina.

Agnes sebenarnya hanya ingin mengatakan kalaulah memang ada istilah ‘pribumi asli’, maka dia sebenarnya tidak berada dalam kategori itu. Dia tidak mengatakan dia bukan orang Indonesia, dia hanya ingin mengatakan bahwa dia berdarah ‘keturunan’.

Dan di bagian wawancara lain, Agnes justru berusaha menjelaskan tentang keberagaman dan kekayaan Indonesia. Tapi buat the nyinyirs, ucapan Agnes itu sudah cukup untuk menjadikan dia bulan-bulanan.

Agnes dihina sebagai Cina yang tak tahu diri, tidak nasionalis, tidak berterimakasih pada Indonesia. Nah buat mereka yang nyinyir, kalian harus tahu apa yang baru saja dilakukan oleh Agnes yang kalian hina-hina itu.

Bulan lalu dia baru saja membuka klinik vaksinasi gratis buat mereka yang kurang mampu.
Gratis! Bukan buat orang Cina, bukan buat orang Kristen, tapi buat orang tidak mampu.
Dia membantu pemerintah untuk menanggulangi Covid-19.

Dan ini jadi kontras dengan sejumlah artis asli ‘pribumi’ yang kerjaannya menghambur-hamburkan uang untuk beli mobil mewah dan memamerkannya di media sosial. Sebagai contoh terakhir saya ingin menyebut nama dr. Lie Dharmawan.

Saya juga baru bikin video tentangnya beberapa pekan yang lalu. Dia ini adalah seorang dokter yang sepanjang hidupnya didiskriminasi di Indonesia karena ketionghoannya. Apakah dia meresa perlu membalasdendam? Sama sekali tidak.

Dia justru memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada kaum tertinggal di daerah-daerah yang selama ini tidak memperoleh akses bantuan medis modern. Dia berpraktek di sebuah kapal yang di sepanjang tahun berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain.

Di kapal apungnya, tersedia fasilitas kesehatan lengkap. Mula-mula dia danai sendiri, dan sampai sekarang melibatkan banyak orang yang tergerak karena ketulusan pengabdian sang dokter. dr. Lie melakukan itu semata-mata karena menurutnya, setiap rakyat Indonesia berhak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.

Dia sebenarnya bisa berkarier dan menjadi kaya-raya di Jerman, tempat dia menempuh ilmu. Tapi tidak, dr. Lie memilih pulang ke Indonesia dan memberi bantuan kesehatan gratis pada rakyat Indonesia.

Saya menggunakan contoh Sinar Mas, Irwan Hidayat, Agnes Monica, dr. Lie dan kawan-kawan Tionghoa saya untuk menunjukkan betapa orang-orang Tionghoa adalah saudara senasib sepenanggungan dengan orang-orang Indonesia lainnya.

Mendiskriminasikan orang Tionghoa adalah bentuk kedunguan luar biasa. Orang Tionghoa adalah bagian yang sangat sah dari bangsa Indonesia. Dan karena kecakapannya dan kegigihannya, orang-orang Tionghoa justru akan menjadi faktor yang turut menentukan keberhasilan kemajuan bangsa ini.

Tentu saja ada orang Tionghoa jahat, sebagaimana ada orang Jawa, Sunda, Makassar, Arab yang jahat. Tapi begitu juga ada banyak orang Tionghoa baik, sebagaimana ada juga banyak orang Jawa, Sunda, Makasar, Arab yang baik. Orang Tionghoa adalah Indonesia.

Komentar