MENUTUP MASJID KARENA PPKM SUDAH SESUAI KETENTUAN SYARIAT

Oleh: Syafiq Hasyim

Meskipun korban terus berjatuhan akibat Covid-19 pada tiga minggu terakhir ini, seperti diduga, ada saja yang masih berkomentar kontroversial dan negatif terhadap ditutupnya sarana ibadah karena implementasi dari PPKM Darurat.

Abdus Somad dikabarkan oleh media, marah besar atas kebijakan pemerintah ini. Dia marah karena ke masjid hanya butuh 5-10 menit, sementara ke mall lebih berlama-lama, mall itu tidak ditutup. Korban Covid-19 ini meningkat kenapa masjid yang disalahkan?

Saya kira, Abdus Somad kali ini komentarnya tidak berbeda dengan komentar beberapa waktu yang lalu, di mana dia berkomentar negatif terhadap kebijakan pemerintah. Masih ingatkan, ketika awal-awal Covid-19 menghantam Wuhan, Cina. Dengan sigap dia mengatakan bahwa itu pasukan Allah yang dikirim ke Uyghur.

Kini dia berkomentar lagi soal PPKM Darurat yang menjadikan masjid ditutup.

Pertama, penutupan masjid dalam masa dururat ini bukan penutupan yang bersifat permanen. Jadi, masjid tidak ditutup secara terus-menerus. Kita tahu bahwa masjid adalah tempat ibadah umat Islam, tempat salat jamaah lima waktu, tempat berjumatan, dlsb.

Namun, dalam keadaan yang seperti kita lihat saat ini, masjid untuk sementara ditutup agar tidak menjadi tempat pertemuan banyak orang. Jadi, masjid ditutup bukan karena masjid itu sendiri, namun karena masjid adalah tempat banyak orang bertemu dan berinteraksi yang berpotensi besar menjadikan masjid sebagai tempat penularan Covid-19.

Ini bukan soal berapa lama waktu yang digunakan oleh orang untuk beribadah ke masjid, apakah 5 menit, 10 menit, 15 menit sampai 30 menit, namun ini soal jika ada orang yang datang di satu tempat, bahkan meskipun mungkin waktunya tidak bersamaan, tetap akan menjadi tempat yang potensial menyebarkan Covid-19.

Jika ada salah satu yang membawa virus, baik di dalam tubuhnya maupun di pakaiannya, droplet yang belum mengering, itu bisa menjadi potensi penularan. Jadi, sekali lagi, soal lama dan tidak lama waktu di masjid, bukan menjadi alasan untuk membolehkan orang berkumpul di dalam masjid.

Apalagi, konon virus varian baru Covid-19 ini bisa menyebar dalam hitungan detik, tidak sampai satu menit. Apa yang saya katakan ini argumen yang biasa saja, argumen awam, yang mungkin Abdus Somad juga sudah mengetahuinya.

Kedua, pada sisi keagamaan, sudah banyak contoh masjid ditutup selama pandemi. Ketika Saudi Arbia sedang mengalami puncak penularan Covid-19, otoritas Saudi juga melakukan penutupan Masjid al-Haram.

Bahkan ketika Masjid al-Haram dibuka kembali oleh Kerajaan Saudi karena dirasa Covid-19 sudah bisa dikendalikan, mereka pun masih tidak membolehkan para jamaah yang datang ke masjid tersebut untuk menyentuh Ka’bah. Hal ini terjadi pada musim haji tahun lalu, tahun 2020.

Di negeri yang menjadi gudang para ulama yang menjadi panutan ulama di Indonesia, seperti Mesir, masjid juga ditutup, bahkan pernah ditutup selama 5 bulan –bulan April sampai bulan Agustus 2020.

Jika kita kembali pada otoritas keagamaan di Indonesia sendiri, misalnya merujuk kepada MUI, Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah, seluruh mereka meminta anggota mereka untuk tidak melakukan aktivitas di masjid yang menjadi zona berbahaya bagi penularan Covid-19.

Dari segi fiqhiyyah, shalat berjamaah bisa dilakukan di rumah, shalat Jumat pun bisa digantikan dengan shalat dzuhur di rumah. Ingat, kalangan yang mengambil keputusan agar kita tidak boleh melakukan perjumpaan dan perkumpulan di masjid itu bukan hanya Indonesia, namun juga otoritas-otoritas keagamaan di negara-negara lain, termasuk negara-negara Muslim yang dipandang sangat islami selama ini.

Mereka itu antara lain adalah Ittihad al-Alami li Ulama’i al-Muslimin (Persatuan Dunia Cendekiawan Muslim), kemudian Dewan Senior Ulama al-Azhar, Dewan Senior Ulama Saudi Arabia, Majlis al-Ifta Uni Emirat Arab, Dar al-ifta Yordania, Diyanet di Turki, Dewan Ilmiyyah di Marokko, Kementerian Waqaf Kuwait dan Qatar, Kerajaan Oman, lalu para ulama di Syiria dan lain sebagainya.

Mereka semua menganjurkan di dalam era yang puncak penularan sebaiknya mereka tidak pergi ke masjid.

Jika kita masih kurang argumen, Syaikh Utsaimin yang menjadi panutan para ulama salafi di Saudi Arabia jelas mengatakan di dalam ta’liq beliau pada kitab Sahih Bukhari, pernyataan beliau adalah:

“إغلاق المساجد والكعبة وما أشبه ذلك للحاجة لا بأس به، ولا يقال: إن هذا من مَنْع مساجد الله أن يُذكر فيها اسمه؛ لأن هذا لمصلحة أو لحاجة أو لضرورة أحيانًا”

Terjemahannya: Menutup masjid dan ka’bah dan hal yang serupa karena adanya kebutuhan, maka itu tidak menjadi masalah dan jangan dikatakan bahwa ini adalah salah satu cara untuk mencegah menyebut nama-Nya di masjid Allah; ini sesungguhnya adalah untuk kebaikan atau kebutuhan atau untuk keperluan darurat yang tidak permanen.

Sesungguhnya kalau orang seperti Abdus Somad maupun para mubaligh yang lain mau membuka hati dan pikiran, pasti dia dengan mudah bisa menemukan argumen-argumen keagamaan yang tidak hanya menjadi pendapat segelintir ulama di Indonesia, namun sudah menjadi pendapat ulama sejagat.

Bahkan jika kita memakai logika fiqhiyyah, maka penutupan masjid pada saat penyebaran Covid-19 yang benar-benar tidak bisa dikendalikan itu menjadi ijma’ ulama (consensus ulama). Ijma’ itu bisa menjadi dasar hukum ketika di dalam usul fiqih dikatakan, setelah al-Quran dan Sunnah maka ijma’ adalah dasar ketiga.

Argumen lain yang bisa digunakan adalah melindungi nyawa atau kehidupan itu sendiri hal yang memang sangat diutamakan di dalam maqashid al-syariah atau tujuan syariat.

Jika menutup masjid atau tempat ibadah lain memang ditujukan untuk melindungi kehidupan manusia, maka itu harus dilakukan. Apa gunanya masjid bagi manusia jika tidak ada kehidupan manusia. Siapa yang akan memakmurkan masjid jika kehidupan itu punah karena Covid-19.

Saya kira, argumen-argumen seperti ini pasti dengan mudah diketahui oleh Abdus Somad atau oleh ustadz-ustadz yang lain, atau muballigh-muballigh yang lainnya, dengan catatan, jika mereka mau membuka pikiran dan hati mereka.

Tapi, yang menjadi masalah bagi saya, meskipun mereka itu pasti mengerti akan masalah keagamaan ini, kenapa mereka tetap berpendapat seperti yang dikeluarkan oleh Abdus Somad?

Apakah ada hal yang lebih penting bagi mereka selain dalil-dalil keagamaan, misalnya soal dendam politik atau asal tolak saja kebijakan pemerintah, wa allahu a’lamu bi al-sawab.

Sebagai catatan, tidak semua argumen dan fakta keagamaan yang sudah jelas dan terang benderang bisa menyebabkan seseorang itu menerimanya. Hal itu bisa terjadi karena di dalam diri orang itu ada soal lain, yakni soal politik dan soal kepentingan pribadi yang lain.

Komentar