AHH, MASAK NIA RAMADHANI CUMA DIREHABILITASI?

Oleh: Denny Siregar

Tertangkapnya Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie dengan kasus kepemilikan sabu seberat 0,78 gram ini jadi salah satu kasus yang mendapat perhatian besar dari publik. Nia dan Ardi Bakrie adalah figur terkenal, karena yang satunya selebritis dan satunya lagi anak pengusaha kaya dan terkenal, Aburizal Bakrie.

Saya sudah baca kronologinya. Tertangkapnya mereka bukan tertangkap karena sedang pakai sabu, tetapi ada laporan yang masuk ke polisi kalau Nia sering pakai sabu. Laporan yang datang ke polisi ini kemudian ditindaklanjuti dan polisi kemudian menyelidiki supir pribadinya Nia Ramadhani. Dan dari supir pribadi inilah, ketika dia digeledah, ditemukan sabu seberat kurang dari 1 gram. Si supir kemudian ngadu, kalau sabu ini sebenarnya punya Nia, bukan punyanya dia. Nah, berdasarkan pengakuan si supir itu, polisi kemudian datang ke rumah Nia Ramadhani dan di rumahnya polisi menemukan seperangkat bong atau alat pengisap sabu.

Nia Ramadhani kemudian dibawa ke kantor polisi dan di sana mulailah dia mengaku kalau sering memakai sabu bersama supir pribadinya dan juga suaminya, Ardi Bakrie. Ardi waktu Nia ditangkap, kebetulan tidak ada di rumah. Tapi dia kemudian datang ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk menyerahkan dirinya.

Saya bukan pengagum Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, dan saya adalah orang yang jijik pada pemakai sabu, tapi dari hasil kronologi yang ada saya harus respek kepada mereka karena mereka berdua taat pada hukum, tidak kabur, dan tidak menggunakan powernya sebagai anak orang kaya dan berpengaruh dengan menekan kepolisian.

Saya sendiri juga harus respek kepada kepolisian, terutama kepada Polres Metro Jakarta Pusat. Bayangkan, yang mereka tangkap itu anak orang kaya dan berpengaruh. Tentu gak gampang mereka menangkap Nia dan Ardi, karena pasti banyak yang menelpon kepolisian supaya kasus ini di-petieskan saja dan tolong dong jangan diungkap ke publik. Polisi lain pasti ngiler deh kalau udah dengar tawaran “uang gede”.

Kalau itu bukan Kapolres Metro Jakarta Pusat, bisa saja kasus Nia dan Ardi ini gak terungkap ke publik. Ngapain coba susah-susah? Cukup telpon ke orangtuanya, “Ini Nia sama Ardi kena kasus sabu, gimana? Mau 86 atau kita kasih ke publik nih?” Toh juga belum ada orang yang tahu ini. Bisa dapat “uang tutup mulut” kalau mereka di kepolisian mau main-main.

Tapi gak. Saya tahu kapasitasnya Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi. Saya pernah mengikuti jejaknya waktu dia menangkap Hercules, preman nomor satu di Jakarta. Berita penangkapan Hercules sempat heboh waktu tahun 2013 lalu, karena orang lega akhirnya Hercules, yang sempat dikira sebagai preman yang tidak bisa disentuh, akhirnya menyerah juga ke Hengki, yang waktu itu menjabat Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat. Hercules pada waktu itu dikabarkan dekat dengan banyak pejabat, tapi dia dihajar juga sampai akhirnya masuk penjara.

Ingat penangkapan jaringan narkoba dari Timur Tengah, dengan hasil 310 kilogram sabu yang bernilai Rp400 miliar beberapa bulan lalu? Komandannya ya Hengki juga, Kapolres Metro Jakarta Pusat. Kenapa saya harus bicara begini seolah-olah mempromosikan nama seseorang? Karena saya tidak ingin orang bagus tidak mendapat pembelaan ketika dia berprestasi. Orang bagus harus dipromosikan, kalau tidak, nanti orang jelek yang mendapat jabatan.

Menangkap figur publik seterkenal Nia Ramadhani, apalagi anak konglomerat seperti Ardi Bakrie itu gak mudah. Godaannya pasti besar, karena mereka punya koneksi dan punya uang. Bisa saja karena penangkapan itu, karir Kombes Pol Hengki Haryadi, Kapolres Metro Jakarta Pusat terancam hanya karena ada orang kuat yang tidak suka Ardi Bakrie ditangkap. Jadi, kita harus paham ya kondisi psikologis Kapolres pada kasus ini.

Oke, cukuplah apresiasi ke Kepolisian RI atas terungkapnya kasus ini. Ada yang mengganjal di saya terkait banyaknya komen netizen yang menganggap kalau kasus Nia dan Ardi ini akan hilang karena mereka tidak akan dipenjara dan hanya masuk rehabilitasi saja.

Saya akhirnya konsultasi ke teman saya yang ahli hukum, Muannas Alaidid, pengacara yang selalu ada di depan saya ketika saya ada masalah disomasi, saya tanya, benarkah Nia dan Ardi itu tidak akan dipenjara dan hanya masuk rehabilitasi saja? Wah, kalau gitu jangan-jangan ada maen dong antara polisi sama mereka? Anak orang kaya kan bebas ngapain aja.

Dan penjelasan Muannas itu clear buat saya, kalau urusan apakah Nia dan Ardi itu harus direhabilitasi atau tidak, itu bukan wewenang kepolisian, tetapi pengadilan.

Jadi alurnya begini. Polisi tugasnya menangkap Nia dan Ardi. Tugas polisi hanya sampai di situ saja, kemudian membuat berkas untuk diberikan ke jaksa. Polisi tidak punya wewenang untuk menjatuhkan hukuman ataupun merehabilitasi seseorang yang dia tangkap. Yang punya wewenang itu adalah pengadilan. Catat ya, polisi dan pengadilan adalah dua institusi yang berbeda, tugas dan wewenang mereka juga berbeda. Kalaupun polisi terlibat dalam urusan apakah seseorang itu harus direhabilitasi atau tidak, itu hanya sebatas rekomendasi saja. Rekomendasi itupun tidak dibuat oleh polisi sendiri, tetapi gabungan bersama Badan Narkotika Nasional atau BNN dan juga Kejaksaan.

Nah, nanti dari hasil rekomendasi ini akan dibawa ke pengadilan waktu sidang, nanti hakim juga yang memutuskan. Kalau kemudian nantinya hakim bilang, kalau Nia dan Ardi tidak perlu dipenjara dan cukup direhabilitasi karena mereka hanya pengguna dan bukan pengedar, ya jangan salahkan kepolisian karena mereka tidak ikut campur dalam keputusan pengadilan. Biasanya sih, kepemilikan narkoba di bawah 1 gram, pemakainya akan direhabilitasi sesuai UU Narkoba. Beda lagi kalau Nia sama Ardi jualan narkoba atau sebagai pengedar. Itu hukumannya berat banget.

Itulah makanya di awal, polisi sudah menegaskan kalau proses hukum Nia dan Ardi tetap akan berjalan. Yang dimaksud proses hukum berjalan adalah polisi akan tetap memberkas kasus mereka dan menyerahkannya ke kejaksaan. Sesudah itu, bukan lagi wewenang polisi lagi karena kasus sudah ada di jaksa untuk dibawa ke pengadilan.

Polisi sekarang ini sudah pelan-pelan mencoba berubah dari stigma buruk yang melekat kepada mereka selama puluhan tahun lamanya. Dulu ya, kita takut banget ngadu ke polisi karena siapapun tahu kalau kita kehilangan seekor kambing dan ngadu ke polisi, maka yang hilang bisa jadi seekor sapi. Ini menandakan betapa banyaknya oknum polisi di masa lalu yang menjadi tukang peras bukannya menjadi pengayom masyarakat.

Malah kadang-kadang saya tuh gemes lihat polisi dimaki-maki di pinggir jalan, dan mereka diam saja. Saya malah sempat bilang, polisi sekarang itu lembek. Tapi ya gitu itu, risiko yang harus dihadapi polisi sekarang dikatakan lembek, hanya karena mereka tidak ingin menampilkan wajah keras ketika berhadapan dengan masyarakat biasa.

Polisi pastilah tidak sempurna. Dan pasti masih banyak oknum-oknum di internal yang suka memanfaatkan nama institusi untuk kepentingan mereka. Tapi kita juga harus belajar mengapresiasi polisi kalau mereka berbuat baik. Karena, biar bagaimanapun, kita dan Kepolisian Republik Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem negara.

Meski ya, saya tetap saja deg-degan kalau ketemu polisi di jalan, apalagi pas mereka sedang razia kendaraan. Saya gak tau, apakah ini yang dinamakan cinta?

Komentar