GILA, ORANG LAGI PEMBATASAN, NIA RAMADHANI MALAH PESTA SHABU

Oleh: Eko Kuntadhi

Kita sekarang lagi sibuk PPKM atau pembatasan skala mikro, atau PPKM Darurat. Kita khawatir tertular virus ganas ini. Eh, tiba-tiba ada berita mengagetkan. Artis Nia Ramadhani dan suaminya Ardi Bakrie tertangkap polisi sedang pesta shabu di Pondok Indah.

Penangkapan artis karena kasus narkoba itu biasa, tapi Nia bukan artis biasa. Dia artis istrinya konglomerat Ardi Bakrie, atau anak konglomerat Abu Rizal Bakrie.

Dan Ardi bukan konglomerat biasa. Ia konglomerat pemilik banyak media atau stasiun televisi. Jadi jangan aneh kalau berita ini gak akan nongol di stasiun televisi sampai saat ini.

Kita sebel dengan berita kayak gini, karena apa? Karena mereka tertangkap di tengah-tengah suasana masyarakat sedang resah. Masyarakat sedang kesusahan. Ini yang bikin kita gondok.

Kasus Nia dan Ardi sebetulnya kayak puncak gunung es. Kabarnya justru di saat pandemi seperti ini peredaran narkoba di Indonesia makin meningkat.

Mungkin ya, pertama karena dalam kondisi seperti ini fokus aparat kepolisian sedang sibuk-sibuknya mengantisipasi pergerakan virus. Ini dijadikan lubang bagi para bandar narkoba untuk terus memasarkan produknya di Indonesia.

Kita masih ingat, kemarin belum lama ini, prestasi Polres Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Mereka berhasil menggagalkan penyelundupan shabu sebesar 1,1 ton. Shabu itu berasal dari Timur Tengah. Pengungkapan ini merupakan salah satu pengungkapan terbesar yang berhasil dilakukan oleh polisi selevel Polres.

Kita patut mengapresiasi kerja kepolisian untuk melindungi anak bangsa dari barang sialan itu.

Yang menarik juga, banyak kasus narkoba asalnya dari Timur Tengah dan transaksinya melulu di seputar Petamburan. Coba saja baca penangkapan narkoba dengan jumlah luar biasa di Jakarta beberapa waktu lalu. Petamburan selalu menjadi lokasi favorit sebagai transaksi narkoba.

Pada penangkapan yang kemarin itu, yang jumlahnya 1,1 ton itu harga shabunya diperkirakan sekitar Rp1,3 triliun. Bayangkan sekali tegrep bisa mencapai ton-tonan dan triliunan rupiah, bandar mana yang gak ngiler dengan potensi besar pasar narkoba di Indonesia.

Jika saja shabu sebanyak itu sempat beredar di masyarakat, diperkirakan 5 juta orang yang bakal terpapar oleh barang haram itu. Entah dari jumlah itu, berapa banyak pengguna yang baru saja menggunakan atau baru saja mencoba-coba shabu dan setelah itu mereka akan terus-menerus ketagihan.

Itu yang berhasil diungkap atau ditangkap. Terus bagaimana yang lolos? Berapa banyak lagi warga kita akan menderita halusinasi buatan seperti ini?

Mungkin bagi orang kayak Nia atau Ardi, ketika ditangkap mereka paling malu sebentar. Namanya diomongin publik karena kelakuannya. Setelah itu, biasanya, ya mereka nyaris gak dihukum sih, atau mereka melewati proses hukum dengan mengikuti rehabilitasi.

Wajar, mereka kan pengguna. Kecuali kalau mereka adalah bandar. Setelah itu kita lupa.

Toh, mereka adalah pasangan yang dilahirkan di piring emas. Sudah sugih sejak dalam kandungan. Jadi soal perkara rehabilitasi bukan sesuatu yang sulit.

Hidup mereka juga gak akan rontok kalau baru aja ketangkap narkoba. Beda kalau yang menggunakan narkoba anak-anak susah, yang mau makan saja harus antri, yang makannya teratur sehari makan dua hari bengong. Ini akan jadi neraka buat keluarganya.

Meski kita harus diakui, penangkapan Ardi itu berakibat pada rontoknya saham Bakrie. Perusahaan media grup Bakrie misalnya, sahamnya katanya turun sampai 3,5% dalam sehari.

Karena apa? Karena Ardi suaminya Nia itu adalah pemimpin perusahaan itu. Kalau kepercayaan publik melorot akibat kelakuan salah satu pemilik perusahaan, ya wajar berimbas pada harga sahamnya.

Kembali ke soal narkoba yang kini kabarnya masuk makin menggila di Indonesia adalah narkoba atau shabu yang berasal dari Timur Tengah. Shabu inilah yang merajai pasar Indonesia saat marak-maraknya pandemi terjadi.

Kenapa shabu dari Timur Tengah beredarnya makin massif di Indonesia? Jadi sebetulnya seiring dengan makin kepepetnya gerombolan-gerombolan teroris di negara-negara yang mereka kuasai. Dulu saat mereka menguasai Suriah misalnya, mereka mendapatkan biaya dari menjual minyak illegal. Jualannya ke Turki.

Bandar dari Turki, termasuk putra dan menantunya Erdogan, ikut menjadi mitra bisnis yang menampung minyak-minyak illegal dari kelompok ISIS misalnya.

Tapi sekarang kan Suriah sudah mulai dikuasai oleh tentara resmi Suriah. Jadi, gerombolan ini gak bisa lagi ngerampok. Yang tadinya buat membiayai pergerakan itu udah diambil alih.

Mereka harus putar otak dan kini kabarnya mereka memfokuskan nyari duit dari memproduksi narkoba. Istilah kerennya mereka menjalankan apa yang dikenal sebagai narkoterorisme. Menjadikan kejahatan narkoba dan terorisme dalam satu pintu.

Mereka bukan hanya memproduksi, lalu menjualnya ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Tetapi ini juga untuk dikonsumsi sendiri.

Kenapa? Wajar kalau kita melihat kelakukan mereka begitu bengis, begitu sadis dan begitu brutal. Sebab ketika mereka melakukan itu, mereka ada di bawah pengaruh narkoba. Tanpa belas kasihan, tanpa empati.

Bagi gerombolan ini menjual narkoba merupakan cara mencari uang dengan gampang. Dan sialnya Indonesia menjadi pasar yang sangat menggiurkan. Gimana gak menggiurkan, jika pengusaha muda anak konglomerat saja sudah ketagihan shabu? Seperti yang baru saja dibongkar atau ditangkap oleh teman-teman polisi dari Polres Jakarta Pusat.

Mungkin juga karena hukuman terhadap para penyelundup narkoba di Indonesia terbilang enteng. Atau sistem peradilan kita mudah masuk angin, tapi jarang dikerokin.

Kasus Nia Ramadhani dan suaminya ini bisa dibilang adalah puncak gunung es dari problem real pergerakan narkoba di Indonesia. Kini ketika kita sibuk menghadapi pandemi, para mafia dan bandar sibuk juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari celah keuntungan.

Ini yang membuat kita miris. Dan kita di Indonesia, kita menghadapi orang-orang yang mabuk narkoba. Bukan cuma mabuk narkoba, juga mabuk agama dan mabuk politik. Ulah mereka semua ini sama-sama mengkhawatirkan kita.

Dan kadang-kadang orang-orang seperti ini bisa bergandengan tangan untuk merusak semuanya. Kita harus waspada terhadap kondisi ini. Kita harus waspada terhadap gejala ini agar kita bisa menjaga anak kita dari bahaya pandemi, juga dari bahaya narkoba.

Komentar