BUKU PUTIH FPI ALA AMIEN RAIS DKK MISKIN LOGIKA DAN FAKTA

Oleh: Ade Armando

Sebetulnya saya agak was-was ketika mendengar akan ada peluncuran Buku Putih tentang kasus terbunuhnya enam anggota Laskar FPI Desember tahun lalu. Yang hadir sebagai pembicara dalam peluncuran itu adalah Amien Rais, Abdullah Hehamahua, Marwan Batubara, kolega saya di UI, Chusnul Mariyah, dan beberapa orang lainnya.

Saya khawatir karena selama ini saya percaya pada penjelasan polisi. Sehingga ketika saya dengar bahwa Amien dan kawan-kawan akan meluncurkan Buku Putih tersebut, dalam hati saya bertanya: apakah mereka memang punya bukti untuk membantah penjelasan polisi?

Bagaimana kalau ternyata Amien Rais dan TP3, yaitu Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan memiliki bukti baru yang kuat bahwa memang enam anggota pengawal Rizieq Shihab itu dibunuh secara semena-mena oleh polisi?

Saya percaya pada polisi, tapi bukankah dalam hidup kita biasa menemukan bahwa kebenaran yang kita percaya belakangan salah? Karena itulah saya dengan sengaja menyaksikan siaran YouTube peluncuran buku tersebut.

Memang dua jam lebih sih, panjang, tapi saya merasa saya harus bertanggungjawab atas bantahan yang selama ini saya lontarkan terhadap Amien dan kawan-kawan.
Saya harus mendengarkannya sendiri.

Dan sekarang saya bersyukur karena ternyata kembali terbukti Amien dan kawan-kawan sebenarnya hanya bergaya seolah-olah punya bukti tentang apa yang mereka sebut sebagai kejahatan kemausiaan oleh polisi dan rezim Jokowi.

Amien mengatakan bahwa buku ini disusun berdasarkan wawancara dengan saksi utama, dengan keluarga, dan bukti-bukti lain yang belum terungkap selama ini. Namun apa yang mereka ungkapkan selama dua setengah jam itu, sebenarnya sekadar mengulang-ulang kisah imajinatif lama.

Memang ada satu pernyataan menarik dari Amien Rais. Dia bilang secara tegas, TP3 menemukan bahwa POLRI dan TNI tidak terlibat secara institusional dalam penembakan enam anggota Laskar FPI tersebut.

Ini pengakuan penting. Dengan pernyataan ini, setidaknya isu bahwa tewasnya enam anggota FPI adalah pembunuhan terencana oleh POLRI sudah dibantah sendiri oleh Amien, padahal tuduhan ini lazim dilontarkan selama ini.

Namun demikian, pada acara ini juga, Marwan Batubara mengatakan bahwa pembunuhan dilakukan bukan hanya oleh polisi namun melibatkan kekuatan besenjata dan aparat negara lain secara sistematis. Apa yang dimaksud Marwan dengan kekuatan bersenjata dan aparat negara lain ini?

Sama sekali tidak jelas. Tapi memang harus dikatakan, bahwa ketidakjelasan adalah ciri khas keseluruhan acara peluncuran buku ini. Ada sepuluh orang bicara, tapi semua bicara dengan ketidakjelasannya masing-masing.

Namun sebelum lebih jauh, mungkin ada baiknya saya letakkan dulu peluncuran buku ini dalam konteks yang lebih jelas. Kasus yang dibicarakan adalah tewasnya enam anggota Laskar FPI pada Desember lalu.

Mereka adalah pengawal Rizieq Shihab yang menyerang petugas POLRI yang sebenarnya sedang bertugas memantau pergerakan Rizieq yang dikhawatirkan melarikan diri. Akibat serangan tersebut terjadi kontak fisik antara Laskar FPI dan polisi.

Dua anggota Laskar tewas dalam baku tembak. Empat lainnya ditembak jarak dekat di dalam mobil yang membawa mereka ke rumah tahanan, karena mereka memberontak, dan menyerang polisi yang bertugas menjaga.

Komnas HAM sendiri kemudian membantah tuduhan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat, seperti yang dikatakan TP3. Komnas HAM menyatakan tidak ditemukan adanya penyiksaan terhadap para anggota FPI.

Komnas HAM juga menyimpulkan bahwa Laskar FPI telah dengan sengaja menyerang petugas kepolisian yang berakhir pada tragedi penembakan tersebut. Namun Komnas HAM tetap meminta agar kasus ini diperiksa lebih lanjut, tanpa perlu ke Pengadilan HAM.

Karena itulah kini dua polisi yang menembak di dalam mobil itu dijadikan tersangka karena dituduh melakukan apa yang disebut sebagai unlawful killing. Jadi ada pertanyaan: apakah petugas polisi itu benar-benar harus melepaskan tembakan atau sebenarnya ada pilihan lain?

Pengadilanlah yang nanti akan menentukan. Penjelasan polisi dan Komnas HAM ini yang dichallenge oleh TP3. Mereka mengabaikan temuan Komnas HAM, dan berencana mengadu ke Dewan HAM PBB. Mereka menyatakan mereka punya bukti bahwa telah terjadi kejahatan kemanusiaan yang berat.

Yang mereka inginkan adalah Pengadilan HAM, dengan ancaman terberat hukuman mati. Mereka bahkan sudah menghadap Presiden Jokowi. Dan Buku Putih ini pada dasarnya adalah respons terhadap permintaan Jokowi agar mereka mengumpulkan bukti-bukti yang kuat yang melandasi tuduhan tentang adanya kejahatan kemanusiaan ini.

Karena itu, seperti yang saya katakan di awal, ketika saya mendengar mereka akan meluncurkan Buku Putih, saya pikir mereka akan menyajikan bukti yang diminta. Alhamdulillah, bukti-bukti itu nihil.

Okelah saya harus mengakui bahwa saya belum membaca Buku Putih itu. Yang saya ikuti hanyalah ‘peluncuran’ Buku Putih. Tapi bukankah seharusnya kalau mereka memang punya bukti bahwa enam anggota FPI itu dibunuh secara kejam, mereka seharusnya ungkapkan bukti itu dalam acara peluncuran buku ini?

Biasanya ya, dalam acara peluncuran buku, para pembicara apalagi para penulis buku akan menunjukkan bagian-bagian esensial dari Buku Putih tersebut yang selama ini dianggap penting untuk diketahui publik.

Itu yang tidak terjadi dalam peluncuran Buku Putih kali ini. Baik penulis dan pembahas berbicara ke mana-mana, mengungkapkan slogan bombastis, tanpa sedikit pun secara serius menyinggung bukti yang diharapkan.

Ya, semua sih memuji-muji buku ini. Tapi ya sekadar puji-pujian, dan lantas bicara ngalor-ngidul. Saya kasih contoh Abdullah Hehamahua, salah seorang anggota TP3. Dia bilang dalam rangka mencari fakta dia bertemu dengan keluarga salah seorang aggota Laskar FPI yang diduga menembak polisi.

Abdullah mengatakan bahwa kondisi keluarganya miskin sekali. Hidup di rumah petak sempit. Si anggota FPI itu cuma memperoleh honor Rp250 ribu per bulan. Abdullah kemudian menyimpulkan bahwa karena orang itu miskin dia tidak mungkin punya pistol. Lalu siapakah yang mungkin memberinya pistol?

Abdullah menjawab sendiri: pihak yang biasa memiliki senjata api adalah polisi atau tentara atau BIN. Karena itu mungkin sekali pistol tersebut diperolehnya dari ketiga lembaga itu. Belum berhenti di si itu, Abdullah melanjutkan spekulasinya: kalau bukan dari polisi, pistol tersebut bisa saja dibeli seseorang dari pasar gelap.

Nah, kata Abdullah, kalau ternyata itu bisa dibeli di pasar gelap, kok polisi membiarkan adanya pasar gelap? Ini kan sebenarnya mempermalukan polisi sendiri?

Terus terang, saya nggak paham dengan logika Abdullah Hehamahua ini. Bagaimana mungkin itu semua dijadikan bukti untuk menunjukkan bahwa anggota Laskar tersebut sebenarnya dibunuh secara terencana.

Kemudian ada pula Prof. Dr. Daniel M. Rosyid dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dia bilang apa yang ditulis dalam Buku Putih itu pasti kebenaran. Seorang penulis tidak mungkin menyajikan kebohongan, kata Daniel, karena itu artinya melestarikan kebohongan.

Menurut Daniel, seorang pembohong mungkin akan menyebarkan kebohongannya ke mana-mana secara lisan, tapi dia tidak akan menuliskannya dalam buku. Terus terang, saya tidak paham dengan logika berpikir seperti itu.

Tapi, alhamdulillah, cara berpikir itulah yang nampaknya mewarnai peluncuran buku ini. Saya duga, isi Buku Putih itu ya juga tidak akan beranjak jauh dari kemiskinan logika dan bukti seperti itu.

Semula saya khawatir, tapi sekarang saya semakin merasa yakin bahwa polisi dan pemerintah berada di jalur yang benar.

Komentar