DRUN, JANGAN JADI PENGACAU SAAT COVID-19!

Oleh: Eko Kuntadhi

Hari-hari belakangan ini, hampir setiap hari, saya mendengar suara dari speaker masjid mengumumkan berita duka. Di grup-grup WA juga begitu, berita sejenis berseliweran. Mengabarkan keluarga, sahabat, atau orang-orang di sekitar kita yang wafat kena Covid-19. Demikian juga wall-wall Facebook, Instagram atau di akun-akun Twitter.

Untuk mereka semua, selantun doa kita panjatkan. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagi orang yang wafat di sekitar kita.

Kita memang kaget, tingkat penularan Covid-19 ini naik sangat tajam. Padahal dua bulan lalu angka penularannya rata-rata masih 8 ribuan per hari. Kini angka itu sudah hampir tiga kali lipat, empat kali lipat.

Tapi di balik semua itu, ada berita menenangkan, biasanya ya pergerakan kurva yang naik secara eksponensial dan cepat, turunnya juga akan cepat. Istilahnya fast grow, decay fast. Mirip grafik penganten baru, cepat naik, cepat juga letoynya.

Kenapa bisa cepat letoy? Pertama karena vaksinasi di Indonesia mulai dilakukan secara massif. Target 1 juta vaksin per hari, lalu kemudian dinaikkan menjadi 2 juta vaksin per hari, dan terakhir 2,5 juta vaksin per hari, jika angka ini tercapai pada bulan Oktober nanti kayaknya kita sudah bisa bernapas sedikit lega.

Sebetulnya bukan hanya vaksinasi yang membuat grafik penularan itu bisa turun dengan tajam. Rambatan virus juga membantu terbentuknya imunitas masyarakat.

Teorinya begini. Ketika kasus melonjak, gelombang virus menyebarkan percikan-percikan kecil koloninya ke berbagai banyak orang, ke lebih banyak orang. Percikannya kecil-kecil aja. Jumlah orang yang terpercik ini pasti jauh lebih banyak dibanding mereka yang teregister sebagai kasus aktif. Bahkan, lebih besar dari mereka yang kontak erat dengan pasien positif.

Hanya saja, percikannya itu paling sedikit dosisnya, paparannya gak cukup besar. Nah, dengan percikan yang kecil inilah justru menjadi semacam antigen gratis, atau vaksinasi alamiah. Jadi dengan kondisi seperti ini akan terbentuk herd immunity di sekitar pelintasan virus. Teori ini misalnya disampaikan oleh Zoe McClaren, pakar epidemiologi dari University of Maryland, dalam sebuah tulisan opininya di NYT, April 2021.

Artinya gini ya, meski diyakini kurvanya nanti akan turun dengan cepat, tapi posisi kita sekarang sedang berada di tengah-tengah kurva yang menanjak. Pada akhir Juli atau awal Agustus mungkin saja kasus Covid-19 bisa 50 ribu sampai 80 ribuan per hari yang positif.

Nah, kalau kita kurvanya sudah menanjak kayak gini, jadi posisi ini atau suasana ini perlu dijadikan perhatian serius. Kalau kurvanya menanjak, bisa dipastikan kebutuhan pada ruangan rawat pasien dan isolasi mandiri akan meningkat drastis. Daerah-daerah juga harus menyiapkan atau mengantisipasi kemungkinan ini.

Bukankah dananya sudah disiapkan dari pusat? Jadi kepala daerah tinggal komandoi anak buahnya untuk bekerja lebih sigap dan tidak menunggu kasusnya meledak dulu. Tetapi disiapkan mulai sekarang.

Jika masih ada kepala daerah yang ngeyel, sok jago, kayaknya pemerintah pusat perlu memberikan treatment yang keras. Jalankan saja politik anggaran. Misalnya dengan menurunkan tim asistensi untuk mendampingi daerah menangani Covid-19 di wilayahnya. Budget dari pemerintah pusat arahkan ke tim ini. Jangan kasih kepala daerahnya yang ngeyel itu.

Bantuan dan penambahan tenaga medis juga sangat dibutuhkan. Pasti dong. Bisa dipastikan kita akan kekurangan nakes kalau suasananya atau grafiknya makin menuju puncak. Jadi sudah saatnya mahasiswa-mahasiswa kedokteran, mahasiswa bidang keperawatan, kesehatan lingkungan, atau kebidanan, bisa diturunkan untuk menjadi relawan membantu dokter-dokter dan perawat-perawat profesional.

Terus apalagi? Ya obat-obatan. Jangan biarkan orang mengambil kesempatan dengan menimbun obat-obatan yang diperlukan oleh pasien Covid-19. Kemarin aja Ivermectin harganya dari mungkin sekitar puluhan ribu tiba-tiba naik bisa sampai ratusan ribu. Berpuluh-puluh kali lipat. Padahal obat ini masih terus menjadi perdebatan efektivitasnya.

Yang juga harus diperhatikan adalah operasi serius ke pabrik, distributor, pedagang obat besar sampai ke apotek. Jika ada yang menimbun atau menjualnya dengan harga selangit, tangkap. Ancam mereka dengan hukuman maksimal.

Demikian juga dengan persediaan tabung oksigen atau alat medis lainnya. Jangan dibiarin ada orang atau kelompok orang memanfaatkan keterpepetan masyarakat ini untuk mendapat keuntungan ekonomis.

Itu dari sisi bagaimana penanganan teknisnya di lapangan, tetapi menjelang grafik puncak ini, yang juga perlu ditertibkan adalah gerombolan yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan politiknya, atau untuk menyebarkan rasa bencinya kepada pemerintah. Dai-dai asal jeplak, yang membentur-benturkan suasana pandemi dengan sentimen agama, kayaknya perlu ditangani secara serius juga.

Untuk sementara orang-orang seperti ini yang cocotnya sembarangan, ngomong sembarangan, kayaknya mulutnya perlu dikasih selongsong. Digembok selongsongnya. Terus kuncinya dibuang ke kali item.

Kita juga sebetulnya aneh sih, bayangin ya, di tengah suasana PPKM seperti ini, grafiknya makin meningkat, pasien Covid-19 makin banyak, Somad misalnya, malah protes dengan kebijakan penutupan rumah ibadah. Ditutupnya juga sementara. Emang sih, kalau kita perhatikan, Somad ini cuma menang gantengnya doang. Omongannya seringkali nyebelin. Sekaligus juga membahayakan bagi masyarakat atau bagi jemaahnya.

Selain itu politisi-politisi ngehek juga perlu dijewer kupingnya. Dalam alam demokrasi sebetulnya silakan saja mereka bermanuver, memainkan manuver-manuver politik. Tapi dalam kondisi kayak gini kita gak butuh manuver-manuveran lagi deh. Silakan saja bermanuver, tetapi bermanuver politik dengan risiko nyawa orang adalah perbuatan paling memuakkan bagi kita.

Yang penting juga dilihat atau yang penting juga diberikan perhatian media-media. Kalau dalam kondisi begini masih ada media yang menggonggong dengan bahasa yang provokatif, itu namanya media kurang ajar. Lakukan saja langkah serius. Misalnya instruksikan pada Kementerian BUMN agar semua BUMN dilarang masang iklan buat media-media yang seperti ini.

Pemerintah daerah juga bisa dilarang masang iklan untuk media-media seperti ini. Kenapa? Kalau mereka gak peduli dengan keselamatan publik, jangan pernah dikasih hati untuk terus menikmati operasional dari iklannya pemerintah dong.

Jadi walhasil, dalam kondisi begini yang dibutuhkan adalah komando yang tegas dari pemerintah. Kita gak butuh kekisruhan lagi. Kita butuh ketegasan yang terukur. Taruhannnya adalah nyawa ratusan ribu masyarakat.

Terus gimana peran kita di masyarakat? Kalau anda buka media sosial kita akan menemukan ulah para kadrun yang terus-menerus menyebar hoax di publik? Soal tidak tertib PPKM. Soal antivaksin. Atau isu tentang vaksin yang ada chipnya dan lain-lain. Dan ini kita hadapi sehari-hari. Nah, di sinilah peran kita.

Mereka atau orang-orang itu, selamanya akan jadi benalu yang berusaha merusak kehidupan. Itu bagian kita yang akan terus menghadapinya.

Kita hadapi mereka di media sosial. Di grup-grup WA. Atau dalam obrolan sehari-hari di masyarakat. Hadapi mereka dan jangan biarkan mereka menyebarkan droplet hoax dari jempol dan mulutnya.

Dengan melawan mereka secara langsung, berarti kita sedang membantu menyelamatkan ribuan nyawa manusia. Dengan membatasi penyebaran hoax mereka, berarti kita sedang menyelamatkan ribuan nyawa tetangga-tetangga kita. Termasuk nyawa keluarga kita sendiri.

Jadi ini saatnya kita bergandengan tangan. Bersatu. Tidak ada cara lain selain kita menghadapi suasana ini dengan tetap rasional dan hati yang dingin, sambil terus-menerus menyebarkan informasi baik kepada masyarakat. Itu menurut saya yang paling penting.

 

Komentar