PERUSAKAN KUBURAN DI SOLO, SINYAL BAHAYA PERILAKU INTOLER4N PADA ANAK-ANAK

Oleh: Syafiq Hasyim

Peristiwa yang membuat hati kita nelongso datang dari Solo. Ada sejumlah anak, rata-rata berumur di bawah usia 12 tahunan, merusak pemakaman orang yang berbeda agama. Jumlah makam yang dirusak tidak hanya satu atau dua, namun mencapai puluhan. Pada satu sisi, kita sadar bahwa tindakan ini masih dilakukan oleh anak-anak, namun pada sisi yang lain, tindakan seperti ini berbahaya, justru karena yang melakukannya adalah anak-anak.

Kejadian ini sebenarnya sama sekali tidak diinginkan oleh siapa saja, termasuk orang tua mereka, namun apa kata hal itu benar-benar terjadi. Apa hal yang menyebabkan sampai anak-anak melakukan tindakan perusakan makam beragama lain? Apakah ini inisiatif murni yang datang dari pemikiran mereka sendiri atau merupakan suruhan atau ajaran orang lain? Apakah ini ada kaitannya dengan hasil indoktrinasi sebuah paham atau bagaimana?

Sudah barang tentu pihak berwajib sedang mempelajari motif apa dibalik peristiwa itu dan kita menunggu hasilnya. Semoga pihak berwajib bisa mengungkapkan motif apa yang benar-benar terjadi di balik itu semua.

Jika boleh berefleksi, menggunakan anak untuk melakukan perbuatan yang memiliki motif kekerasan berbasis keagamaan bukan hal baru di dunia ini. Menggunakan anak-anak memang hal yang sangat potensial dan memungkinkan. Usia mereka masih sangat dini mudah sekali dijejali dengan informasi-informasi baru, apalagi yang bersifat doktrinal.

Penggunaan anak sebagai sarana atau senjata peperangan menurut Unicef mengalami kenaikan dari masa ke masa. Menurut data Unicef, di dunia ini ada sekitar 27 juta anak yang dipaksa keluar sekolah untuk berperang. Mereka ini menjadi target dan juga sekaligus terekspose dengan kekerasan.

Pada tahun 2017, organisasi Boko Haram (kaum militan di Nigeria) menggunakan 135 anak untuk menjadi pelaku bom bunuh diri (suicide bombers). Hal ini mengalami 5 kali peningkatan dari tahun sebelumnya, tahun 2016.

Di Simolia, pada 2017, ada sekitar 1.800 anak yang direkrut untuk terlibat dalam perang. Di Sudan Selatan, anak-anak dikerahkan juga untuk menjadi pasukan perang (army group), sejak 2013. Jumlahnya tidak sedikit, ada sekitar 19.000-an.

Bagaimana dengan ISIS? Menurut sebuah laporan, anak yang terlibat dengan ISIS sebagai generasi pelanjut mereka berjumlah sekitar 10.000 yang tersebar di Syiria dan Iraq. Menurut film pendek PBS, Children of ISIS, anak-anak ini mengaku bahwa mereka memang dilatih untuk berperang. Di kamp-kamp ISIS mereka diajarkan hanya dua hal, listening and obeying, mendengarkan dan mematuhi.

Pengakuan anak-anak ISIS, mereka memang dilatih untuk berkomitmen pada kekerasan. Bahkan kekerasan seperti membunuh orang kafir adalah hal yang memang benar-benar ditekankan kepada mereka. Mereka ini diajak menonton video-video di mana di dalam video-video itu anak-anak menjadi pelaku bom bunuh diri. Mereka, anak-anak ISIS ini, tidak hanya diajak nonton sekali, namun berkali-kali, sampai timbul keinginan mereka untuk melakukan hal yang sama dan serupa sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak yang mereka tonton di dalam video, yakni membunuh.

Pekerjaan seperti yang ISIS lakukan tidak bisa terjadi kecuali melalui indoktrinasi. Menurut pengakuan anggota ISIS, mereka bisa menjadikan anak-anak berjihad karena mereka melakukan indoktrinasi yang intensif pada mereka. Jadi, usaha mereka memang benar-benar dilatarbelakangi oleh keyakinan dan motif yang sangat kuat, sehingga tidak ada kata mundur bagi anak-anak itu untuk tidak melaksanakan perintah membunuh dari ISIS.

Jumlah-jumlah yang saya sebutkan di atas itu baru sebagian. Masih masih banyak lagi yang terjadi di tempat-tempat yang lain.

Kita sudah barang tentu tidak mau memiliki anak-anak yang terdoktrin seperti children of ISIS. Namun bagaimana kita bisa agar anak-anak kita terhindar dari nasib seperti children of ISIS, jika dari kita semua tidak memberikan perhatian saksama bagi mereka ini. Apalagi jika masih ada di antara kita yang berpikir jika peristiwa dengan anak-anak di atas yang merusak makam itu merupakan peristiwa yang biasa saja, sebagai perbuatan anak-anak.

Akhirnya, orang-orang ini lalu menganggap anak-anak masih jauh dari kondisi anak-anak di Nigeria, Somalia, Syiria dan lain sebagainya. Bahkan jika masih ada anggapan jika memperhatikan sikap intoleran anak-anak dianggap sebagai upaya peneguhan atas sikap pemerintah saat ini yang mereka anggap anti perbedaan.

Segala sesuatunya memang bermula dari kecil. Tidak ada sejarah kelompok besar yang dimulai dari besar. Pasti segalanya dari jumlah yang kecil. Katakanlah peristiwa anak-anak di Solo ini memang hal kecil, lalu apakah yang kecil ini tidak diperhitungkan agar mereka nanti tidak akan menjadi besar.

Perhatian pada peristiwa anak-anak di Solo yang merusak makam orang Kristen ini bukan hanya penting, namun kita juga bisa mengungkap siapa yang berada di balik mereka. Sebagai anak-anak, mereka tidak akan memiliki ide merusak makam orang yang berbeda agama tanpa ada pihak yang mengajarkannya atau mendoktrinnya.

Anak-anak kita adalah anak-anak yang setiap saat masih berada di lingkungan keluarga mereka. Pasti, jika ada hal ganjil yang menimpa mereka, mereka akan segera mendapatkan peringatan dari orang tua mereka. Artinya, secara normal, jika ada sikap intoleransi yang terjadi pada anak kita, itu masih dengan sangat mudah untuk diingatkan.

Ini sebenarnya yang saya maksud agar kita benar-benar memberi porsi dan perhatian pada peristiwa-peristiwa kecil yang mengindikasikan sikap intoleransi mereka, maka kita masih dekat untuk merengkuh dan memeluknya. Kita tinggal mencari aktor di balik anak-anak itu. Aktor-aktor ini bisa ditemui di sekolah, di pondok-pondok, atau di tempat-tempat lain. Early warning adalah hal yang lebih mudah dan murah bagi kita, dibandingkan menunggu mereka benar-benar tumbuh di lingkungan yang intoleran.

Sebagai catatan, kita semua tahu bahwa kita sudah masuk jangkauan ISIS dan juga gerakan-gerakan ekstremis lainnya. Anak-anak adalah masa depan kita dan kita tidak mau jika anak-anak kita tumbuh di lingkungan pendidikan, guru dan orang tua yang intoleran. Riset-riset nasional kita juga sudah mengindikasikan lama jika radikalisme dan terorisme sudah merambah dan menarget anak-anak.

Sekali lagi, semoga kita tidak sampai ke arah itu, namun sekadar berhati-hati dan waspada adalah hal yang sangat penting bagi kita.

Komentar