MALU-MALUIN, ANIES MINTA DONASI KE DUBES ASING

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Sebuah surat berlogo Pemda DKI Jakarta, beredar di publik. Isinya berupa permintaan bantuan dari Pemda DKI kepada para Duta Besar negara-negara sahabat yang berkantor di Jakarta, untuk memenuhi segala perlengkapan yang dibutuhkan Rusun Nagrak Cilincing, sebagai lokasi yang akan diperuntukkan untuk penanganan pasien Covid-19 di Jakarta.

Kalau minta bantuan model begini, kesannya kok payak ormas preman minta jatah THR ke perusahaan menjelang lebaran. Apalagi disampaikan kepada perwakilan kedutaan asing di Jakarta. Malu, sih.

Emang sih, jumlah pasien Covid-19 di Jakarta peningkatannya paling pesat. Sehari bisa menembus 9 ribu orang lebih yang positif.

Kapasitas RS darurat Wisma Atlet sudah hampir penuh. Hal yang sama juga terjadi di RS-RS rujukan di Jakarta. Sementara pasien terus berdatangan. Dibutuhkan lokasi baru untuk menampung limpahan pasien ini.

Dipilihlah Rusun Nagrak Cilincing sebagai lokasi baru RS darurat Covid-19, sekaligus sebagai lokasi isolasi mandiri. Rencananya bisa menampung 5.000 pasien baru.

Sayangnya yang ada di Rusun Nagrak hanya ruang kosong belaka. Gak ada tempat tidur. Gak ada meja kursi. Gak ada sapu. Gak ada kain pel. Boro-boro kulkas dan TV.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan itulah Pemda DKI ngocrek-ngocrek ke kedutaan asing minta sumbangan. Melalui surat yang beradar di masyarakat sekarang.

Sialnya, surat itu membuktikan bahwa Pemda DKI memang tidak punya rencana utuh penanganan Covid-19 di daerahnya. Mereka selalu teriak kekurangan anggaran.

Padahal dibanding daerah lain, APBD DKI tergolong paling besar. Dan untuk anggaran 2021 ini, pembahasan APBD dilakukan pada 2020. Sudah masuk zaman Covid-19. Mestinya alokasi anggaran untuk penanganan bencana juga disediakan maksimal.

Lha, ini. Hanya untuk mengisi tempat tidur dan peralatan di Rusun Nagrak saja, sudah ngecrek-ngecrek minta sumbangan.

Padahal, berapa sih, kebutuhan pengisian 5.000 ruangan untuk Rusun Nagrak itu?
Katakanlah untuk pengadaan tepat tidur, kain pel, dispenser, atau kipas angin setiap ruangan butuh biaya Rp10 juta. Kalau 5.000 ruangan, artinya hanya butuh Rp50 miliar doang.

Bandingkan misalnya dengan dana yang digelontorkan untuk mengecat jalan, buat jalur sepeda. Dari 73 kilometer jalur sepeda yang dicat, Jakarta menghabiskan dana sampai Rp73 miliar.

Atau bandingkan dengan pembayaran DP Formula E yang gak jelas juntrungannya itu. Pemda DKI sudah keluar duit Rp560 miliar. Padahal, kita gak tahu, Formula E jadi digelar apa gak. Wong pandemi makin marak begini.

Atau coba saja bandingkan dengan dana hibah yang digelontorkan buat ormas. Total dana hibah yang disalurkan pemda DKI pada 2019 saja mencapai Rp2 triliun.

Lha, sekarang. Untuk menanganan Covid-19, Pemda DKI harus setengah mengemis pada kedutaan asing. Minta dibantu pengadaan tempat tidur di rumah susun. Apa gak malu-maluin?

Kayaknya bukan hanya soal pengisian Rusun Nagrak ini yang memang Jakarta gak mau keluar duit. Kita juga ingat saat pemerintah berencana menggelontorkan bansos buat penduduk Jakarta. Kesepakatan awalnya, dari 3,7 penduduk yang jadi sasaran Bansos, 1,1 juta peserta dananya mau ditangung dari kocek Pemda DKI Jakarta.

Eh, pas dilaksanakan. Ternyata Pemda DKI gak mau keluarin duit. Entah ada anggarannya apa gak. Akhirnya terpaksa semua dana bansos di DKI ditanggung pemerintah pusat.

Emang kalau soal ngeluarin duit buat kebutuhan penting ini, Jakarta kok kesannya ribet banget. Padahal kalau keluarin duit buat hal-hal gak penting, kok kayaknya main sret, sret, sret aja gitu. Tetiba sekian triliun aja jumlahnya.

Anies sendiri selama pandemi ini, emang gak banyak kedengaran kiprahnya. Ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sedang sibuk berjibaku dengan peningkatan Covid-19 di wilayahnya, misalnya. Anies malah enak-enakan foto panen padi di Sumedang. Kayaknya di mata Anies, nyawa rakyat karena Covid-19 gak lebih penting dari ambisi politiknya pada 2024.

Lagian, yang mengherankan, kepada Jakarta harus repot-repot minta donasi dari kedubes asing. Coba kerahkan Somad atau Adi Hidayat. Mereka ini jago banget kalau soal ngumpulin donasi. Gunakanlah produk-produk dalam negeri…

Komentar