GILA! GURU BESAR KHIL4F4H TUDING COVID-19 SEBAGAI SENJATA PEMUSNAHAN MASSAL!

Oleh: Eko Kuntadhi

Pandemi Covid-19 kali ini sedang ada di puncaknya di Indonesia. Satu hari bisa 21 ribu orang yang dinyatakan positif. Sebagian kita agak cemas dengan kondisi seperti ini. Tapi bagi sebagian orang lain, ini adalah momentum untuk menyebar fitnah.

Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) ada orang yang namanya Prof. Dr. Daniel M. Rosyid. Ia dikenal sebagai pendukung khilafah yang sangat gigih. Mimpinya mewujudkan pemerintah Indonesia berbasis syariah. Dengan di bawah naungan khilafah. Dalam salah satu artikel di media online, Daniel ini berceloteh dengan penuh prasangka.

Baca aja, judulnya artikel itu adalah, “Rezim Manfaatkan Covid-19 Sebagai ‘Senjata Pembunuh Massal’.

Daniel terang-terangan menuturkan, kematian akibat Covid-19 yang kini masih rendah di Indonesia, katanya diam-diam akan dinaikkan. Pernyataan ini saja mengandung tuduhan serius. Daniel terang-terangan menuding pemerintah seperti membunuhi rakyatnya sendiri dengan Covid-19.

Bukan hanya itu, ia juga menuding vaksinasi Covid-19 yang kini sedang digalakkan pemerintah adalah cara untuk merusak tubuh manusia dengan menginjeksi material genetik.

Lalu, seperti biasanya omongan gerombolan HTI, dia memberi penekanan dengan mengait-ngaitkan isu ini dengan agama. Katanya, Covid-19 sebagai senjata pembunuh massal ini harus segera dihentikan.

Muslim muda Indonesia telah dipaksa menjauhi masjid, tidak berjabatan tangan, dipaksa menjaga jarak dan bermasker, yang menderita kata Daniel adalah kelompok warga negara muda yang paling dirugikan. Dan semuanya umat Islam.

Tentu saja kita dengarnya gondok setengah mati. Emangnya yang kena Covid-19 itu cuma orang Muslim doang? Emangnya yang meninggal akibat Covid-19 itu cuma orang Muslim doang?

Di India yang Hindu, jumlah yang meninggal karena Covid-19 jauh lebih banyak dari Indonesia.

Dengan omongannya yang mengada-ada ini, saya kok mikirnya, Daniel iya, mungkin dia Guru Besar. Tapi kayaknya itunya gak terlalu besar –maksudnya pemahamannya tentang kondisi pandemi yang terjadi sekarang itu kecil banget.

Ia lebih suka mengembangkan kecurigaan tanpa bukti, ketimbang melihat masalah secara jernih.

Pikiran Daniel ini khas Kadrun banget. Yang penting curiga dulu, data belakangan.

Tapi sebetulnya kita gak perlu kaget jika Guru Besar sekelas Daniel ini gigih membela khilafah dengan cara melempar berita-berita fitnah dan kebohongan yang terus-menerus.

Lembaga seperti HTI, Hizbut Tahrir Indonesia, memang memiliki lajnah-lajnah khusus, atau semacam strategi perekrutan yang ditujukan pada golongan-golongan tertentu. Hal ini dilakukan agar proses perekrutan lebih fokus menyasar sasarannya.

Misalnya nih ya, ada lajnah yang mengurusi perekrutan khusus selebritis dan influencer. Kita tahu, orang seperti rocker almarhum Hari Mukti atau ya mungkin Arie Untung kayaknya sudah dekat-dekat ke sana tuh.

Ada juga lajnah yang mengurus perekrutan militer dan Polri, kita mengenalnya dengan Lajnah Thalabun Nusrah.

Ada lajnah yang khusus menyusup ke lembaga-lembaga pemerintahan untuk merekrut para petinggi negara, anggota DPR, anggota MPR, MA, BPK, dan lain-lain. Ini mereka sebut sebagai Lajnah Faaliyah. Ada lajnah juga yang merekrut para aktivis muda.

Dan lajnah yang fokus merekrut para cendikiawan kampus ini juga ada di HTI. Nah, orang kayak Daniel M. Rosyid ini adalah salah satu bukti hasil perekrutan HTI. Mereka diarahkan untuk menjadi corong pembela khilafah dengan gigih. Dengan backgroundnya sebagai dosen, sebagai pengajar, mereka seperti mendapat stempel untuk dipercayai publik.

Salah satu pola propaganda khilafah adalah dengan menyebarkan fitnah kepada pemerintahan yang non-khilafah karena dianggap sebagai musuhnya. Harus ditumbangkan. Jangan kaget jika orang seperti Daniel tega-teganya bilang bahwa Covid-19 adalah senjata pemusnah massal pemerintah untuk membunuh rakyatnya sendiri yang beragama Islam.

Untuk menyebarkan fitnah, bagi Daniel tidak perlu harus rasional. Yang penting omongannya didengar publik, wong profesor. Tujuannya menggambarkan bahwa semua pemerintahan selain khilafah itu buruk.

Di ITS bukan hanya Daniel M. Rosyid yang dikabarkan terpapar ideologi khilafah. Ada juga Andi Rahmadiansyah ST, MT dan Loekman Nurochim Phd. Keduanya bersama Daniel, dikenal sebagai orang yang membela khilafah secara gigih.

Bukan hanya ITS atau Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, gerakan HTI juga menyusup ke banyak kampus lain. Kita kenal ada Prof. Suteki (Undip) dan Asep Agus Handaka (Unpad). Kalau ingat berita, Asep ini malah pernah diangkat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unpad. Untung saja, pada saat proses pengangkatan Asep diprotes. Kenapa? Karena dia dikenal sebagai bagian dari HTI. Akhirnya Asep hanya sempat 3 hari duduk di jabatannya.

Di IPB, ada yang namanya Prof. Fahmi. Nah, Fahmi ini yang dikabarkan menjadi koordinator HTI Lajnah Perekrutan Cendikia di Kampus-Kampus. Artinya para Guru Besar, Dosen dan Cendikiawan kampus yang berafiliasi kepada HTI berada dalam koordinasi Fahmi ini.

Meski pemerintah sudah membubarkan dan melarang HTI berada di Indonesia, tapi bisa dipastikan sel-selnya masih terus aktif bergerak. Mereka selalu memprovokasi publik, mereka selalu membuat pernyataan-pernyataan, meskipun isinya fitnah untuk menjelekkan sistem pemerintahan kita.

Sebab tujuannya, ya itu, mengganti sistem yang sudah bagus ini dengan sistem khilafah. Masalahnya, di dunia saat ini, gak ada satu bukti pun, ada negara modern yang menganut sistem khilafah mampu memberikan kesejahteraan dan kedamaian pada rakyatnya.

Yang ada malah ancur-ancuran semua. Jadi sangat gak layak dijadikan tujuan.

Secara rasional, buat apa kita ingin membangun sebuah sistem yang buktinya aja belum ada. Malah yang ada sebaliknya bukti kerusakannya.

Tapi begini ya, HTI memang sudah dibubarkan. Sementara para cecunguknya terus saja bergerak. Sesungguhnya mereka inilah para perusak Indonesia. Dan orang seperti Daniel tega-teganya bilang bahwa pemerintah Indonesia membunuhi rakyatnya sendiri dengan Covid-19. Ini kan kurang ajar namanya. Kita harus sadar pola komunikasi mereka, pola agitasi mereka dan kita harus menjaga Indonesia.

Sebab ini Indonesia kita. Kitalah yang harus menjaganya!

Komentar