Eko Kuntadhi: VONIS 4 TAHUN PENJARA, RIZIEQ JADI RESIDIVIS!

Bletak. Palu hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur udah diketuk. Rizieq Shihab diputus 4 tahun penjara pada kasus pelanggaran Protokol Kesehatan di RS. Ummi, Bogor. Putusan itu sendiri sudah didiskon 2 tahun dari tuntutan Jaksa.

Jaksa nuntutnya enam tahun penjara. Seperti biasa, Rizieq melawan. Ia tidak terima diputus penjara 4 tahun itu.

Sebelumnya Rizieq juga sudah diputus bersalah atas kasus kerumunan di Petamburan dan di Megamendung. Untuk kerumuman di Petamburan dia dihukum 8 bulan penjara. Sementara untuk kerumunan di Megamendung Rizieq divonis denda Rp20 juta.

Tentu saja setiap keputusan itu membuat pengikut Rizieq berang. Kaum penyembah baliho ini beranggapan Imam besarnya adalah sejenis makhluk suci yang gak pernah salah. Makanya, setiap kali disidang, mereka ramai-ramai protes.

Yang paling seru adalah, atas kesalahan-kesalahan Rizieq ini, yang sudah terang-benderang mereka menuding bahwa ini adalah permainan pemerintahan Jokowi. Jadi dianggap ini adalah sidang politik.

Padahal ya, padahal jauh sebelum Pak Jokowi jadi Presiden, Rizieq memang sudah langganan dengan berbagai pelanggaran hukum. Jadi bukan karena siapa Presiden Indonesia sekarang, tetapi lebih disebabkan karena perilakunya Rizieq yang memang sering mentang-mentang itu.

Pada tahun 2003, misalnya, ia diputus 7 bulan penjara karena dianggap sebagai orang yang menghasut dan melawan petugas, yang berakibat pada pengrusakan beberapa tempat hiburan di Jakarta.

Gak cukup sampai di situ. Tahun 2008 Rizieq juga divonis 1 tahun 6 bulan, karena terbukti menghasut dan memprovokasi pengikutnya. Akibatnya apa? Akibatnya pada saat itu terjadi penyerangan dan penganiayaan pada sekelompok massa di Monas.

Artinya jauh sebelum Jokowi naik jadi Presiden RI, orang seperti Rizieq ini sudah langganan bolak-balik masuk penjara. Istilah kerennya dia ini residivis.

Jadi jika sekarang ia harus dituntut dan masuk penjara lagi, hal itu sama sekali gak ada hubungannya dengan kekuasaan pemerintah saat ini. Itu semata-mata karena perilakunya yang aduhai.

Saya bilang aduhai, karena cara berpikirnya emang aneh. Coba saja, dalam pledoi pembelaannya yang dibacakan Rizieq dalam kasus ini. Isinya lucu dan aneh. Perlu diingat ya, kasus yang menimpanya sekarang itu adalah pelanggaran protokol kesehatan.

Tapi coba dengar apa yang dibacakan Rizieq dalam pledoi pembelaannya di depan hakim? Dalam pembelaannya dia gak bicarain sama sekali kasusnya. Yang dia bicarain adalah hal-hal lain. Rizieq membawa banyak sekali nama dalam pledoi pembelaannya. Mulai dari Jokowi, Tito Karnavian, Budi Gunawan, Ahok, sampai menyeret-nyeret nama Denny Siregar dan Ade Armando.

Lo bayangin, apa hubungannya Denny sama Ade dengan Covid-19? Kan jauh banget.

Tentu saja, nama Firza gak akan diseret dalam pledoinya itu. Itu mungkin nanti untuk urusan persidangan yang lain.

Rizieq ingin menarik kesimpulan bahwa persidangannya ini adalah persidangan politik. Bukan persidangan soal pelanggaran protokol kesehatan. Bahwa ia ditangkap karena ia sering beroposisi terhadap pemerintahan Jokowi.

Padahal sebelum zaman Jokowi tadi, ia juga sudah langganan masuk penjara. Sejak dulu, setiap kali Rizieq dimintakan konsekuensi hukum atas tindakannya dan perilakunya. Para pegikutnya akan selalu membela mati-matian. Demikian juga pada hari ini.

Di depan gedung pengadilan Jakarta Timur, tempat sidang Rizieq digelar, massa pendukungnya datang berbondong-bondong. Mereka gak peduli terhadap kondisi Covid-19 Jakarta yang sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka membuat kerusuhan di sana.

Alhamdulillah, polisi berhasil bertindak cepat. Ratusan orang diamankan. Dan keputusan hakim yang sudah diketuk bletak tadi harus ditegakkan terhadap seorang tersangka.

Jika melihat peserta demo yang meramaikan sidang rizieq ini, agak sulit membayangkan bahwa ini adalah gerakan spontan. Para laskar datang dari luar Jakarta. Sebagian dari Banten, Sukabumi, Bogor, Tangerang. Gerakan massa sebanyak itu, yang dari tempat yang jauh geruduk ke Jakarta agak sulit kalau mereka bergerak spontan dan atas biaya sendiri. Saya yakin ada yang membiayai di belakangnya.

Tapi okelah, kita gak membicarakan siapa yang biayai. Hari ini, putusan hakim sudah diketuk. Rizieq dihukum 4 tahun penjara. Tentu saja ini bukan palu hakim yang terakhir buat orang seperti Rizieq.

Setelah kasus pelanggaran protokol kesehatan ini, masih ada kasus-kasus lain yang antri untuk disentuh.

Kita harus sabar menunggu. Kasus chat mesum, misalnya, kini resmi dibuka lagi. Tinggal kita tunggu bagaimana persidangannya. Kita gak tahu nanti, bagaimana Rizieq akan memperlihatkan kepiawaiannya di depan majelis hakim dalam kasus chat mesum.

Selain itu ada juga berbagai kasus penghinaan. Penghinaan pada agama Kristen. Penghinaan pada masyarakat Sunda. Penghinaan pada Proklamator Soekarno. Dan berbagai kasus lain, yang awalnya dimulai dari bacotnya yang dol.

Jadi, jika hari ini Rizieq diputus 4 tahun penjara. Itu bukan sesuatu yang aneh. Ia memang residivis. Bolak-balik masuk penjara. Kalau kita perhatikan, kasusnya rizieq selalu berputar karena disebabkan keliaran mulutnya –provokasi dan suka berbohong.

Dan yang kedua karena kenakalan “adiknya”, yang dibantu dengan kelincahan jempolnya.

Iya kan, Kak Emma?

Komentar