AKHIRNYA RIZIEQ HARUS DIPENJARA 4 TAHUN!

Oleh: Ade Armando

 

Alhamdulillah. Rizieq Shihab akhirnya divonis masuk penjara 4 tahun. Kita tentu berharap vonis ini bukan saja akan memberikan efek jera terhadap Rizieq namun juga pada siapapun orang di Indonesia ini yang berniat menyebarkan kebencian dan permusuhan atas dasar agama.

Keputusan hukum ini merupakan sebuah tanda jelas bahwa negara saat ini tidak akan lagi bermain-main dengan kelompok-kelompok radikal dan ekstrem. Sudah terlalu lama negara ini diteror oleh kelompok-kelompok pemecah belah bangsa. Mereka sudah lama menyebarkan ketakutan dan kebencian.

Untuk waktu yang lama, rakyat berharap negara hadir untuk mencegah kehancuran Indonesia. Kini, doa rakyat dipenuhi. Kita misalnya baru saja mendengar bahwa di Mesir, para aktivis organisasi islam Ikhwanul Muslimin dihukum mati.

Rezim militer di sana menganggap ketika organisasi ini berkuasa, mereka mengancam sendi-sendi kebangsaan Mesir. Ikhwanul Mulsimin melakukan teror, menindas kaum minoritas, dan berusaha mengubah landasan negara. Karena itu mereka harus mati.

Di Indonesia, kita tentu berharap bahwa hal serupa jangan terjadi. Kecuali mungkin kaum teroris yang memang membunuhi warga, kelompok-kelompok radikal di Indonesia tidak perlulah dihadapi dengan kekerasan fisik. Tapi kelompok-kelompok ini harus tahu bahwa gagasan mendirikan negara Islam, mendirikan negara agama, menerapkan syariah, menindas kaum minoritas tidak mendapat tempat.

Mereka harus tahu bahwa tidak ada ruang sedikit pun di negara bagi mereka. Dan untuk itu harus ada sinyal yang jelas dari pemerintah.

Sebelum ini pemerintah sudah mengambil langkah-langkah yang tegas dan berani. Pemerintah sudah membubarkan HTI. Membubarkan FPI. Menangkap Munarman. Menangkap dan mnghukum para ustaz yang terus-menerus menyebarkan kebencian dan hoax.

Kini giliran Rizieq. Dalam kasus terakhir ini, Rizieq dinyatakan bersalah karena telah menyebarkan kabar bohong yang dapat menimbulkan keonaran. Ancaman pidana maksimal terhadap pelanggaran Pasal 14 ayat 1 UU tentang Peraturan Hukum Pidana adalah 10 tahun.

Jaksa menuntut 6 tahun. Kini Hakim memutuskan 4 tahun. Ini adalah perkara ketiga yang disidangkan dalam waktu beberapa bulan terakhir. Rizieq sudah dinyatakan bersalah karena kerumunan di Petamburan.

Dalam kasus itu dia divonis 8 bulan penjara. Kemudian dalam kasus kerumunan di Megamendung Bogor, dia divonis membayar denda Rp20 juta rupiah.

Kini Rizieq kembali disidang karena menyebarkan berita bohong terkait status positif virus corona di RS Ummi, Bogor. Menurut Jaksa, penyebaran kabar bohong melalui video di media sosial itu dapat menciptakan keonaran.

Kasusnya bermula ketika pada 25 November Rizieq dirawat di RS Ummi usai pulang dari Arab Saudi ke Indonesia. Sejak awal banyak pihak sudah menduga bahwa ia mungkin sudah terkena Virus Corona karena ia memang hadir di banyak kerumunan dalam acara-acara penyambutan terhadap dirinya.

Namun dugaan tersebut terus ditampik. Ketua Umum Persaudaraan Alumni atau PA 212 Slamet Maarif menyebut Rizieq hanya sebatas melakukan pengecekan kesehatan. Direktur Utama RS Ummi juga menyatakan Rizieq hanya kelelahan.

Di RS, Rizieq juga menjalani tes swab PCR. Hasilnya, menurut RS, Rizieq tidak terkena Covid-19. Cerita jadi lain ketika Satgas Pananganan covid-19 bersama Walikota Bogor Bima Arya datang ke Rumah sakit dan meminta RS melakukan test swab ulang. Test dilakukan tapi kemudian Rizieq mengirim surat keberatan atas permintaan publikasi hasil tes swab.

Hasil tes antigen covid-19 terhadapnya sebenarnya menunjukkan reaktif virus corona. Tapi melalui sebuah video yang diunggah di kanal YouTube RS Ummi Official, Rizieq mengaku dia sehat-sehat saja.

Setelah mengaku sehat dia kemudian meninggalkan RS Ummi dan keluar melalui pintu belakang rumah sakit. Kaburnya Rizieq ini pun tidak diketahui Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor.

Jadi Rizieq itu diangap bersalah bukan hanya karena dia berbohong. Yang jadi masalah, kebohongan yang dia sebarkan itu dapat membuat pengikutnya menyangka imam mereka sehat-sehat saja, sehingga ketika Satgas Penanganan Covid-19 hendak mengkarantinakannya, tindakan itu diangap sebagai bukti negara ingin menghabisi Rizieq.

Ini adalah sebuah kebohongan yang berpotensi mendorong perlawanan kolektif dari jemaat Rizieq. Dan para pendukung Rizieq adalah kaum yang tidak segan-segan membuat kerusuhan. Karena itulah pasal yang dikenakan oleh Jaksa adalah pasal penyebaran kebohongan yang dapat menimbulkan keonaran.

Pertanyaannya tentu saja: Apakah Rizieq pantas dihukum 4 tahun atas kebohongan itu? Tentu saja kita bisa berbeda pandangan dalam hal ini. Yang jelas jaksa dan hakim tidak mengada-ada. Pasal yang dilanggarnya memang ada, dan ancaman hukumannya pun memang berat.

Saya sendiri akan berada di kubu yang mendukung pemenjaraan Rizieq. Buat saya, kepantasan vonis tersebut sangat ditentukan oleh alasan dan konsekuensi yang ditimbulkan oleh keputusan tersebut.

Buat saya memenjarakan Rizieq selama empat tahun adalah sesuatu yang baik bagi masyarakat secara luas. Rizieq adalah ancaman buat Indonesia. Selama belasan tahun dia sudah menjadi imam besar yang perintah-perintahnya bisa memakan korban nyawa dan fisik.

Dia adalah imam besar yang memimpin teror terhadap kaum minoritas, umat Kristen, kaum Tionghoa, kaum yang berpikiran berbeda. Dan sebenarnya pelanggaran hukum yang sudah dia lakukan jauh lebih besar daripada sekadar menimbulkan kerumunan di masa pandemi atau menyebarkan kabar bohong yang bisa menimbulkan keonaran.

Dia jelas-jelas kok menyuarakan revolusi. Dia jelas-jelas kok menyebarkan fitnah dan sumpah serapah. Bahkan di saat pengadilan pun dia masih bisa-bisanya menyebarkan fitnah dan kebohongan. Dia sudah berulangkali diadukan ke pengadilan. Dia jelas menghina Kristen.

Jadi sebenarnya seharusnya dia dibawa ke pengadilan berulangkali di luar kasus kerumunan dan kebohongan di mana sekarang dia sudah divonis. Saya heran mengapa kasus-kasus itu tidak ditindaklanjuti. Tapi karena itu pula, buat saya, kalau akhirnya Rizieq sekarang dipenjara 4 tahun karena urusan bohong tentang penyakitnya sehingga berpotensi menimbulkan keonaran, itu adalah putusan yang pantas.

Saya tidak sedikit pun merasa bahwa keputusan itu melanggar rasa keadilan. Negara memang harus hadir menghadapi ancaman kehancuran bangsa yang diakibatkan kelompok-kelompok yang berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara Islam yang diatur oleh hukum Islam dan diatur oleh pemimpin-pemimpin Islam.
Dan memenjarakan Rizieq adalah bagian dari perang besar itu.

Komentar